
“Pagi!" Sapa Luna.
Luna turun dari sepadanya lalu melihat ke arahku, dia juga melambaikan tangannya. Dia mulai mendekatiku, aku jadi gugup sekarang.
“Pa-pa-pagi." Jawabku gugup.
Luna semakin dekat dan semakin dekat, jantungku berdetak kencang. Sampai akhirnya aku dan Luna saling berhadapan, dia kemudian berbisik kepadaku.
“Aku ingin bertanya padamu Tio." Bisik Luna.
Eh, kenapa dia bisik-bisik seperti itu? Ini mencurigakan.
“Apa?” balasku pelan.
Luna malah mendekatkan wajahnya lebih dekat ke arahku. Telapak tangan kanannya di taruh di samping hidung dan mulutnya lalu membisikkan sesuatu ke telingaku.
“Apa kamu semalam ke Battlefield?” Tanya Luna.
Ternyata Luna menanyakan tentang kejadian semalam. Aku sedikit merasa senang karena ada yang bisa aku ajak berdiskusi tentang hal itu.
“Iya aku ke sana semalam. Memang sedikit aneh tapi ada yang lebih aneh lagi. Di skill deck dijelaskan jika orang dewasa tidak dapat melihat kartu monster, lalu ibuku semalam tidak melihat salju yang berkilauan. Berarti ibuku tidak dapat melihat monster seperti yang dijelaskan semalam.” Aku menunjukkan kartuku pada Luna.
Setelah aku menjawab, Luna sedikit menjauhiku. Dia mulai berbicara secara normal namun tetap dengan nada pelan.
"Apa kamu dijelaskan oleh monstermu?" tanya Luna.
"Hah? Tidak, aku dijelaskan oleh skill deck milikku semalam. Memangnya monster bisa bicara?" Aku berbalik bertanya.
"Kalau itu sih..." Luna terlihat bingung.
Mencurigakan, semalam memang aku tidak mencoba mengeluarkan monsterku. Tetapi tidak ada tanda jika monster itu bisa berbicara. Mata Luna melihat ke samping, aku sangat yakin dia sedang menyembunyikan sesuatu.
"Lalu, apa kamu tahu penyebab orang dewasa tidak bisa melihat monster?" Tanyaku lagi.
Aku mengantongi kartu Hayase di saku baju, kartu itu masih sedikit terlihat karena panjang. Luna kemudian menjawab pertanyaanku.
“Memang orang dewasa tidak dapat melihat monster, juga tidak dapat masuk ke Battlefield. Hanya para remaja dan anak-anak yang bisa ke sana, aku dijelaskan oleh monsterku." Jawab Luna.
“Kalau itu aku sudah tahu, yang aku tanyakan alasan orang dewasa tidak dapat melihat monster ataupun kejadian semalam." Balasku
Aku baru tersadar tentang ucapan Luna tadi. Monsternya? Apa maksudnya?
"Tunggu dulu, monstermu?" Lanjutku.
"Anu.. itu.." Luna kebingungan.
Aku menatap ke arah Luna, namun dia malah mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sudah aku duga kalau Luna sedang menyembunyikan sesuatu.
Tiba-tiba, kartu monster dari saku Luna keluar dan bersinar. Kartu monster Luna berubah menjadi monster kecil yang terbang di pundaknya. Aku pun kaget dan sedikit heran melihatnya. Itu apa? Kenapa monsterku tidak seperti itu?
Luna menepuk keningnya. Setelah itu dia mengenalkan monsternya kepadaku.
“Perkenalkan ini Fox, monsterku." Luna memperkenalkan Fox.
Aku mengeluarkan lagi kartu monsterku. Aku heran kenapa kartu milikku tidak bisa seperti itu?
“Tapi kenapa monsterku tidak seperti milikmu? Kartu ini tidak mengeluarkan bentuk apapun dan tidak berbicara juga." Balasku.
Ketika aku bertanya kepada Luna, monster Luna menjelaskan kepadaku dengan angkuhnya.
“Itu karena monstermu adalah monster lemah. Tidak semua monster bisa bicara dan untuk monster level bawah memang seperti itu adanya." Ucap Fox.
“Fox, hentikan itu." bentak Luna.
Aku pun menjadi lemas mendengar apa yang dikatakan Fox. Ini tidak adil, ini benar-benar dunia game versi nyata bagiku. Di mana aku akan tetap lemah dan akan kalah pada akhirnya. Aku pun sedikit kecewa dan marah pada diriku sendiri. Aku membentak Luna lalu lari meninggalkannya.
Brukk.. (Suara sepeda jatuh)
Tanpa sadar, aku menyenggol sepeda milik Luna dan menjatuhkannya. Aku akan meminta maaf padanya nanti. Untuk sekarang aku harus berlari, jika bisa aku juga akan berlari dari kenyataan yang kejam ini.
“Tio, tunggu..” Luna berteriak.
Aku berlari menuju kelas. Mataku memerah karena menahan air mataku agar tidak keluar. Apa aku akan terus di takdirkan seperti ini? Selalu saja nasib baik tidak berpihak kepadaku bahkan sejak kecil. Aku segera ke kelas dan duduk meletakkan kepalaku di atas tanganku di meja.
Luna mendirikan sepedanya yang terjatuh oleh Tio saat berlari tadi. Luna terlihat emosi dan melampiaskan kemarahannya kepada Fox.
“Aku menghukummu Fox. Aku tidak mengijinkan kamu menjadi bentuk Fairy untuk sementara waktu." ucap Luna sambil mendirikan sepeda.
Fox yang masih berbentuk Fairy dan masih terbang kemudian meminta maaf kepada Luna.
“Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu jika dia akan semarah itu padamu." Fox meminta maaf kepada Luna.
Luna memegang erat setang sepedanya. Luna sangat kecewa dengan kelakuan Fox tadi. Usahanya kemarin dan juga rencananya semalam bisa jadi akan sia-sia karena Fox.
“Kamu tidak tahu betapa sulitnya aku mendekatinya. Dia bukanlah orang yang beruntung. Aku sedang ingin berteman dengannya. Aku sedang menyusun rencana untuk bisa berteman dengannya. Tapi kenapa? KENAPA KAMU MELAKUKAN ITU PADANYA?” Luna menangis.
Luna menunduk ke bawah sambil memegangi sepedanya. Air matanya menetes ke salju yang sedang dia lihat sekarang. Fox sangat menyesal membuat partnernya menjadi sedih seperti ini.
“Aku benar-benar minta maaf Luna, aku sungguh menyesal." Ucap Fox.
Luna mengelap air matanya. Yang harus dia lakukan hari ini adalah bagaimana cara meminta maaf kepada Tio. Mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi.
“Sudah lupakan, sepertinya aku harus mengeluarkan usaha lebih untuk hari ini. Aku harus meminta maaf kepadanya juga. Mulai saat ini aku tidak mengijinkanmu berbicara dan juga berubah menjadi bentuk Fairy sampai waktu yang tidak ditentukan." Tegas Luna.
Fox yang tadinya berbentuk Fairy tiba-tiba langsung kembali ke wujud kartu. Fox yang menjadi kartu jatuh ke tanah yang masih tertutup salju.
"Maafkan aku Fox." Ucap Luna.
Luna menuntun sepedanya menuju ke parkiran sepeda. Kemudian Luna bergegas masuk ke kelas.
Tak lama kemudian, aku melihat Luna datang ke kelas. Dia duduk di tempat duduknya lalu kembali mengajakku bicara.
“Tio, aku benar-benar minta maaf tentang hal tadi." Luna meminta maaf.
“Bisakah kamu tidak mengganguku sekarang? Apa kamu lupa tentang yang aku katakan kemarin? Jangan bertingkah akrab denganku." Jawabku kesal.
Maaf, maafkan aku Luna. Aku masih terbawa emosi. Aku tidak ingin diganggu untuk sekarang.
“Tapi....” Luna terhenti bicara.
Bel masuk berbunyi, seorang guru masuk ke kelas untuk memulai pelajaran. Aku sangat bersyukur karena akhirnya perdebatanku dengan Luna dapat berakhir, untuk sekarang.
Waktu istirahatpun tiba. Aku harus segera pergi dari kelas sebelum terlambat.
“Tio..." Luna kembali berhenti bicara.
Aku pun segera berlari keluar kelas meninggalkan Luna. Aku melihat ke belakang, ternyata Luna membuntutiku. Aku langsung menuju ke toilet laki-laki untuk menghindarinya.
Setelah beberapa lama kemudian, aku memastikan terlebih dahulu kalau Luna tidak menungguku di depan toilet. Aku melihat sekeliling dan dia sudah tidak ada di sini. Aku memutuskan untuk ke kantin membeli makan siang terlebih dahulu.
Sesampainya di kantin, aku melihat lagi sosok Luna. Aku dengan cepat mengambil 2 roti dan langsung membayar dengan uang pas. Aku kembali berlari menuju ke kebun belakang sekolah. Di sana ada sebuah pohon besar, dan tempat itulah satu-satunya spot terbaikku untuk menghabiskan waktu istirahat siang yang cukup lama
Bel masuk pun berbunyi. Aku kembali ke kelas dan melihat Luna lagi. Dia menatapku dengan cemberut dan sinis. Baguslah, aku berhasil membuat gadis pengganggu ini menjauhiku. Dibenci olehnya adalah hal terbaik untukku.
Sore tiba, bel pulang sekolah berbunyi dan semua siswa keluar kelas. Luna pun pergi meninggalkan kelas. Aku sengaja pulang terakhir agar tidak bertemu dengannya. Setelah 15 menit berlalu dan aku masih duduk di kelas, aku memutuskan untuk segera pulang. Namun hal buruk terjadi, Luna menghadangku di depan kelas.
“Aku menantangmu berduel." Ucap Luna dengan tatapan tajam.