
“Bu, ada cemilan? Aku sedikit capek jadi aku ingin menonton televisi dulu sebelum mandi.” Tanyaku.
Aku sedikit lapar setelah berpikir keras hari ini, belum lagi ditambah berjalan pulang. Aku mau segera makan tapi makan malam belum siap dan juga aku belum mandi, jadi aku ingin bersantai sambil mengistirahatkan badanku ini.
“Sebentar, nanti ibu antar ke sana.” Jawab ibu.
Kemudian aku duduk di sofa lalu aku menyalakan televisi. Ternyata saat televisi itu menyala, channel yang aku tonton saat ini adalah channel kesukaan ibu karena ibu suka menonton berita. Tapi apa yang aku dapat, justru berita yang sangat membuatku takut yang sedang aku tonton saat ini.
[Pemirsa, dilaporkan delapan anak telah menghilang. Bahkan setelah pihak orangtua melaporkan, upaya pencarian sampai saat ini masih nihil. Belum ada satupun yang ditemukan. Polisi menghimbau jika ada yang melihat anak yang ada foto-foto berikut untuk segera melapor ke pihak berwajib]
"Ini tidak mungkin bukan?" Tanyaku.
Aku fokus melihat berita yang sedang disiarkan di televisi. Foto-foto yang terpampang di layar televisi sungguh tidak asing bagiku. Ya, bagaimana bisa aku melupakan mereka yang kemarin membuatku babak belur hingga masuk rumah sakit.
Aku langsung terdiam dan gemetar mendengar berita ini. Bagaimana bisa orang-orang yang telah jahat kepadaku hilang dan juga semuanya. Aku harus memanggil ibu, ibu harus tahu berita ini.
“Ibu.. Ibu.. Sini cepat!” Teriakku
“Sebentar nak, ibu sedang sibuk.” a ibu
“Ini penting bu, ini menyangkut diriku. Cepat ke sini sebelum berita di televisi ini selesai.” Lanjutku berteriak.
Ibu menghentikan aktivitas memasaknya kemudian datang ke tempatku. Lalu aku menyuruh ibu melihat berita yang sedang ditayangkan di televisi.
“Ada apa nak?” Tanya ibu.
“Lihat bu!” Aku menyuruh ibu untuk melihat televisi.
Ibu pun melihat berita tentang orang hilang. Ibu juga kaget saat melihatnya, ibu kemudian sangat memperhatikan berita yang masih disiarkan itu. Setelah berita itu selesai, ibu memastikan itu kepadaku.
“Itu semua bukankah orang-orang yang sering mem-bully-mu?” Tanya ibu.
“Iya bu, mereka semua yang dikeluarkan dari sekolah. Mereka juga yang telah menghajarku hingga seperti kemarin.” Jawabku.
Aku sudah cukup ketakutan sekarang dan ibu juga sudah menyadari jika mereka adalah orang-orang yang mem-bully-ku. Aku melihat ke arah ibu, ibu seperti sedang memikirkan sesuatu setelah melihat berita tadi.
“Tapi kenapa mereka bisa menghilang? Dan juga kenapa disaat yang bersamaan? Jika ini penculikan menurut ibu sedikit tidak mungkin bahkan tidak ada alasan untuk menculik mereka. Bahkan jika ada pihak yang membelamu menurut ibu juga itu mustahil, selama ini tidak ada yang peduli kepadamu selain keluarga kita.” Ibu menjadi penasaran.
Lalu aku berpikir, apa alasan mereka bisa menghilang di saat yang bersamaan? Kemudian aku terpikirkan satu hal yang kemungkinan besar berpotensi sebagai alasan. Battlefield, ya di mana lagi jika tidak di battlefield. Di berita dikatakan bahwa polisi bahkan tidak menemukan mereka bahkan setelah berhari-hari setelah orang tua melaporkan anak-anaknya tidak pulang ke rumah.
"Mungkinkah musuh misterius itu?" Gumamku.
Pelaku yang mungkin melakukan itu hanyalah satu, tapi menurutku itu sedikit tidak mungkin. Menurutku bisa saja mata-mata yang mengawasi simulasi kami pelakunya. Alasan itu aku ambil karena saat kejadian aku dihajar oleh mereka adalah di Battlefield, tapi apa iya musuh itu mau membantu musuhnya untuk membalas perbuatan mereka semua. Itu mustahil tetapi tetap masih ada kemungkinan. Aku harus membicarakannya kepada ibu.
“Aku punya sebuah kemungkinan.” Ucapku pada ibu.
“Apa itu?” Balas ibu.
“Aku menceritakan jika aku dihajar di battlefield bukan? Meskipun ibu sudah bisa menerima itu tapi menurut ibu masih sedikit di luar nalar bukan?” Lanjutku
“Iya ibu hanya bisa percaya saja dengan itu. Walau ibu tidak bisa melihatnya tetapi semua temanmu bilang bahwa Battlefield dan monster itu nyata saat di rumah sakit kemarin. Tentu ibu tidak bisa mengabaikan semuanya, jika kalian jujur maka ibu juga harus percaya.” Jawab ibu.
Ibu sudah mempercayai kami semua dan juga Battlefield dan para monster. Sekarang waktunya aku membicarakan tentang sosok misterius yang sedang kami para OSIS cari, karena musuh memiliki kekuatan dewa untuk saat ini.
“Kami saat ini tengah menyelidiki seseorang. Di Battlefield, sekarang ada seseorang yang misterius memata-matai kegiatan kami. Orang itu juga kami duga membawa kepingan dewa yang telah bangkit kembali.” Jelasku singkat.
“Kepingan dewa?!” Ibu kaget.
“Ya, kepingan dewa. Menurut monster milik para anggota OSIS, dulu di dunia para monster ada dewa yang turun ke dunia mereka. Dewa itu mencari kekuatan yang terpendam di dunia para monster. Kekuatan itu dibutuhkan oleh dewa untuk membangkitkan kekuatan sempurnanya. Namun dewa itu malah berhasil dikalahkan dan memecah dirinya menjadi 9 bagian. Bagian inti itu ada pada sosok misterius itu.” Aku melanjutkan penjelasanku.
"Kamu jangan main-main nak? Apa kamu dan para OSIS itu sedang berniat melawan dewa?" Tanya ibu.
Ibu terlihat begitu khawatir kepadaku. Bagaimana ibu tidak khawatir setelah aku bilang kepingan dewa, dewa sudah bisa dibilang adalah sosok yang kuat dan sekarang aku, tidak, kami semua sedang berusaha untuk melawan sosok dewa dari dunia monster itu.
"Aku tidak main-main, bu. Kami tidak bisa mengabaikannya karena sudah tugas kami untuk melawan dan juga menghentikan dewa itu. Meskipun aku belum pasti ikut melawannya, namun semua anggota OSIS sudah mengemban tugas itu. Aku sebagai anggota OSIS juga harus ikut mengembannya." Jawabku.
Ibu sedikit tersentak akan jawabanku. Raut wajah ibu yang tadinya tegang dan khawatir berubah menjadi sedikit rileks. Ibu pun akhirnya memahami apa yang telah aku ceritakan tadi namun sekarang ibu menjadi sedikit kebingungan karenanya.
“Lalu apa hubungannya sosok itu, dewa itu dan juga Battlefield dengan anak-anak yang hilang ini?” Ibu mulai kebingungan
Aku tidak heran jika ibu menjadi bingung setelah aku menjelaskan sedetil itu karena ibu memang tidak merasakan sendiri melihat monster dan juga melihat Battlefield. Lalu dengan jelas aku menjawab ibu dan membuatnya minimal sedikit memahami sedikit dengan pendapatku ini.
“Karena sosok itu memiliki kekuatan dewa, bukan tidak mungkin untuk dia menghilangkan orang-orang yang selama ini jahat padaku dan juga ada kemungkinan dia melihat saat aku di hajar di Battlefield. Itu mungkin hanyalah kemungkinan dari pendapatku, tapi itu semua bisa saja terjadi.” Jawabku.