
“Sudah sampai nona.” Ucap pak supir.
Mobil yang dinaiki Astrid berhenti di depan sebuah toko olahraga. Astrid telah sampai di toko yang biasa dia mencari kebutuhan klub-klub olahraga.
“Tolong bawakan raket-raket tadi ya pak.” Astrid meminta tolong pada pak supir.
“Baik nona.” Balas pak supir.
Astrid keluar dari mobil begitu juga dengan pak supir yang membawa dua raket yang hendak diperbaiki. Astrid segera masuk toko diikuti oleh pak supir dari belakang.
“Selamat datang, selamat datang.” Sapa mbak penjaga toko.
“Sore kak!” Balas Astrid.
Astrid berbalas sapa dengan seorang perempuan penjaga toko itu. Kebetulan penjaga toko itu mengenal Astrid karena dia sering mengunjungi toko olahraga itu untuk membeli barang-barang dari klub olahraga di sekolah. Wajah Astrid sudah tidak asing lagi bagi pegawai toko itu.
“Oh anda lagi rupanya! Ada perlu apa kali ini?” Tanya mbak penjaga toko.
“Aku ingin membeli barang di daftar ini kak!” Jawab Astrid.
Astrid memberikan surat pengajuan dari klub tenis kepada kakak itu. Penjaga toko kemudian menerima surat dari Astrid.
“Mana, mana? Sebentar saya lihat dulu.” Balas mbak penjaga toko.
Penjaga toko itu kemudian melihat apa yang ingin dibeli oleh Astrid. Kemudian penjaga toko itu masuk ke dalam dan berbicara dengan karyawan yang lain untuk mencarikan apa yang ada di daftar surat itu. Setelah selesai, penjaga toko itu kembali menuju Astrid.
Astrid menunggu cukup lama, dia memutuskan untuk duduk sejenak di kursi yang disediakan. Astrid kemudian mengeluarkan smartphone miliknya dan bermain-main dengan smartphonenya sembari menunggu.
“Semua barangnya ada. Lalu mana raket yang ingin diperbaiki?” Tanya mbak penjaga toko.
“Oh iya, ini kak!” Jawab Astrid.
Astrid berdiri lalu mengambil raket kemudian memberikan kepada kakak itu. Penjaga toko kemudian melihat kerusakan yang ada pada raket itu apa masih bisa diperbaiki atau tidak. Setelah dicek ternyata hanya senarnya saja ada beberapa yang putus, untuk yang lainnya tidak ada kerusakan dan kedua raket itu bisa diperbaiki.
“Raket ini bisa diperbaiki, kemungkinan minggu depan sudah jadi. Semuanya ingin satu kali antar atau barang yang sudah ada di antar dahulu?” Mbak penjaga toko memastikan.
“Satu kali antar saja kak, minggu depan sekalian.” Jawab Astrid
“Baik kalau begitu silahkan lengkapi administrasinya!” Lanjut mbak penjaga toko.
Astrid mengambil dompetnya di tas kemudian mengeluarkan kartu ATM milik OSIS. Kemudian Astrid memberikan kartu ATM itu kepada kakak tadi untuk membayar semua barang yang Astrid beli. Kakak itu menggesek kartu ATM itu ke mesin pembayaran lalu setelah itu mengembalikan kembali pada Astrid.
“Ini silahkan kartu ATM-nya dan ini kwitansinya.” Mbak penjaga toko mengembalikan kartu ATM serta memberikan bukti belanja kepada Astrid.
“Terima kasih kak.” Balas Astrid sambil menerima kartu ATM-nya.
Mbak penjaga toko itu terlihat masih menulis sesuatu di komputer. Kemudian mbak penjaga itu mengkonfirmasi alamat tujuan pengantaran barang.
“Seperti biasa bukan? Tujuan pengantaran barang menuju ke ruang OSIS?” Mbak penjaga toko memastikan kembali.
“Benar kak.” Jawab Astrid lagi.
Ternyata mbak penjaga toko menulis label pengantaran barang, penjaga toko itu kemudian menulis tujuannya ruang OSIS dan administrasi telah selesai.
“Baik kalau begitu, silahkan menunggu barang yang anda pesan. Ada yang bisa kami bantu kembali?” Tanya mbak penjaga toko
“Tidak ada kak! Kalau begitu saya permisi dulu. Terima kasih.” Astrid pamit.
Astrid memasukkan smartphone dan juga dompetnya ke dalam tasnya lagi. Kemudian Astrid dan pak supir pun bergegas keluar dari toko. Pak supir kembali membuka pintu mobil untuk Astrid.
“Terima kasih pak.” Astrid masuk mobil.
Pak supir hanya tersenyum sambil mengangguk kemudian menutup pintu belakang dan menuju ruang kemudi setelah itu.
“Setelah ini mau kemana lagi nona?” Tanya pak supir.
“Langsung pulang saja pak, aku sudah lelah seharian ini.” Jawab Astrid.
“Kalau begitu silahkan nona pakai sabuk pengaman. Mungkin saya akan memacu mobilnya sedikit cepat.” Lanjut pak supir.
Astrid lalu memakai sabuk pengaman. Setelah itu pak supir langsung memacu mobil itu mengantar Astrid pulang ke rumah. Saat di perjalanan pulang, Astrid ingat jika dia belum berterima kasih pada Luna tentang nomor Tio tadi. Astrid kemudian menulis pesan ke Luna.
“Terima kasih ya nomor Tio tadi! Aku sangat tertolong olehnya. Mau jadi apa aku tadi jika aku tidak bisa menghubungi rumah. Pokoknya aku sangat berterima kasih.” Tulis Astrid.
Astrid kemudian mengirim pesan itu lalu melanjutkan men-charge smartphone miliknya karena baterainya masih belum penuh.
Kling.. (Bunyi notifikasi)
Luna yang sedang menonton televisi melihat ke arah smartphonenya yang dia letakkan di atas meja. Smartphone miliknya berbunyi, Luna segera mengambil smartphonenya lalu membaca pesan yang baru saja masuk.
"Kalau tahu begitu aku tadi kan bisa pulang terakhir juga." Ucap Luna setelah membaca pesan dari Astrid.
Luna kemudian menulis balasan ke Astrid. Luna harus memastikan jika Astrid tidak bicara aneh-aneh besok karena Luna tidak ingin masalah baru muncul.
Kling.. (Bunyi notifikasi)
Smartphone Astrid berbunyi, dia langsung membaca pesan dari Luna.
“Sama-sama, tapi ingat jangan bawa-bawa aku ya! Aku tidak ingin lagi jika dia marah padaku. Pasti dia besok akan bertanya padamu, tolong cari alasan yang tidak membuatnya curiga.” Balas Luna
Astrid langsung membalas pesan dari Luna. Dia juga paham dengan ketakutan Luna setelah melihat Andreas yang memulai konflik dengan Tio saat pertama bergabung dengan OSIS. Astrid lalu sedikit menenangkan Luna.
“Tenang saja, aku sudah punya alasan tentang hal itu. Jangan khawatir, sebisa mungkin aku akan berusaha untuk tidak membuatnya marah.” Tulis Astrid.
Luna sedikit khawatir karena dia begitu saja memberikan nomor Tio kepada Astrid. Luna harap-harap cemas menunggu balasan dari Astrid.
Kling.. (bunyi notifikasi)
Smartphone Luna berbunyi, dia langsung membuka pesannya dengan cepat. Luna membaca pesan dari Astrid dengan serius.
"Hah, alasan apa yang sudah dia siapkan memangnya?" Luna penasaran.
Luna masih memikirkan alasan apa yang sedang Astrid siapkan. Namun Luna malah pusing sendiri memikirkan hal yang belum pasti seperti itu. Kali ini Luna hanya bisa berterima kasih saja.
Kling.. (Bunyi notifikasi)
“Terima kasih banyak.” Balas Luna.
Astrid membuka pesan dari Luna, Astrid sedikit tersenyum saat membacanya. Dia merasa tidak enak telah membuat Luna menjadi khawatir, meskipun begitu Astrid yakin alasannya tidak akan membuat Tio curiga besok.
Setelah berkirim pesan dengan Luna, sampailah Astrid di rumah yang besar. Ya tidak heran memang, keluarga Astrid adalah pengusaha sukses di kota. Astrid cukup beruntung mendapatkan semua fasilitas mewah seperti itu. Mobil yang dinaiki Astrid memasuki gerbang rumah itu.