HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 62: Yang Tak Sadarkan Diri



Andreas beserta Ryan dan Astrid berangkat menyusul kepala sekolah ke ruang rapat. Di ruang rapat hanya ada beberapa guru dari komite dan juga guru olahraga. Kemudian disusul oleh guru lain yang baru datang, setelah para komite tiba semua, Andreas langsung mengambil alih kendali di ruang rapat. Dia menjelaskan tentang apa yang akan dia lakukan


“Baik, karena semua sudah berkumpul. Saya di sini tidak akan basa-basi lagi. Terima kasih atas kehadiran kalian semua dan saya juga berterima kasih karena anda semua telah berhasil membuat seorang siswa masuk rumah sakit.” Andreas dengan nada marah.


Andreas membuka pertemuan dengan langsung menaikan tensi. Andreas sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Dia merasa berdosa karena ramalannya benar terjadi.


“Tenang sedikit nak, jelaskan dengan kepala dingin.” Pak Indra menenangkan Andreas.


Andreas ditenangkan oleh guru olahraga, dia sedikit bisa mengontrol emosinya. Andreas kemudian melanjutkan penjelasannya.


“Teman kami mendatangi rumah Tio hari ini karena dia tidak berangkat ke sekolah tadi. Lalu teman kami mendapatkan informasi jika kemarin sore Tio telah masuk rumah sakit. Tubuhnya penuh dengan luka lebam.” Andreas menjelaskan sedikit.


“Sungguh?” Pak Indra terkejut.


“Aku memang belum tahu betul dengan kondisinya, namun teman kami sedang menuju ke sana. Aku mengumpulkan anda semua di sini untuk meminta pertanggungjawaban. Kita akan ke rumah sakit setelah teman kami memberikan kabar lebih lanjut.” Lanjut Andreas.


Andreas menjelaskan dengan nada tenang, dia tidak mau membuang-buang energi karena nanti harus masih ikut menuju rumah sakit. Guru olahraga yang paling sedih mendengar kabar ini.


"Baiklah, kami akan bertanggung jawab." Tegas pak Indra.


Kepala sekolah dan para guru hanya bisa diam setelah Andreas memberitahu tentang Tio yang masuk rumah sakit. Itu membuat guru olahraga merasa prihatin, beliau kemudian mewakili jawaban para komite. Para komite berunding setelah guru olahraga bilang akan bertanggung jawab dan komite akhirnya sepakat untuk menanggung biaya rumah sakit. Setelah mendengar itu, Andreas cukup puas dengan keputusan komite kali ini.


"Baik, kami sepakat untuk menanggung semua biayanya." Ucap kepala sekolah.


"Bagus, kalau begitu ayo kita semua segera ke rumah sakit setelah ada kabar lebih lanjut." Balas Andreas.


Sementara itu..


"Bagaimana keadaannya? Aku sangat menghawatirkannya. Entah kenapa saat aku bertemu dengannya, hidupku menjadi sedikit berbeda. Aku selalu malu saat ada di dekatnya, tapi aku juga bahagia. Semoga dia baik-baik saja." Batin Aria menghawatirkan Tio.


Aria yang sedang mengayuh sepeda malah fokus memikirkan keadaan Tio. Bagaimana tidak, ini sangat memukul Aria. Baru beberapa hari dia dekat dengan Tio dan bermaksud mengalahkan Luna, namun malah keadaan Tio menjadi seperti ini. Sekarang tujuan Aria hanyalah mengantar Luna sampai ke rumah sakit dengan segera.


"Aduh.. Kakiku! Kakiku tidak kuat lagi." Batin Aria.


Luna dan Aria masih dalam perjalanan menuju rumah sakit. Kira-kira 6 kilometer lagi mereka sampai, namun di sini Aria mulai kelelahan. Dia kehabisan tenaganya karena sedari tadi mengayuh sepeda. Aria mulai melambat ketika mengayuh.


“Ah.. Aku sudah tidak kuat lagi.” Aria mulai kelelahan.


“Baiklah, aku depan.” Balas Luna.


Mereka kemudian berhenti sejenak untuk bertukar posisi. Aria turun dari sepeda langsung sempoyongan, kakinya sudah tidak memiliki tenaga lagi.


“Maafkan aku.” Aria meminta maaf sambil bernafas cepat.


“Tidak apa-apa, justru aku sangat berterima kasih kamu ikut untuk saat ini. Kamu benar-benar membantu, Aria.” Luna berterima kasih sambil menaiki sepeda.


Aria kemudian membonceng di belakang, Luna pun langsung mengayuh sepedanya. Di sini Aria sedikit merasa bersalah. Dia berniat ikut karena tidak ingin membiarkan Luna berdua dengan Tio tetapi malah berakhir dengan kejadian ini. Sebenarnya tadi Aria ingin memboncengkan Luna sampai rumah sakit untuk menebus rasa bersalahnya namun tenaganya sudah habis. Keringat bercucuran di badan Aria.


"Egois sekali diriku." Batin Aria sambil memejamkan matanya.


Akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit. Setelah memarkirkan sepeda Luna, mereka menuju loket informasi untuk menanyakan di mana tempat Tio di rawat.


"Silahkan, ada perlu apa?" Sapa seorang suster


“Permisi suster, apakah ada pasien yang bernama Tio di sini? Dia masuk rumah sakit kemarin karena luka-luka.” Tanya Luna.


“Sebentar ya, akan saya cek terlebih dahulu.” Jawab suster itu


“Pasien bernama Tio ada di ruang ICU, silahkan jika ada keperluan tetapi jangan berisik karena pasien dalam keadaan kritis.” Lanjut suster memberitahu Luna.


“Terima kasih sus.” Balas Luna.


Luna dan Aria berjalan menjauh dari loket informasi. Aria dengan wajah ketakutan berbicara kepada Luna.


"Luna, tadi suster bilang kritis bukan?" Aria memastikan.


"Ya, kita tidak salah dengar. Ayo segera ke sana." Jawab Luna dengan tenang.


Tanpa berlama-lama, Luna dan Aria langsung menuju ruang ICU. Sesampainya di sana, Luna bertemu dengan petugas penjaga dan menjelaskan keperluannya.


"Permisi pak, kami mau menjenguk seseorang." Luna meminta izin petugas.


"Pasien atas nama siapa?" Tanya petugas.


"Tio pak, dia laki-laki yang luka-luka." Jawab Luna.


"Oh maaf, pasien itu sementara tidak boleh dijenguk." Petugas itu melarang.


"Tapi pak, kami dari OSIS sekolah. Kami ke sini untuk memastikan keadaannya agar pihak sekolah bisa membantu pengobatannya." Jelas Luna.


"Baiklah silahkan masuk, tapi jangan terlalu berisik ya!" Petugas itu memperbolehkan.


Meskipun awalnya tidak diperbolehkan, namun akhirnya petugas itu mengerti dan mempersilahkan Luna dan Aria masuk. Luna dan Aria masuk dengan tenang tanpa bersuara.


Luna dan Aria melihat Tio yang terbaring tidak sadarkan diri. Tubuhnya penuh luka darah dan juga luka pukulan. Mereka berdua tidak tega melihat kondisi Tio saat ini. Kemudian mereka bertemu dengan ibu Tio dan menanyakan apa yang terjadi.


“Nak Luna!” Ibu Tio kaget melihat Luna.


Ibu Tio yang sedang duduk kaget melihat kedatangan Luna. Ibu Tio kemudian berdiri dan menghampiri Luna untuk berbicara dengan nada pelan.


“Maafkan kami bu jika kami mengganggu. Kami hanya ingin memastikan keadaan Tio.” Luna sambil meneteskan air mata.


“Tidak, tidak. Ibu malah senang jika kamu datang. Lalu bagaimana caranya kamu tahu jika Tio di rawat di sini?” Tanya ibu Tio menenangkan Luna.


“Tadi saat aku ke rumah, keadaan rumah kosong. Lalu ada seorang bibi yang memberi tahu jika Tio dibawa ke rumah sakit.” Jelas Luna.


“Oh begitu rupanya.” Balas ibu Tio.


Di sini Aria langsung merasa jarak antara dia dengan Luna terlalu jauh. Luna sudah sangat dekat dengan ibu Tio sedangkan Aria memulai saja belum. Aria hanya bisa melihat Luna dengan ibu Tio dengan jarak sedikit jauh. Aria menjadi murung karenanya, namun menanyakan kondisi Tio adalah hal yang penting. Mungkin Aria juga bisa dekat dengan ibu Tio sama seperti Luna.


“Anu.. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Tio bu?” Tanya Aria pelan.


“Ibu juga tidak tahu. Dia pingsan saat pulang dengan kondisi seperti ini. Eh sepertinya ibu baru melihatmu, kamu siapa ya?” Tanya Ibu Tio.


Aria merasa senang bisa sedikit akrab dengan ibu Tio. Saking senangnya, dia sampai terlalu malu untuk membalas pertanyaan dari ibu Tio.


"Anu.. Anu.." Aria gugup.


Luna sudah hafal dengan sikap Aria. Luna kemudian membantu menjelaskan kepada ibu Tio tentang siapa Aria sebenarnya.


“Oh dia Aria bu, anggota OSIS juga. Maaf dia sedikit pemalu.” Jelas Luna.


“Oh begitu. Kalian pasti capek bukan, sebentar ibu ambilkan minum. Silahkan duduk dahulu, ibu titip Tio sebentar.” Ibu Tio pergi membuatkan minum.