HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 101: Meluruskan



"Kakak..!!" Aria kesal kepada Airi


"Hehe.." Airi tertawa.


"Malah tertawa, bagaimana dengan kami setelah ini? Kamu main masuk ke sana seenaknya." Keluh Luna.


"Aku takut dengan Astrid, kak! Dia menyeramkan." Aria mulai ketakutan.


Airi hanya tersenyum mendengar kedua belah pihak yang saling ketakutan. Airi ingin menambah keseruan lagi. Sekarang saatnya Airi untuk pergi meninggalkan mereka semua.


"Hmm.. Aku kembali ke kelas saja deh, aku ingat jika bawa air putih tadi!" Goda Airi.


"Jangan melarikan diri kamu, Airi!" Balas Luna


Airi menghiraukan kedua gadis yang ada di depan pintu itu. Airi hanya membalas mereka berdua dengan melambaikan tangannya sambil berjalan pergi.


"Kakak..!! Jangan pergi." Aria cemberut.


"Semoga beruntung kalian berdua!" Balas Airi.


Luna dan Aria sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Mereka berdua hanya bisa mengingat Astrid ketika duel kemarin, bagaimana jika Astrid marah kepada Luna dan Aria nantinya?


Aku kembali setelah membeli minum. Tetapi saat aku kembali, aku melihat Astrid yang malah seperti sedang kebingungan. Aku pun duduk dan menanyakannya.


“Kenapa kamu?” Tanyaku pada Astrid.


“Ti-ti-tidak apa-apa kok. Iya tidak apa-apa!” Astrid bertingkah aneh.


“Ya sudah.” Balasku.


Aku meminum apa yang barusan aku beli. Aku melihat Astrid menjadi semakin tidak karuan, matanya melihat kesana-kemari dan juga dia seperti khawatir tentang sesuatu. Aku semakin penasaran ini anak kenapa? Tapi ya sudah, dia tidak mau bercerita. Lagipula ini sudah selesai, aku harus berkeliling sekolah setelah ini.


“Kita sudah selesai bukan? Kalau begitu aku berterima kasih dengan apa yang kamu belikan. Dah sampai nanti.” Aku mulai berdiri.


“Tu-tunggu dulu!” Astrid tiba-tiba menarik tanganku.


“Ada apa lagi?” Tanyaku sambil menoleh ke Astrid.


“Duduk dulu, akan sangat berbahaya jika kamu keluar sekarang.” Jawab Astrid.


Bahaya apanya? Masa iya keluar dari kantin saja berbahaya untukku. Aku pun kembali duduk seperti yang diminta Astrid. Aku sebenarnya penasaran dengan Astrid, kenapa dia? Lebih baik aku menanyakannya.


“Kamu kenapa sih?! Kamu menjadi aneh setelah aku beli minum tadi.” Aku penasaran.


Astrid kemudian menyangga kepalanya di meja, dia juga menghela nafas dan pasrah akan sesuatu.


“Haaahh.. Bagaimana aku bisa tenang, nasibku setelah ini mau jadi apa? Entahlah.” Astrid menghela nafas.


“Heh..? Kamu ngomong apa sih?” Aku menjadi bingung.


Astrid mengigau kah? Kata-katanya sedari tadi sangatlah aneh dan membingungkan. Semenjak aku tinggal membeli minuman dia menjadi berbeda, entah apa yang terjadi saat aku pergi beli minuman tadi.


“Aku tanya padamu, bagaimana rasanya berurusan dengan para gadis?” Tanya Astrid.


“Kenapa kamu tiba-tiba bertanya begitu?” Balasku


“Sudah jawab saja!” Suruh Astrid.


Astrid tiba-tiba menanyakan kepadaku tentang bagaimana rasanya berurusan dengan gadis. Pendapatku tetaplah sama seperti dulu, para gadis itu merepotkan.


“Para gadis itu merepotkan, sebenarnya aku malas berurusan dengan mereka. Termasuk kamu lho ya!” Jawabku dengan tegas.


“Haahh.. Jika kamu saja bilang begitu apalagi masalah di antara para gadis. Itu malah lebih rumit daripada berurusan dengan mereka.” Astrid menghela nafas lagi.


“Kamu itu sebenarnya kenapa sih?” Aku mulai heran padanya.


Astrid kemudian mulai berdiri. Dia tiba-tiba menggebrak meja dan berteriak. Sungguh jantungku mau copot!


“Ah bodo amat lah! Kalian berdua keluar dari pintu dan bergegas kemari.” Astrid berteriak.


Wajah Astrid langsung menjadi serius dan dia juga menjadi menyeramkan. Seisi kantin melihat ke arahnya, aku juga menjadi sedikit takut sekarang. Bagaimana tidak? Dari tadi tidak ada apa-apa lalu tiba-tiba dia menjadi seperti ini. Raut wajahnya sama seperti saat simulasi kemarin, aku berinisiatif untuk menenangkannya.


“Hei Astrid, sadar! Kita ada di kantin loh!” Ucapku lirih.


Astrid masih saja melihat ke arah pintu, dia sama sekali tidak mendengarkan ucapanku.


“Astrid, kamu kenapa sih?” Tanyaku pelan.


“Nanti juga kamu akan tahu. Maaf jika aku membuatmu takut.” Balas Astrid.


Sementara itu, di balik pintu ada dua orang yang sedang ketakutan juga. Mereka mendengar panggilan dari Astrid untuk keluar dari persembunyiannya.


“Bagaimana nih?” Aria ketakutan.


“Lebih baik kita ke sana deh!” Jawab Luna.


“Kamu tidak takut?” tanya Aria


“Ya takut, tapi mau bagaimana lagi. Lihat bagaimana seramnya dia.” Lanjut Luna.


Luna kemudian mulai keluar dari tempatnya bersembunyi dan mulai berjalan menuju tempat Astrid.


“Tunggu aku!” Ucap Aria.


Aria langsung mengikuti Luna. Aria lalu bersembunyi di belakang Luna.


“Tuh, mereka keluar!” Astrid kembali seperti biasanya.


Aku pun melihat ke arah pintu kantin, ternyata ada Luna dan Aria di sana. Pantas saja Astrid tadi berteriak, tapi ada hal yang sedikit mengganjal. Apa hubungannya mereka dengan masalah para gadis?


“Se-selamat siang kalian!” Ucap Luna dengan gugup.


“Siang kalian!” Aria mengikuti dengan lirih.


“Siang juga, kalian duduk dulu.” Balas Astrid.


Luna dan Aria langsung duduk seperti yang disuruh oleh Astrid. Di sini Luna ingin mulai mengobrol tetapi langsung dihentikan oleh Astrid


“Anu..” Luna terhenti bicara.


“Sssshhhh.. Kalian diam dulu. Biar aku yang bicara.” Potong Astrid


Luna dan Aria pun langsung diam seketika, mereka berdua takut dengan Astrid. Kemudian setelah itu Astrid mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi tidaklah seperti yang mereka berdua pikiran.


“Biar kuluruskan!! Aku di sini hanya mentraktir Tio makan, tidak ada maksud lain. Dia kemarin meminjamkan smartphonenya padaku karena smartphoneku habis baterainya. Aku ingin memanggil kalian sebenarnya kemarin, aku ingin meminjam salah satu smartphone kalian untuk menelepon rumahku tetapi karena jarak kalian sudah cukup jauh lalu aku mengurungkan niatku. Lalu setelah Tio menawariku menggunakan smartphonenya untuk menelepon dan aku langsung memakai smartphone milik Tio. Aku berinisiatif untuk mengganti pulsa miliknya, tapi itu malah membuat masalah baru untukku. Tio merasa tidak pantas menerima pulsa sejumlah yang aku kirim, jadi tadi pagi dia mengembalikan semuanya padaku. Karena aku jadi tidak enak padanya, aku akhirnya memutuskan untuk mentraktirnya makan siang sebagai ucapan terima kasihku.” Jelas Astrid.


Astrid menjelaskan langsung kepada mereka berdua dengan panjang lebar. Raut wajah Luna dan Aria langsung berubah menunjukkan rasa lega.


“Ehh.. Tunggu Astrid, kenapa kamu bilang begitu kepada kami?” Sela Luna.


“Iya, kami bahkan belum bilang apa-apa tadi.” Sahut Aria.


Ternyata Luna dan Aria salah paham dengan Astrid, mereka malah mengira yang tidak-tidak saat tadi sedang mengintip. Namun pada akhirnya semua terjawab.


“Terserah untuk kalian kata-kataku barusan berguna atau tidak. Aku hanya ingin kalian tidak salah paham, itu saja!” Lanjut Astrid.