HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 26: Tanpa Partner



Di Monster world, telah terjadi peristiwa yang cukup berbahaya pada prasasti kegelapan. Para Guardian yang menjaga prasasti kegelapan telah di kejutkan oleh aura gelap yang menyelimuti tingkat 1 pada prasasti itu. Ada 9 tingkat untuk dewa kegelapan bangkit secara sempurna.


Di tingkat 1 tertulis bahwa sang naga hitam berkepala 1 dan berekor 1 telah ditemukan. Itu artinya tinggal 8 tingkat lagi untuk sang dewa bangkit serta cepat atau lambat pecahan dewa itu akan menuju ke tempat prasasti kegelapan berada.


Ada 6 Guardian di Monster world. 3 diantaranya adalah Zorg, dia adalah Fire guardian. Lalu ada Tarina, dia adalah Light guardian. Dan ada Darc, dia adalah Dark guardian. Ketiga Guardian itu ditugaskan untuk menjaga prasasti kegelapan. Sedangkan ketiga lainnya entah di mana dan menjaga apa itu belum diketahui.


“Bagaimana ini?" Tanya Zorg.


Zorg yang melihat tingkat 1 yang aktif memberitahukan kepada Tarina dan Darc. Mereka harus berbuat sesuatu.


“Tingkat 1 telah aktif. Kita harus mengirim pesan kepada para monster yang diutus para dewa ke dunia manusia." Jawab Darc


Tarina setuju dengan Darc. Akan lebih baik jika para monster yang diutus mengetahui hal ini.


“Benar kata Darc, akan lebih baik jika kita mengirim pesan ke 6 monster pilihan dewa itu. Bahwa pecahan dewa sudah bangkit." Tarina setuju.


Zorg mendengar saran Tarina dan Darc, dia melihat kembali ke prasasti kegelapan itu. Zorg sebagai pemimpin dari ketiga Guardian yang menjaga prasasti kegelapan itu pun setuju untuk memberitahu keenam monster yang ada di dunia manusia.


"Baik, aku akan mengirim sebuah pesan telepati kepada mereka semua." Ucap Zorg.


Sementara itu, di dunia manusia...


Ketiga gadis itu berjalan pulang sambil bersenda gurau lagi. Akan tetapi Luna kembali ingin bertanya kepada Aria tentang kenapa dia tadi bersembunyi di balik pohon.


“Aria boleh aku bertanya?” Luna bertanya kepada Aria


“Apalagi Luna?” Balas Aria kesal.


Aria masih kesal dengan Luna dan juga kakaknya Airi. Sedari tadi, Aria hanya diam saja. Maka dari itu Luna ingin mengajak Aria mengobrol lagi.


"Kamu masih marah?" Tanya Luna.


"Tidak kok." Jawab Aria cemberut.


"Iya, aku minta maaf. Karena kamu sering tersipu saat digoda kakakmu makanya aku tadi bilang tidak sepertimu." Luna meminta maaf.


Luna menjelaskan saat sepulang dari toko tadi, karena itu Aria menjadi sedikit marah pada Luna dan Airi.


"Aku tidak tersipu kok." Balas Aria dengan pipi memerah.


"Lah itu apa?" Tunjuk Luna ke wajah Aria.


Aria mengalihkan pembicaraan. Dia kemudian bertanya kepada Luna tentang apa yang ingin di tanyakan tadi.


"Sudah lupakan. Lalu kamu tadi mau tanya apa?" Tanya Aria.


“Oh iya, tadi kenapa kamu bersembunyi di balik pohon saat aku bersama Tio? Dan juga kenapa tadi kamu melamun saat melihatnya pulang?” Lanjut Luna


“Ehh.. itu.. anu..” Aria kikuk.


Aria menanyakan hal yang salah kepada Luna. Dia sekarang bingung harus menjawab apa? Dan juga Airi menatap Aria dengan penuh rasa penasaran. Aria sudah tidak tahu lagi mau berbuat apa.


“Anu apa?” Luna semakin penasaran.


“Ada apa memangnya dengan Aria tadi?" Tanya Airi ke Luna.


Luna menjelaskan kepada Airi jika adiknya bertingkah aneh saat sepulang sekolah tadi.


“Tadi dia melamun saat melihat temanku pulang." Jawab Luna.


“Ohoo ternyata adikku naksir seseorang." Goda Airi.


“Kakak!!” Teriak Aria.


“Lalu kamu tadi kenapa?” Lanjut Luna.


“Kalian tahu sendiri kan kalau aku pemalu. Apalagi melihat Luna berdua dengan laki-laki, mana berani aku menampakkan diri. Aku tidak ingin mengganggu kalian tadi." Jawab Aria.


Aria memang seorang yang pemalu. Dia berbeda dengan Airi yang lebih suka menonjolkan diri.


“M-me-mengganggu katamu. D-di-dia hanya temanku. Bahkan aku dengannya baru berteman." Jawab Luna gugup.


Sekarang giliran Luna yang gugup. Aria mengira Luna memiliki hubungan khusus dengan laki-laki tadi. Mendengar Luna bilang hanya teman, Aria langsung bersemangat.


“Benarkah begitu, dia hanya temanmu?” Tanya Aria bersemangat.


“Iya benar, aku dan dia hanya teman. Lalu kenapa tadi kamu sampai melamun?” Luna melanjutkan.


Mau tidak mau Aria harus sedikit berbicara yang sebenarnya dia lihat dari laki-laki tadi. Aria lebih peka dengan perasaan seseorang. Airi juga peka, namun Aria bisa merasakannya lebih dalam.


“Itu karena aku tidak pernah melihat mata seseorang sekosong itu. Pandangannya terhadap orang lain seperti tidak terlihat di matanya. Dia sangat kesepian." Balas Aria.


Baru kali ini Luna mendengar Aria berbicara seperti ini. Bahkan seseorang yang baru dilihatnya bisa dengan tepat Aria tebak.


“Ya memang anak itu memiliki masalah yang mungkin tidak pernah terjadi di kehidupan kita." Jelas Luna.


“Masalah? Memangnya dia kenapa?” Aria penasaran.


“Maaf, kalau itu aku tidak bisa menceritakannya padamu. Aku sudah berjanji padanya bahwa aku tidak akan cerita apapun tentang dia kepada orang lain, bahkan ibuku sendiri tidak aku beri tahu." Tegas Luna.


Luna harus memegang janjinya. Dia tidak ingin bercerita kepada siapapun karena berteman dengan Tio sungguh tidak mudah. Luna tidak ingin mengecewakan kepercayaan Tio kepadanya.


“Begitu rupanya sayang sekali. Lalu bagaimana caramu sampai bisa berteman dengannya?” Tanya Aria.


“Sungguh tidak mudah, aku sampai terlibat masalah dengannya. Aku saja berteman karena aku menang duel saat melawannya." Jawab Luna.


“Jadi kamu sudah mencoba duel menggunakan monstermu?” Aria kembali bertanya.


"Iya, belum lama ini." Balas Luna.


“Duel?” Airi bingung.


Di saat Luna dan Aria membahas tentang duel, di sini Airi yang tidak mengerti dengan apa yang mereka berdua bahas.


“Loh kamu tidak tahu duel Airi?” Luna kaget.


Aria menjelaskan sedikit kepada Luna jika ternyata kakaknya, Airi tidak memiliki monster seperti mereka.


“Kakak tidak mempunyai monster sepertiku." Aria memberitahu Luna.


"Heh? Bagaimana bisa?" Luna terkejut.


Airi kemudian menjelaskan secara detail kepada Luna saat kejadian hujan salju kemarin.


“Saat hujan salju itu memang aku melihat hujan salju berubah menjadi kartu, tapi saat Aria datang ke kamarku memperlihatkan monsternya yang katanya jatuh menghampiri Aria. Aku menunggu dan sama sekali tidak ada kartu yang jatuh atau mengarah padaku." Jelas Airi.


“Jadi kamu tidak memiliki partner?” Luna memastikan.


“Iya, aku tidak memiliki monster, namun aku bisa melihatnya. Saat Aria melihatkan padaku monsternya dalam bentuk fairy benar-benar sangat lucu. Jujur aku sangat menginginkannya." Jawab Airi.


Saat mereka bertiga sedang mengobrol santai, tiba-tiba monster Luna dan Aria menjadi bentuk fairy. Fox dan Mage mendapatkan sebuah pesan telepati.


"Kepada keenam monster utusan dewa. Kami para Guardian yang menjaga prasasti kegelapan harus mengingatkan kalian semua. Tingkat pertama prasasti kegelapan telah aktif. Itu artinya pecahan dewa telah terdeteksi di Battlefield. Segera cari dan hentikan dia secepat mungkin."