HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 165: Kehebatan Aria



Akting Aria berhasil mendramatisir duel yang sedang berlangsung. Aria tidak berakting sewaktu Luna mengaktifkan skill ultimate miliknya karena memang Aria takut dengan petir. Namun karena itu juga Aria bisa memanfaatkan keadaan untuk memancing Luna melakukan kesalahan.


“Kita serang yang mana Luna?” Tanya Fox yang kebingungan.


“Aku juga tidak tahu mau serang yang mana!” Jawab Luna.


Sedari tadi, Luna dan Fox masih berusaha mencari mana Mage yang asli karena memang semua bayangan Mage sama wujudnya. Jika seperti ini terus maka Luna tidak bisa melakukan apa yang sudah dia rencanakan tadi.


“Oh iya Luna, bayangan Mage tidak akan hilang jika kamu tidak mengenai Mage yang asli. Dan jika bayangan Mage tidak menghilang itu akan menjadi sebuah keuntungan untukku!” Lanjut Aria.


Aria tidak berhenti memprovokasi Luna yang memang sudah jatuh ke dalam perangkapnya. Semua itu demi membalas sikap Luna yang sedikit memandang remeh Mage di awal duel dan sekarang Luna sendiri yang termakan oleh apa yang telah dia lakukan di awal-awal tadi.


“Aaahhh.. Aku sudah tidak mengerti lagi. Skill aktif: Lightning arrow. Serang mana yang kamu yakin Fox, aku berharap padamu.” Luna mengaktifkan skill.


Luna sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi setelah ini. Pikiran Luna sudah tidak fokus lagi karena dia sudah melakukan kesalahan demi kesalahan yang sangat tidak penting dalam duel ini. Luna hanya bisa berharap dan menyerahkan semuanya kepada Fox.


Fox memilih satu Mage yang dia yakini. Panah petir muncul di sekitar Fox, meskipun panah itu banyak namun hanya satu arah saja yang bisa di tuju panah panah petir itu. Itu menjadi sebuah kekurangan di saat seperti ini


“Yang ini saja. Terjanglah wahai petirku.” Fox telah memilih lalu mengeluarkan kekuatannya.


Panah panah petir diluncurkan Fox sedangkan Luna berharap pada serangannya kali ini. Namun pada akhirnya serangan Fox mengenai Mage yang salah. Satu bayangan Mage yang diserang tadi menghilang namun Mage yang lain masih mengitari Fox.


“Ah salah..” Luna kecewa.


“Terima kasih dan maafkan aku Luna. Kali ini aku harus menang, ada sesuatu yang sedang aku perjuangkan sekarang. Aku yang akan mengakhiri duel ini!” Ucap Aria ke Luna.


Aria terlihat menarik kartu skill yang memang sudah bisa ditebak. Sekarang ultimate seperti apa yang Mage punya dan juga apa yang akan Aria lakukan dengan Mage yang sebanyak itu.


“Aku masih belum kalah Aria, HP Fox masih utuh!” Balas Luna dengan percaya diri.


Meskipun semua skillnya masih cooldown, Luna tidak berhenti optimis akan duel ini. Luna melihat skill decknya dan berharap masih bisa memenangkan duel.


“Sekarang tidak lagi. Skill aktif, Ultimate: Meditation.” Aria mengaktifkan skill ultimate.


"Wahai kegelapan, selimuti aku dengan kekuatanmu." Semua Mage mengeluarkan kekuatannya.


Karena bayangan Mage juga dihitung sebagai Mage saat di area duel, maka seluruh Mage yang tersisa juga bisa ikut mengaktifkan skill yang sedang di aktifkan. Semua Mage itu kemudian mengeluarkan aura karena skill Meditation adalah skill peningkat attack power.


“Meditation bukan hanya meningkatkan attack power dari Mage, namun skill itu juga mereset cooldown dari Magic orb dan juga Magic attack.” Tambah Aria.


“Gawat..” Luna mulai panik.


Luna sangat terkejut dengan efek dari skill ultimate milik Aria. Tidak disangka ultimate yang sama sekali tidak memberikan dampak serangan itu ternyata mempunyai efek luar biasa mereset cooldown dua skill sekaligus.


“Dual skill: Magic orb + Magic attack.” Aria langsung mengaktifkan skill kombinasi.


“Bertahan Fox. Skill aktif: Lightning barrier.” Luna mengaktifkan skill pertahanan.


Seluruh Mage mengaktifkan skill kombinasi itu sedangkan Fox mengeluarkan pelindung petir untuk menahan serangan dari Mage. Lagi, tongkat Mage mengeluarkan bola kegelapan lalu meluncurkan ke Fox. Ada banyak bola kegelapan yang menyerang Fox, namun tidak sampai disitu. Bola bola tadi juga mengeluarkan laser kegelapan dari dalamnya. Serangan yang sama dahsyatnya dengan ultimate milik Luna tadi dirasakan Fox sekarang.


Namun nasib Fox berbeda dengan Mage. Pelindung milik Fox pecah karena tidak sanggup menahan serangan Mage yang begitu banyak ditambah dengan ultimate milik Mage yang meningkatkan kekuatannya. Fox pun kalah dan dia kembali menjadi bentuk kartu.


[Winner: Mage]


Aria sangat merasa senang karena telah bisa menang dalam duel. Dengan ini apa yang sedang Aria perjuangkan sebentar lagi akan terwujud.


“Aku kalah, aku tidak menyangka Mage sehebat itu.” Balas Luna sambil mengambil kartu Fox.


Luna kemudian berjalan mendekati Aria setelah mengambil Fox. Luna memberi selamat kepada Aria atas strategi yang bahkan Luna tidak sangka-sangka.


“Selamat ya, aku tidak tahu kamu benar-benar hebat!” Luna menjabat tangan Aria.


“Itu.. itu karena aku sudah memikirkan sejak semalam. Aku mencari kemungkinan kemungkinan di saat aku mengaktifkan skill.” Balas Aria.


“Wah ternyata kamu curang ya! Dasar kamu Aria.” Canda Luna sambil mencubit pipi Aria.


Ternyata Aria sudah menyiapkan diri sejak semalam, di sini Luna merasa tertampar karena dia sama sekali tidak membayangkan apa yang akan terjadi hari ini. Luna merasa cukup percaya diri karena hasil duel melawan Tio, tapi ternyata hasil itu tidak bisa dijadikan patokan untuk duel hari ini. Luna kalah karena kesalahannya sendiri, dia pun mencoba menerima dengan lapang dada.


“Aw sakit, aku harus menang kali ini jadinya aku sangat bersemangat sejak semalam!” Aria mengelus pipinya.


“Yah itu semua karena aku sempat memandang rendah Mage di awal tadi. Akhirnya aku dapat karmanya.” Luna kecewa.


“Sudah tidak usah dipikirkan lagi. Aku juga tadi sebenarnya pesimis saat kamu mengeluarkan ultimate milik Fox, namun semakin ke sini skill milikku lebih unggul jadi aku benar-benar memanfaatkannya.” Aria mencoba menghibur Luna.


“Iya sih, baiklah ayo kembali ke tempat mereka!” Luna menunjuk ke arah dimana anggota OSIS lain berkumpul.


“Yuk..!” Balas Aria.


Itulah akhir dari duel antara Luna dan Aria. Persahabatan di antara mereka membuat duel sengit ini menjadi berwarna. Dan untuk simulasi terakhir ditutup oleh kemenangan Aria dengan skill duel yang benar-benar sangat unik dibandingkan simulasi sebelumnya.


“Hebat sekali Aria!” Astrid kagum.


“Aku bahkan belum pernah melihat ultimate yang bisa mereset cooldown skill lain!” Sahut Ryan.


“Yang aku tidak sangka adalah pemenang dari duel ini Aria. Padahal tadi Luna unggul jauh.” Ucap Kevin.


“Aria benar-benar menunjukkan kehebatannya hari ini. Dengan hasil ini kita akan sanggup melawan musuh kita nantinya!” Balas Andreas.


Di sisi yang melihat duel, semua benar-benar terhibur dengan duel antara Luna dan Aria. Sedangkan aku senang dengan kemenangan Aria. Saran dariku saat melawan Reza kemarin akhirnya bisa dieksekusi dengan bagus oleh Aria. Kerja bagus untukmu Aria!


“Akhirnya keinginanmu menang terwujud.” Ucapku lirih.


Luna dan Aria kembali berkumpul bersama kami dan kami pun langsung memuji kehebatan keduanya.


“Kalian berdua sungguh hebat. Aku bahkan tidak bisa memberi komentar apapun karena strategi kalian sudah hebat, hanya saja Luna kurang beruntung kali ini.” Ucap Andreas pada Luna dan Aria.


Aku, Ryan, Kevin dan Astrid menatap satu sama lain lalu mengangguk. Ryan mewakili kami berbicara setelah itu.


“Kami juga setuju dengan Andreas, tidak ada yang perlu kita bahas lagi dari duel tadi. Strategi kalian sangat sangat bagus!” Ucap Ryan.


“Terima kasih banyak!” Balas Luna.


“Te- teri-terima kasih!” Aria mengikuti.