
Sekiranya sudah cukup aku beristirahat, ibu juga sudah bilang jika air hangat telah siap. Aku memutuskan untuk segera mandi sebelum airnya dingin. Setelah aku selesai mandi dan berpakaian, aku memutuskan untuk ke ruang keluarga untuk menonton televisi lagi dan juga menunggu makan malam yang masih belum siap. Belum juga aku meninggalkan kamar, smartphoneku berbunyi
Kling.. (Bunyi notifikasi)
Aku menoleh ke arah smartphoneku. Aku mengambilnya dan melihat sebuah pesan chat
[1 pesan baru, Aria]
Di layar smartphone terlihat notifikasi pesan dari Aria. Aku sedikit kaget karena dia mengirim pesan kepadaku.
“Aria?!” Aku sedikit kaget.
Dalam pikiranku, ada apa Aria mengirim pesan padaku? Tanpa berlama-lama aku membuka pesan itu, aku juga penasaran dengan pesannya.
“Anu.. Apakah kamu sudah sampai rumah?” Pesan dari Aria.
Ternyata dia menanyakan keadaanku. Aku sudah sampai rumah dengan selamat. Aku pun membalasnya.
Di sisi Aria, dia berguling-guling di tempat tidurnya. Sepulang dari mengikuti Tio dan diantar Luna pulang, Aria segera mandi lalu berdiam di kamarnya. Dia terpikirkan mengirim pesan kepada Tio namun tidak ingin diketahui oleh Luna. Sekarang dia sangat menantikan balasan dari Tio.
“Aduh lamanya! Apakah pesanku akan dibalas olehnya? Ahhh.. Aku sungguh merasa malu besok jika dia tidak membalas. Dia pasti akan menilaiku gadis aneh.” Aria khawatir sambil berguling-guling
Kling.. (Bunyi notifikasi)
[1 pesan baru, Tio]
Di layar smartphone miliknya muncul sebuah notifikasi pesan. Aria mengucek matanya, seolah dia tidak percaya apa yang dilihatnya.
“Yesss.. Dibalas!” Aria senang dan semakin berguling-guling di tempat tidurnya.
Airi yang tidak sengaja lewat dan melihat kelakuan Aria menjadi heran sendiri. Airi sedikit mengintip adiknya yang sedang aneh berguling-guling di tempat tidur.
“Aria, sedang apa kamu?” Intip Airi.
Aria kaget mendengar suara kakaknya, dia berhenti berguling-guling lalu kemudian duduk melihat ke arah kakaknya.
“Huwaaaa... Anu.. Tidak apa-apa! Iya benar, tidak apa-apa kak!” Aria kaget.
“Hmm.. Terlihat aneh kamu. Aku jadi penasaran dengan smartphonemu sekarang!” Airi mulai mendekat.
“Stooopp.. Kakak berhenti di situ. Iya aku beri tahu, aku sedang chat dengan Tio. Tolong kakak jangan rebut lagi smartphoneku ini!” Aria memegang erat smartphone miliknya.
Airi berhenti setelah Aria memberi tahu yang sebenarnya. Airi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan adiknya yang membuat kamar berantakan itu.
“Dasar, jangan lupa rapikan lagi tempat tidurnya sebelum malam. Aku tidak mau tidur di tempat seperti itu.” Airi mengingatkan.
Aria kemudian melihat sekeliling dan dia kaget tidak percaya. Tempat tidurnya sungguh berantakan sekali. Bahkan seprei tempat tidurnya sudah lepas dan menjadi kusut serta bantal dan guling ada yang berjatuhan di lantai.
“Ya ampun berantakan sekali! Iya kak nanti akan kurapikan.” Balas Aria dengan lemas.
"Kalau begitu aku mau belanja sebentar." Airi pergi dari kamar.
Setelah Airi pergi, Aria menyalakan smartphonenya dan membuka pesan dari Tio. Dia senyum-senyum sendiri saat melihat pesan yang dibacanya.
“Syukurlah aku pulang dengan selamat! Aku baik-baik saja.” Balas Tio.
Aria sebenarnya sudah tahu jika Tio sudah sampai rumah dengan selamat. Aria hanya sedikit memanfaatkan momen untuk bisa berbalas pesan dengan Tio. Kemudian Aria mulai menulis balasan dan mengirimnya.
Aku kemudian membawa smartphoneku. Aku keluar dari kamarku dan duduk di sofa ruang tengah. Aku menyalakan televisi dan mencari siaran yang bagus menurutku.
“Bu, makan malam sudah siap? Aku ingin segera makan dan minum obat. Punggungku sedikit sakit nih!” Tanyaku.
“Sebentar lagi matang!” Jawab ibu.
Kling.. (Bunyi notifikasi)
[1 pesan baru, Aria]
Aria membalas, aku kemudian membuka pesan darinya lalu membaca sambil menonton film kartun di televisi.
“Syukurlah! aku senang mendengarnya. Lalu bagaimana keadaanmu? Apakah ada yang sakit?” Balas Aria.
Aku sedikit tersenyum melihat chat Aria. Tidak kusangka dia sebaik ini padaku. Aku kemudian membalasnya.
Kling.. (Bunyi notifikasi)
Aria dengan cepat mengambil smartphonenya. Dia langsung membuka chat yang masuk.
“Sedikit sakit sih punggungku. Aku sedang menunggu makan malam lalu ingin segera minum obat.” Balas Tio.
“Hmm.. Makan malam ya? Aku jadi lapar.” Ucap Aria.
Aria mengelus-elus perutnya, dia lapar. Kemudian Aria menghampiri Airi yang sedang di dapur mempersiapkan makan malam. Aria ingin menanyakan makan malam sudah matang atau belum.
“Kak, makan malam sudah siap belum?” Tanya Aria
“Aku belum masak malah. Barusan aku dari minimarket membeli bumbu dapur.” Jawab Airi.
“Yah, aku lapar padahal.” Aria mengelus perutnya.
Airi sedikit kesal dengan adiknya yang hanya bisa makan saja. Aria malah pulang sore bersama Luna, mereka asyik bermain sendiri.
“Salah siapa pulang kesorean tadi bersama Luna. Dari mana saja coba?” Tanya Airi.
“Itu.. Tadi ada urusan penting!” Jawab Aria.
“Itu terus alasanmu. Aku ada ide, segera bereskan kamar lalu bantu aku memasak.” Suruh Airi.
“Sekarang? Tapi aku kan tidak bisa masak!” Aria beralasan.
Airi semakin kesal dengan adiknya. Berhubung tadi Airi membeli mi instan cup, dia ingin sedikit mengerjai adiknya yang cuma bisa makan itu.
“Oh iya tadi aku beli 2 mi instan cup loh! Bagaimana kalau kita makan itu saja malam ini?” Airi tersenyum jahat.
Aria merasa terancam, mana kenyang kalau cuma makan mi instan cup yang isinya cuma sedikit. Aria segera menuruti apa kata kakaknya karena ingin segera makan.
“Baik akan segera kurapikan kamarnya, tapi aku bantu apa di dapur nanti?” Tanya Aria.
“Kamu cukup memotong bahan makanan saja. Soal masak biar aku.” Jawab Airi.
“Baik, baik.” Balas Aria.
Aria kembali ke kamarnya dan merapikan kamar yaang telah dia buat berantakan. Dia juga tidak lupa membalas pesan dari Tio. Setelah mengirim balasan, Aria bergegas merapikan tempat tidur lalu membantu Airi didapur
Kling.. (Bunyi notifikasi)
“Istirahat yang cukup dan semoga lekas baikan. Sudah dulu ya! Aku harus membantu kakakku di dapur. Sampai ketemu besok besok.” Balas Aria.
Aku membaca pesan dari Aria, ternyata dia juga sedang menyiapkan makan malam. Aku senang dengan Aria yang begitu memperhatikanku. Rasanya aku seperti lebih baikan setelah dia bilang begitu. Tak lama kemudian, ibu memanggilku jika makan malam telah siap.
“Ini sudah matang.” Teriak ibu dari dapur.
“Baik, bu. Aku ke sana!” Balasku.
Aku mengantongi smartphoneku lalu berjalan menuju meja makan. Aku segera makan karena ingin minum obat dan aku juga berencana langsung tidur setelah ini.