
“Haaahhhh... Bosan..” Gerutu Luna.
Sekembalinya Luna ke kamarnya, dia malah bermalas-malasan di meja belajarnya sambil memainkan pulpen yang dia pegang. Dia terlalu fokus dengan apa yang harus dilakukannya besok. Rencana apa yang bisa membuatnya dekat dengan Tio? Sampai-sampai dia lupa bahwa dia harus belajar dan menyiapkan materi pelajaran untuk esok hari.
“Astaga... sadar Luna, sudah jam berapa ini. Aku harus segera belajar." Ucap Luna.
Luna melihat ke jam dinding di kamarnya. Dia mulai menyiapkan buku-buku untuk besok. Luna mengecek jika ada pekerjaan rumah yang belum dia kerjakan. Setelah itu, dia mulai membuka buku pelajaran satu-persatu. Luna mulai fokus belajar.
Tak lama kemudian, Luna merasakan hal yang aneh. Udara dingin terasa di kamarnya. Luna memang membuka jendela kamarnya untuk mencari angin. Karena kedinginan, Luna bergegas menuju jendela untuk menutupnya. Namun saat dia melihat keluar jendela, Luna melihat langit yang tadinya cerah berubah menjadi gelap.
“Lho bukannya tadi langitnya cerah dan bulan bersinar terang? Kenapa tiba-tiba gelap begini?” Ucap Luna keheranan.
Luna bergegas menutup jendela kamarnya. Namun sebelum dia sempat menutupnya, Luna sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dengan sadar dia melihat salju turun di luar.
“Apaa..? Salju? Aku tidak salah lihat kan?!” Luna terkejut.
Itu benar-benar tidak mungkin, ini adalah musim gugur jadi tidak mungkin salju turun. Kemudian Luna dengan cepat turun ke bawah dan berlari menuju ke luar rumah untuk memastikan apa yang dilihatnya itu nyata.
"Luna, jangan lari-lari begitu." Ayah Luna menegur.
Luna berlari melewati ruang keluarga yang kebetulan ayah dan ibu Luna sedang menonton televisi di sana. Luna tidak menghiraukan ucapan ayahnya, dia tetap berlari menuju keluar.
“Aku benar-benar tidak bermimpi, itu benar salju. Salju di musim gugur." Mata Luna terbelalak melihat fenomena aneh itu.
Ini nyata, Luna bisa merasakan salju yang turun. Dia harus memberi tahu ayah dan ibunya sekarang juga. Luna segera masuk ke rumah lalu memanggil ayah dan ibunya agar mereka mengetahui fenomena aneh yang sekarang terjadi sekarang.
“Ayah.. Ibu.. Cepat keluar. Salju turun." Teriak Luna
Ayah dan ibu Luna yang sedang menonton televisi terkejut dengan teriakan Luna.
“Ada apa nak teriak-teriak di malam hari begini?” Ibunya bertanya.
"Ayah, ibu, ayo keluar. Hari ini turun salju." Ajak Luna.
Ayah dan ibu Luna masih bingung dan tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Luna
"Salju apa?" Tanya ayah Luna.
Luna segera mendatangi ayah ibunya dan memegang tangan masing-masing.
“Ayo lihat dulu." jawab Luna.
Luna menarik tangan ayah dan ibunya lalu mengajak mereka keluar rumah. Sesampainya di luar, mereka bertiga melihat salju yang sedang turun.
“Pantas saja hawanya sedikit dingin, ternyata salju turun." Ucap ayah Luna.
Hah? Luna kaget dengan sikap ayahnya yang terlihat biasa saja saat melihat fenomena ini.
“Lho ayah tidak kaget dengan fenomena ini? Ini musim gugur lho yah, harusnya tidak turun salju." Tanya Luna memastikan.
“Memang sekarang alam tidak dapat diprediksi Luna. Mungkin ini karena efek pemanasan global hingga menimbulkan salju seperti sekarang. Kita lihat saja nanti atau besok di televisi, pasti akan ada berita kenapa malam ini turun salju." Jawab ayah Luna.
Yang benar saja, mana mungkin salju turun karena pemanasan global. Luna masih tidak bisa menerima alasan dari ayahnya itu.
“Ayah benar Luna. Sebaiknya kita segera kembali masuk rumah. Hawanya semakin dingin, nanti kamu kedinginan di luar." Potong ibunya.
Ayah dan ibu Luna bergegas masuk ke rumah. Luna kembali menatap langit, fenomena yang dilihatnya belum berakhir sampai di sini. Luna melihat salju yang jatuh berubah menjadi berkilauan di langit. Luna menghentikan ayah dan ibunya yang hampir memasuki rumah.
“Tunggu ayah ibu, saljunya bersinar." Luna histeris.
Luna menunjuk ke arah langit sambil memanggil ayah dan ibunya. Luna ingin menunjukkan salju-salju yang bersinar itu, namun yang terjadi adalah ayah dan ibu Luna sama sekali tidak melihatnya.
“Apa maksudmu Luna? Ayah hanya melihat salju turun dengan derasnya, tidak ada yang bersinar sama sekali." Balas ayahnya.
“Benar nak, ibu juga tidak melihat salju yang bersinar sama sekali. Kamu sepertinya berhalusinasi, cepat masuk. Dinginnya salju sudah membuatmu menghayal seperti ini." Lanjut ibunya.
Luna tidak berbohong kepada ayah ibunya, dia benar-benar melihatnya. Salju-salju itu bersinar. Luna masih mencoba meyakinkan ayah dan ibunya, tapi semua itu sia-sia.
“Tapi bu....” Luna terhenti bicara.
“Sudah, sudah. Ayo masuk dan ganti pakaian hangat. Ibu akan menyiapkan coklat panas untukmu nanti." Potong ibunya.
“Baik bu." Jawab Luna murung.
Luna menyerah. Dia mengikuti orangtuanya masuk ke dalam rumah. Sesampainya di depan pintu, sekali lagi Luna melihat ke langit. Salju yang turun masih bersinar.
Luna sedikit kecewa dan terlihat murung karena telah dikira menghayal melihat salju yang turun berubah menjadi salju yang bersinar. Dia pun kembali ke kamarnya di lantai dua dengan langkah yang lemas. Lalu, Luna mengganti bajunya dengan baju yang lebih tebal
Dia memutuskan untuk kembali melanjutkan belajarnya. Sewaktu duduk di kursi, Luna teringat dengan jendela belum dia tutup. Pantas ruangan kamarnya dingin.
“Astaga... jendela belum aku tutup. Hampir saja aku lupa lagi!" Luna teringat.
Luna berjalan menuju jendela kemudian dia menggapai kedua pegangan jendela dan menariknya. Namun saat jendela akan tertutup, Luna melihat ada salju yang berubah menjadi kartu yang jatuh menuju arahnya. Dia membuka kembali jendelanya kemudian melambaikan tangannya untuk meangkap kartu itu.
“Apa ini?” Luna heran melihat kartu yang dia tangkap itu.
[Fox, MK II]
Tertera nama Fox dengan Mark 2, kartu itu bergambar seekor rubah putih. Sewaktu Luna melihat kartu itu, tiba-tiba keluar sesuatu dari kartu itu.
Klotak.. (Suara benda jatuh)
Sebuah kotak berwarna kuning dan memiliki layar jatuh dari kartu yang Luna pegang. Layar kotak itu kemudian menyala, Luna yang penasaran kemudian mengambil kotak itu. Luna melihat di layar, ternyata kotak itu bernama skill deck.
“Skill deck?” Luna masih tidak paham.
Dalam pikiran Luna, kedua benda ini apa? Pertama, salju turun. Kedua, saljunya bersinar. Ketiga, salju yang bersinar berubah menjadi kartu. Dan yang terakhir, Kartu Fox dan skill deck. Pikiran Luna berputar kencang. Luna malah menebak-nebak apakah ini sebuah game? Kalau iya, dia harus meminta maaf kepada Tio karena sudah mengejeknya hanya bermain game saja tadi sore.
Kotak itu kembali mengeluarkan tulisan di layarnya. Kali ini tertulis "Battlefield, In" di layarnya. Luna dengan polosnya membaca tulisan itu.
“Battlefield, In?" Luna membacanya dengan penuh tanya.
Tak lama kemudian cahaya kuning muncul dan mengirim Luna ke tempat baru.
“Eehhhhhh.... Eeeeeeeeehhhhhhhh." Teriak Luna histeris.