
“Pasti dia penyebabnya!” Ucap seorang siswa di kelas
“Iya benar, buktinya sudah dua hari dia tidak berangkat.” Balas siswa lain.
Luna yang sedang duduk tidak tahan lagi mendengar semua itu, emosinya sudah tak bisa dia tahan lagi. Luna kemudian berdiri dan berteriak keras.
“BISAKAH KALIAN SEMUA DIAM, AKU MUAK MENDENGAR PEMBICARAAN KALIAN SEMUA.” Teriak Luna.
Seisi kelas kaget mendengar Luna yang berteriak tiba-tiba. Siswa yang sedang berbicara tadi langsung membalas Luna.
“Kenapa kamu selalu saja membela dia? Apa untungnya untukmu. Asal kau tahu dia itu...” Siswa itu terhenti bicara.
“DIA KENAPA? DIA PEMBAWA SIAL BEGITU MAKSUDMU? KALAU KALIAN MEMANG TIDAK MEMILIKI KELEBIHAN, LEBIH BAIK TERIMA APA ADANYA KEKURANGAN KALIAN. JANGAN MENYALAHKAN ORANG LAIN JIKA ORANG ITU LEBIH BAIK DARI KALIAN.” Potong Luna dengan nada keras.
Teman sekelas Luna yang dia bentak itu terlihat tidak terima karena merasa terpojok oleh kata-kata Luna. Siswa itu kemudian menantang Luna.
“Lalu apa maumu?” Siswa itu tidak terima.
“Tenang kalian berdua, jangan bertengkar.” Seorang siswi menengahi.
Luna maju ke arah siswa yang menantangnya. Luna juga tidak terima jika orang yang bahkan tidak sadarkan diri di rumah sakit seenaknya dituduh seperti itu.
“Asal kalian tahu saja, aku yang menunggu dia saat dia di rumah sakit sehabis dikeroyok mereka yang menghilang. Apa kalian pernah seperti itu? Apakah kalian semua pernah merasakan hal itu?” Luna mulai menangis.
Siswa itu kembali membalas Luna karena masih tidak mempercayai tentang fakta yang sebenarnya meskipun sudah diadakan klarifikasi.
“Lalu jika memang dia tidak bersalah kenapa dia tidak berangkat?” Tanya siswa tadi.
“AKU JUGA TIDAK TAHU! Kemarin aku sudah ke rumahnya namun kosong. Aku juga khawatir dengannya. Dia mungkin takut menghilang juga karena kasus ini masih misterius, apa kalian semua tidak takut menghilang?” Luna berbalik bertanya.
Seluruh kelas diam setelah mendengar ucapan Luna, bahkan seorang guru yang hendak mengajar terpaksa harus melihat semua itu dari depan pintu karena tidak ingin memotong pembicaraan jika semuanya belum jelas. Setelah keadaan mulai tenang, guru itu masuk ke kelas dan langsung menenangkan seluruh siswa.
“Baik semuanya, tenang! Jika kalian ingin melanjutkannya silahkan nanti di waktu istirahat. Sekarang kita lanjutkan belajar terlebih dahulu.” Sela guru itu.
Luna kembali duduk dan mengelap air matanya, teman perempuan di sampingnya ikut menenangkan Luna. Keadaan pun mereda dan pelajaran dimulai seperti biasa.
Luna memutuskan untuk tidak memperpanjang keributan pagi ini. Dia lebih fokus untuk mencari Tio dan ingin segera menemukannya. Luna sangat penasaran dengan apa yang terjadi, bisa-bisanya dia melewatkan berita sebesar ini kemarin. Jika saja dia mengetahuinya sejak awal berita ini, Luna mungkin masih bisa menghubungi Tio untuk saat ini tapi semua sudah terlambat.
"Ayo!" Ajak Luna.
"Kita bergegas!" Balas Aria.
Di sore hari, Luna, Airi dan Aria sudah berkumpul di depan gerbang sekolah. Tanpa menunggu lagi mereka langsung bergegas menuju rumah Tio sekali lagi.
"Kita pastikan lagi kali ini!" Ucap Airi.
Sementara itu di rumah Tio, bibi tetangga Tio sedang berjalan pulang menuju rumahnya. Dia melihat sebuah mobil berhenti di depan rumah Tio. Bibi itu kemudian bertemu dengan seorang wanita.
“Sore bu.” Sapa bibi itu.
“Sore juga bu.” Balas Rose yang kembali ke mobilnya.
“Jika ibu datang kemari berarti mereka berdua sedang pulang kampung ya?” Bibi itu memastikan.
Bibi itu sudah hafal dengan wanita yang baru saja keluar dari rumah Tio. Jika wanita itu datang ke sana berarti pemilik rumah sedang tidak berada di sana.
“Oh begitu rupanya!” Balas bibi.
“Kalau begitu, saya pamit dulu bu! Sudah sore, kebetulan saya masih ada keperluan.” Rose pamit.
“Silahkan, hati-hati di jalan!” Balas bibi.
Rose pun menaiki mobilnya dan langsung meninggalkan rumah Tio, bibi juga melanjutkan berjalan pulang ke rumahnya. Rose melihat ke spion mobilnya, dia sedikit takut jika berlama-lama di sana nantinya akan membocorkan semuanya. Rose segera menancap gas dan segera pergi.
Setelah berjalan bersama cukup lama, mereka tiba kembali di rumah Tio. Sekarang Airi yang maju mengetuk pintu rumahnya.
Tok.. tok.. tok.. (Suara ketukan pintu)
“Permisi.” Ucap Airi.
Masih tidak ada jawaban. Airi memutuskan untuk mencobanya tiga kali, namun tetap tidak ada jawaban. Rumah ini benar-benar sudah kosong tidak ada orang.
“Lalu bagaimana ini?” Tanya Airi.
“Aku sudah tidak tahu lagi.” Luna pasrah.
“Tio, kamu kemana?” Aria mulai khawatir.
Mereka sudah kehilangan arah karena tidak berhasil menemukan Tio. Kesimpulannya adalah Tio telah pergi entah ke mana, mereka bertiga pun kebingungan dengan apa yang harus mereka lakukan sekarang.
Di saat mereka bertiga kebingungan, bibi tetangga Tio melihat mereka bertiga saat hendak menutup gorden jendela. Setelah bibi menutup gorden, bibi itu menghampiri ketiga gadis yang ada di depan rumah Tio.
“Oh kamu yang kemarin itu.” Sapa bibi yang berjalan menuju rumah Tio.
Luna menoleh ke arah suara yang familiar. Ternyata bibi tetangga Tio yang waktu itu kembali menyapanya. Luna pun membalas sapaan bibi itu.
“Eh bibi, selamat sore.” Balas Luna.
“Kalian mencari Tio?” Tanya bibi setelah sampai di depan mereka bertiga.
Bibi itu menanyakan tujuan Luna dan yang lainnya datang kemari. Ini adalah momen yang sangat bagus untuk mencari informasi. Tanpa berlama-lama, Aria langsung menyerobot menjawab pertanyaan bibi itum
“Iya bi, apa bibi tahu dia di mana?” Sahut Aria.
“Sayang sekali, saat ini Tio dan ibunya sedang pergi ke rumah kakeknya.” Bibi memberi tahu.
Bibi itu memberi tahu jika Tio sedang pulang kampung karena telah bertanya kepada wanita yang biasanya menyalakan lampu rumah ini ketika kosong. Namun sayangnya bibi itu tidak tahu dengan siapa dia memberitahukan semua itu. Dengan ini ketiga gadis itu akan mengetahui Tio pergi ke mana.
“Heeeeehhhhh..!!” Teriak Luna dan Aria.
Luna dan Aria benar-benar tidak menyangka setelah bibi itu memberi tahu tentang kepergian Tio. Ternyata dia pulang kampung, Luna pun mengira-ngira kalau pulang kampung pastinya tidak dekat dari sini. Sedangkan Aria langsung tertunduk lesu setelah mendengar itu. Airi pun langsung menenangkan adiknya itu.
"Sudah tenang, yang penting kita sudah tahu ke mana dia sekarang." Ucap Airi kepada Aria.
"Tapi kak.." Aria masih mengeluh.
"Kita dengar dulu mereka." Potong Airi.
Airi mengelus rambut Aria untuk menenangkannya. Airi menyuruh Aria untuk mendengarkan Luna dan bibi itu. Di sini Luna tidak menunggu-nunggu lagi, dia harus menanyakan kapan tepatnya Tio pergi dari rumah.