HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 91: Membantu Kevin



Di saat Kevin dan Ryan berbincang, Andreas melihat Tio yang sedang membeli minuman di mesin penjual otomatis. Andreas pun memanggilnya.


“Oii Tio, sini!” Panggil Andreas.


Aku yang sedang memilih minuman yang ingin kubeli menoleh ke arah orang yang memanggilku. Ternyata Andreas yang memanggilku tadi.


“Oh sebentar, aku masih memilih-milih.” Jawabku.


Aku segera memilih minumannya karena dipanggil oleh Andreas, namun pilihan hari ini tidaklah banyak.


Klotakk.. (Suara minuman jatuh)


Minuman yang aku pilih keluar dari mesin. Entah kenapa pilihan hari ini sangatlah sedikit dan hanya tersisa minuman yang rasanya aneh-aneh. Akhirnya aku memutuskan untuk membeli teh hijau untuk amannya. Karena tadi aku dipanggil oleh Andreas, aku mengambil minumanku dan langsung menghampirinya.


Ketika aku berjalan menuju tempat Andreas, ada 2 gadis berlari melewatiku. Aku hanya sedikit menoleh melihat mereka pergi.


“Siapa mereka?” Tanyaku.


“Oh gadis yang tadi? Mereka dari klub tenis. Mereka ingin mengajukan peralatan baru.” Jawab Kevin sambil memperlihatkan surat di tangannya.


Ternyata gadis tadi memiliki urusan dengan Kevin mengenai klub, ya memang sudah tugasnya begitu. Namun ketika aku ingin duduk, aku melihat ada 2 raket besar di dekat Kevin


“Oohh.. Lalu raket ini?” Tanyaku lagi.


“Ini untuk diperbaiki. Karena jika suatu barang masih bisa diperbaiki, itu akan lebih baik untuk menekan pengeluaran berlebih.” Lanjut Kevin menjelaskan.


“Begitu rupanya, maaf aku masih belum terbiasa menjadi anggota OSIS.” Balasku.


“Tidak apa-apa, lagipula karena bidang ini bukan bagianmu jadi wajar jika kamu tidak terlalu paham.” Kevin memaklumi.


Aku hanya bisa mengangguk mendengar Kevin berbicara. Aku kemudian duduk di samping Kevin lalu membuka minuman yang aku beli tadi.


“Oh iya, dari mana kamu tadi?” Tanya Andreas padaku.


“Aku baru saja berkeliling. Hari ini sangat panas jadi aku mampir ke sini untuk membeli minuman.” Jawabku.


Aku menjawab Andreas sambil meminum minumanku. Aku sudah sangat haus karena kepanasan, entah perasaanku saja atau memang hari ini yang begitu panas.


“Kamu masih dalam pemulihan lho! Jangan terlalu memaksakan diri.” Lanjut Andreas.


“Kan masih ada Luna, biarkan dia melakukan tugasnya. Dulu juga dia sendirian bukan?” Tambah Kevin.


Ryan langsung mengerutkan keningnya mendengar komentar Kevin barusan. Sepertinya Ryan harus sedikit memberi Kevin sebuah kata-kata mutiara.


“Hoi, lalu untuk apa kita merekrut Tio menjadi anggota tambahan jika begitu?” Ryan tidak setuju dengan apa yang dikatakan Kevin.


Ryan benar, aku sendiri tidak ingin merepotkan Luna. Bagaimana juga ini telah menjadi tugasku di sekolah. Perkara aku sakit atau apapun itu tidak ada hubungannya dengan tugasku ketika aku di sekolah.


“Benar yang Ryan bilang. Aku tidak ingin Luna menjalankan tugasnya sendirian. Lagipula aku juga tidak akan melebihi batasku. Jika aku merasa sakit, aku akan istirahat.” Lanjutku menolak ucapan Kevin.


“Hehe maaf, maaf. Aku sampai kelepasan tadi. Oh iya Tio, sehabis ini ada waktu?” Kevin kemudian bertanya.


Kenapa Kevin tiba-tiba menanyakan aku luang atau tidak? Untuk sekarang memang tugasku sudah selesai, bisa di bilang aku ada waktu luang.


“Aku sudah selesai berkeliling, memang ada apa?” Aku berbalik bertanya.


“Temani aku ke ruang kepala sekolah. Aku ingin menyerahkan surat ini padanya. Jika pengajuan ini diterima, aku akan langsung menuju Astrid.” Jawab Kevin.


“Hmm boleh saja, mau kapan?” Lanjutku menyanggupi.


“Sekarang saja, tapi sebentar aku bayar makanan dulu.” Balas Kevin.


“Hebat ya dia! Masih kelas 1 tetapi sudah pandai menjalankan tugasnya.” Aku memuji Kevin.


“Ya begitulah, kami beruntung mendapatkan anggota seperti dia.” Balas Ryan.


“Heh?.. Beruntung?” Aku bingung.


Kemudian Andreas menjelaskan kenapa OSIS begitu beruntung mendapatkan Kevin sebagai anggota. Dia tidak biasa dan berbeda dengan anak yang lainnya.


“Dia adalah satu-satunya siswa kelas 1 yang tidak melarikan diri saat kami mencari anggota baru untuk OSIS. Lalu kami mengetes kemampuannya untuk menentukan posisinya dalam OSIS. Setelah kami mengetahui dia sangat pandai meng-handle sesuatu, jadi kami memutuskan untuk memperingan tugas bendahara. Kami membuat posisi baru yang ditempati Kevin saat ini dan juga itulah alasan kenapa hanya dia anggota OSIS dari kelas 1.” Jelas Andreas.


Jadi begitu, dulu tugas Kevin adalah tugas Astrid juga. Jika aku menjadi Astrid pasti akan sangat berat karena harus dua kali kerja. Jadi itu alasan kenapa nama jabatan Kevin agak aneh menurutku, karena memang jabatan Kevin diambil sebagian dari tugas bendahara.


“Ohh jadi begitu, aku paham sekarang.” Balasku sambil menganggukkan kepala.


Tak begitu lama, Kevin kembali menghampiriku. Dia telah selesai dengan urusan di kantin. Aku melihat smartphoneku untuk melihat sekarang jam berapa, ternyata sebentar lagi bel masuk akan berbunyi.


“Maaf membuatmu menunggu, antri soalnya.” Kevin mendatangiku.


“Tidak apa-apa. Ayo berangkat keburu bel masuk nanti.” Ajakku.


“Oh iya, bantu aku membawa 1 raket ini ya?” Lanjut Kevin.


“Sudah kuduga, aku mempunyai firasat buruk barusan. Ya sudah aku bawa 1.” Balasku.


Seharusnya aku menanyakan dulu tadi ketika Kevin mengajakku untuk menemaninya. Tidak aku sangka jika aku akan terjebak seperti ini, tapi tidak apa-apa untuk sekali-kali membantu teman sendiri. Aku kemudian mengambil 1 raket itu dan ternyata raket ini tak seringan yang kubayangkan.


“Beratnya!” Aku terkejut.


“Makanya aku minta tolong untuk bawakan 1.” Balas Kevin.


Aku hanya ingin bertanya kepada para anggota klub tenis kalau mereka makan apa sebelum melakukan kegiatan klub. Untuk mengangkat saja sudah cukup berat untukku apalagi mengayunkan raket ini. Bisa-bisa raketnya ikut terbang bersama bolanya jika aku yang main.


“Kami pergi dulu ya!” Pamitku pada Andreas dan Ryan.


“Oke, kami juga ingin kembali ke kelas.” Balas Andreas.


Aku dan Kevin pergi dari kantin karena waktu istirahat sudah semakin sempit, kami bergegas berjalan menuju ruang kepala sekolah. Sesampainya di sana, kami bertemu langsung dengan kepala sekolah.


“Oh nak Tio! Kamu sudah sehat rupanya.” Sapa kepala sekolah.


“Syukurlah pak, saya sudah bisa bersekolah kembali.” Balasku sambil menundukkan kepala.


“Lalu ada apa kalian ke sini?” Tanya kepala sekolah.


“Ini pak, klub tenis mengajukan beberapa peralatan. Mohon dibaca surat pengajuan mereka.” Kevin memberikan surat pengajuan kepada kepala sekolah.


Kepala sekolah kemudian menerima lalu membaca surat itu. Di saat kami sedang menunggu jawaban dari kepala sekolah, tiba-tiba guru olahraga datang menghampiriku.


“Syukurlah kamu tidak apa-apa nak!” Pak Indra senang melihatku.


Aku sedikit terkejut dengan kedatangan pak Indra. Aku kemudian membalas pak Indra jika aku juga senang sudah pulih sejak kejadian itu.


“Aku juga bersyukur pak, tapi ini masih dalam pemulihan. Oh iya pak, kapan aku harus mengganti nilai pelajaran kemarin?” Tanyaku.


Aku teringat dengan beberapa pelajaran olahraga yang aku lewati selama aku di rumah sakit. Mumpung ada pak Indra jadi aku memutuskan untuk menanyakannya.


“Sudah jangan pikirkan hal itu dulu, pikirkan kesehatanmu. Jika sudah pulih, kita akan lakukan seperti biasa di hari Minggu.” Jawab pak Indra.


“Sekali lagi terima kasih, pak!” Aku menundukkan kepalaku.