
Aku dan Luna tiba di parkiran sepeda. Hanya tinggal sepeda milik Luna yang tersisa di parkiran.
“Lalu, kita jalan kaki seperti kemarin?” Tanyaku.
“Tidak, kita akan naik sepeda." Jawab Luna.
“Naik itu?” Aku menunjuk ke arah sepeda Luna.
Yang benar saja. Itu artinya kami akan.... Aku langsung menggeleng kepalaku untuk menghilangkan apa yang baru saja aku pikirkan.
“Hhhuuuffft.. dasar tidak peka." Ucap Luna.
Luna mengambil sepedanya, dia mengangkat standar sepeda dengan kakinya. Kemudian Luna menuntun sepedanya ke arahku.
“Kamu depan, aku di belakang membonceng." Luna mengarahkan.
Dasar anak ini, berteman dengannya adalah hal buruk. Tetapi kenapa aku mau-mau saja tadi.
“Hari ini aku lebih merasa menjadi pelayanmu daripada temanmu. Apakah berteman seperti ini?” Gerutuku.
Luna tersenyum menjawab pertanyaanku.
“Tidak, tidak, aku hanya ingin sekali-kali dibonceng kamu. Capek tiap hari aku mengayuh sepeda ini, hehe. Nih sepedanya." Luna tertawa
“Jika capek mengayuh sepeda, besok lagi jalan kaki saja." Aku meledek Luna.
Luna menyerahkan sepedanya kepadaku. Aku langsung memegang setang sepedanya. Aku naik di depan kemudian di susul Luna yang membonceng menyamping.
“Bukannya jalan kaki akan lebih capek?” Tanya Luna.
“Iya juga sih. Aku setiap hari berjalan rasanya tidak sampai-sampai ke rumah." Jawabku setuju.
"Kalau begitu. Let's go." Teriak Luna sambil mengepalkan tangannya ke depan.
Aku mulai mengayuh sepeda Luna. Ternyata anak ini cukup berat juga, membuat perutku semakin lapar. Kami bergegas pulang dan meninggalkan area sekolah.
Di jalan, situasi saat ini semakin buruk. Sudah aku lapar ditambah Luna yang berat, sekarang ditambah lagi dengan adanya salju yang harus membuatku mengeluarkan tenaga lebih untuk mengayuh sepeda ini.
“Ayo lebih cepat." teriak Luna dengan semangat.
Nenekmu itu lebih cepat. Aku sudah capek tahu tidak? Kamu itu berat, aku jadi tidak bisa cepat mengayuh sepeda ini. Lagipula kalau Luna dengar aku bilang dia berat, aku yakin dia tidak segan-segan menghajarku.
“Pelan-pelan saja, aku capek." Balasku terengah-engah.
Baru kali ini aku memboncengkan seseorang saat bersepeda. Ternyata cukup melelahkan apalagi membawa gadis satu ini, namun juga cukup menyenangkan. Aku ingin cepat-cepat sampai di rumahnya. Karena aku benar-benar sangat lapar dan juga sudah tidak bertenaga saat ini. Aku ingin pulang dan makan sebanyak-banyaknya.
“Tio!" Luna memanggilku.
Luna yang diam tiba-tiba memanggilku. Aku sedikit menoleh ke belakang melihatnya. Karena aku masih mengayuh sepeda, tidak lucu jika aku menoleh ke belakang dan menabrak sesuatu nantinya. Apalagi sedang membonceng sekarang gadis, malu saat membayangkannya.
“Ada apa?” Jawabku.
Aku fokus lagi melihat ke depan, lalu aku mendengarkan apa yang sedang dikatakan oleh Luna.
“Sebelumnya, aku ingin minta maaf kepadamu." Lanjut Luna.
Meminta maaf untuk hal apa? Kalau tentang Fox tadi pagi aku sudah memaafkannya.
“Haah.. Untuk apa?” Tanyaku.
Luna melanjutkan apa yang ingin dibicarakan olehnya.
“Sebenarnya, aku sedikit curang saat duel tadi." Ucap Luna sambil menunduk.
“Curang?" Tanyaku penasaran.
Curang dalam hal apa? Menurutku duel tadi hanyalah perbedaan kekuatan yang menjadi faktor aku kalah. Luna bilang dia curang?, itu membuatku penasaran.
“Ya, saat kamu menghindariku seharian ini, aku kemudian merencanakan duel ini. Aku teringat dengan ucapan Fox kemarin. Dia memberi tahu padaku jika ada 6 tipe atribut di Battlefield. Karena atributku cahaya jadi sewaktu istirahat pertama, aku berkeliling sekolah dan akhirnya di lapangan itu aku menemukan Battlefield cahaya.” Jelas Luna.
Battlefield cahaya. Aku baru ingat dengan batu dan pohon yang berkilauan di tempat tadi. Jadi itu yang di maksud Battlefield cahaya.
“Lalu, apa pengaruhnya dalam duel? Sampai-sampai kamu bilang curang." Lanjutku bertanya.
“Saat monster dan Battlefieldnya sama, maka monster itu akan mendapatkan buff(penguatan). Keadaan yang membuat monster dan Battlefieldnya sinkron akan mendapatkan buff di antaranya adalah buff penambah HP, pengurangan cooldown, peningkatan attack power dan peningkatan movement speed tergantung Battlefieldnya menambah efek yang mana. Penambahan efek bersifat random, untuk kasus tadi aku mendapatkan buff pengurangan cooldown. Kalau kamu sadar, tadi aku bisa menggunakan Lightning spear dua kali karena aku mendapatkan buff pengurangan cooldown." Jelas Luna.
Pantas saja aku merasa aneh sewaktu duel tadi. Sekarang sudah terjawab kenapa Luna bisa mengaktifkan skill yang sama dengan begitu cepat.
“Oh jadi begitu." Jawabku sedikit cuek.
Luna kembali menunduk. Dia kembali bertanya kepadaku dengan wajah murung.
“Anu.. Apa kamu marah karena bisa di bilang aku curang tadi?” Tanya Luna murung.
Marah? Untuk apa aku marah. Semua salahku sendiri karena sudah meremehkannya di awal-awal. Dan juga aku yang melakukan duel itu setelah terprovokasi olehnya. Aku tidak layak untuk marah.
“Tidak, aku tidak marah. Semua sudah terjadi dan aku terprovokasi lalu kalah. Aku menerima hal itu. Aku tidak mempermasalahkannya." Jawabku.
“Benarkah?” Luna kembali ceria.
“Iya benar. Kamu itu benar-benar gadis yang bawel ya ternyata." Balasku meledek Luna.
Tiba-tiba, dengan kencang Luna memukul pundakku.
“Uuhhhhhuuuukkk... Sakit Luna." Keluhku kesakitan.
Aku sedikit kehilangan keseimbangan sewaktu pundakku dipukul Luna. Gila gadis ini, tadi pagi makan apa dia?
“Hihi." Luna tertawa.
Dia malah tertawa. Tidak lama kemudian, aku dan Luna sampai juga di rumah Luna. Mendengar suara Luna, kedua orangtuanya keluar dari rumah.
“Luna dari mana saja kamu?" Tanya ibu Luna khawatir.
Benar saja dengan apa yang Luna takutkan. Baru saja pulang sudah disambut seperti ini. Kalau bagiku sih ini sudah biasa.
“Maaf bu, tadi kami sedang belajar bersama namun karena keterusan jadi lupa waktu. Saya kemari untuk menemani Luna pulang. Saya benar-benar minta maaf bu." Aku menjelaskan kepada ibu Luna.
Dengan cepat aku memotong pembicaraan. Seperti yang sudah aku janjikan tadi pada Luna. Aku akan jelaskan kepada ibunya, walau bohong sedikit sih.
“Kamu siapa?” Tanya ibu Luna padaku.
Aduh, tidak Luna tidak ibunya. Aku selalu saja di berikan pertanyaan yang sulit.
“Maafkan aku lupa mengenalkan diri. Aku Tio teman sekelas Luna dan teman samping mejanya." Jawabku.
Aku menjawabnya dengan lancar bukan berarti aku sudah bisa berbicara normal dengan orang lain. Aku hanya tidak ingin membuat kesan buruk kepada orangtua Luna jika aku tidak tegas menjawabnya. Apalagi sekarang aku sedang mengantar anak gadisnya.
Ibu Luna terlihat melambaikan tangannya kepada Luna agar dia datang menghampiri ibunya. Luna berjalan menuju ayah ibunya, kemudian ibu Luna menggodanya
“Jadi inikah orang yang kamu bicarakan kemarin?” Goda ibu Luna.
Wajah Luna langsung memerah. Luna tidak tahan lagi menahan rasa malunya. Dia berbisik dengan nada cukup keras ke ibunya.
“Ibuuuuuuuu." Luna malu.
Ayah Luna kemudian menawarkan aku agar mampir terlebih dahulu. Namun dengan cepat aku menolaknya.
“Mau mampir nak?” Ajak ayah Luna.
“Maaf pak, saya harus segera pulang. Ibu saya kemungkinan juga sedang menunggu saya pulang karena selarut ini belum pulang ke rumah." Balasku menolak
“Kalau begitu mau bapak antar? Mumpung mobil bapak masih di luar." Ayah Luna menawarkan.
“Tidak, tidak usah repot-repot pak. Kebetulan saya juga ingin mampir ke minimarket. Nanti acaranya malah jadi antar-mengantar. Saya mengantar Luna pulang karena tidak baik seorang gadis malam-malam begini pulang sendiri.” Aku menolak tawaran ayah Luna.
Aku harus segera pamit. Jujur aku sudah keringat dingin mengobrol dengan ayah dan ibu Luna. Aku harus cepat pergi dari sini.
“Baiklah kalau begitu, saya pamit pulang dulu." Aku pamit kepada orangtua Luna.
"Hati-hati di jalan dan terima kasih telah mengantar Luna." Balas ayah Luna.
Aku segera membalikkan badan lalu bergegas berjalan pergi meninggalkan rumah Luna. Tapi...
“Tunggu Tio." Teriak Luna menghentikanku.
Ada apa lagi Luna? Apa kamu tidak tahu aku ingin segera pulang. Aku kemudian kembali membalikkan badanku.
Luna kemudian berbisik-bisik dengan ibunya. Dia teringat jika di lemari dapur masih ada kue.
“Bu, apa di lemari masih ada kue?” Tanya Luna.
“Kalau tidak salah, masih ada 2 bungkus." Jawab ibu Luna.
Luna berlari masuk ke dalam rumahnya. Dia mengambil 2 bungkus kue di lemari dapur lalu keluar kembali.
Aku melihat Luna yang mengobrol dengan ibunya. Dia kemudian masuk ke dalam rumah lalu keluar lagi. Ada apa sih? Sudah memanggil malah masuk keluar rumah. Luna kemudian berlari menghampiriku. Tangannya disembunyikan di belakang.
“Ini untukmu!" Luna memberikan 2 bungkus kue kepadaku.
“Ehh!!" Aku terkejut.
“Kamu lapar bukan? Anggap ini rasa terima kasihku karena sudah diantar pulang dan aku tidak dimarahi ibuku." Luna tersenyum.
Akhirnya aku bisa makan sesuatu juga. Aku menerima pemberian Luna.
“Baiklah aku terima, terima kasih kuenya." Aku berterima kasih kepada Luna.
Aku kemudian kembali pamit kepada ayah dan ibu Luna. Kali ini aku akan benar-benar pulang.
“Baiklah saya pamit lagi, pak, bu." Aku kembali pamit.
“Hati-hati di jalan nak." Balas ibu Luna