HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 76: Kabar Baik



Satu minggu lebih berselang dan hari-hari pun berlalu. Hari ini adalah hari minggu, hari ini aku memiliki jadwal check-up. Aku dibawa ke ruang pemeriksaan menggunakan kursi roda oleh dokter. Dokter kemudian memeriksa seluruh badanku. Lalu setelah pemeriksaan selesai, kabar baik datang.


“Syukurlah, anak ibu sudah lebih baik kondisinya. Hari ini dia boleh pulang.” Kata dokter kepada ibu


“Terima kasih banyak, dok.” Ibu senang mendengarnya.


Aku pun lega mendengarnya. Akhirnya aku bisa pulang dari sini. Aku juga sudah bisa duduk lagi sekarang, untuk berjalan masih agak kaku tapi syukurlah sudah lebih baik.


“Baik akan kami urus berkas pasien terlebih dahulu. Setelah itu sudah boleh pulang, namun jika terjadi sesuatu segera kembali memeriksakan diri. Kalau begitu saya pamit.” Dokter itu meninggalkan ruang pemeriksaan.


Aku turun dari tempat tidur dan mulai berdiri. Aku tidak menaiki kursi roda untuk kembali ke ruanganku. Aku ingin membiasakan diri untuk berjalan. Karena besok, aku ingin berjalan lagi menuju sekolah.


“Dengar itu, kamu sudah boleh pulang.” Kata ibu.


“Iya, akhirnya aku bisa pulang.” Balasku lega.


“Kamu tidak ingin naik kursi roda?” Tanya ibu.


“Tidak, aku ingin jalan saja. Lagipula aku ingin segera bersekolah, aku harus mulai dari berjalan.” Jawabku sambil berjalan sedikit demi sedikit.


Ibu menuntunku keluar dari ruangan pemeriksaan. Aku ingin kembali ke kamar untuk membereskan barang-barang bawaan karena sebentar lagi aku akan pulang. Ibu sangat memperhatikanku ketika berjalan, ibu kemudian menanyaiku karena masih kaku berjalan.


“Kamu benar langsung ingin masuk sekolah besok?” Tanya ibu sedikit khawatir.


“Iya bu, aku tidak ingin membuang lebih banyak waktu. Aku juga harus kembali belajar, akan lebih baik jika waktu penyembuhan dimanfaatkan untuk bersekolah daripada berbaring di rumah.” Balasku.


“Tapi kan..” Ibu terhenti bicara.


“Tenang saja bu, mereka sudah dikeluarkan. Tidak perlu khawatir lagi.” Potongku.


Aku dan ibu kembali ke kamar aku dirawat. Kami semua berbenah mengemasi barang-barang yang kami bawa. Kemudian ada seorang suster datang membawa berkas pemeriksaan dan juga resep obat untuk ditebus. Selesai kami mengemasi barang, kami pun pulang. Namun sebelum itu kami ke apotek untuk mengambil obat.


"Sebentar nak, ibu mau ambil obat dulu." Ibu pergi menuju apotek.


"Aku tunggu sini." Balasku.


Aku duduk di kursi tunggu apotek. Ibu kemudian menebus obat yang harus aku minum. Setelah ibuku menebus obat, kami pun meninggalkan rumah sakit. Aku tidak membawa barang apapun karena lukaku belum sembuh sepenuhnya. Aku sedikit kasihan melihat ibu membawa barang sebanyak ini. Kami sampai di depan rumah sakit dan menunggu taksi yang akan datang.


“Maaf bu, aku tidak bisa membantu.” Aku meminta maaf.


“Tidak apa-apa nak. Ibu kuat kok.” Balas ibu


Akan tetapi, aku benar-benar tidak tega membiarkan ibu membawa semua itu sendirian. Aku benar-benar ingin membantu ibu, aku mencoba mengambil salah satu tas namun tidak diperbolehkan oleh ibu.


"Jangan nak, biar ibu saja." Ibu mengambil kembali tas yang aku pegang.


“Tapi bu..” Aku terhenti bicara.


Satu taksi pun datang menghampiri kami. Lalu supir taksi itu keluar dari mobil dan membantu memasukkan barang bawaan kami ke bagasi. Aku dan ibu kemudian masuk kedalam taksi. Setelah supir selesai memasukkan barang bawaan kami, dia kemudian masuk ke mobil dan menanyakan tujuan kami.


“Tujuan mana bu?” Tanya supir taksi.


“Tolong antar ke alamat ini.” ibu memperlihatkan peta di smartphone miliknya.


Karena rumah kami sedikit terpencil meskipun di area kota, banyak supir taksi yang tidak tahu arah jalan ke rumah kami. Supir taksi itu mulai mengemudi, akhirnya kami pun pulang. Sudah lama aku tidak merasakan udara luar seperti ini. Yang beberapa hari lalu aku rasakan hanyalah aroma rumah sakit. Aku membuka kaca jendela taksi ini dan melihat pemandangan saat aku pulang.


"Segarnya udara luar." Ucapku lirih.


Kami tiba di rumah. Sesampainya di rumah, supir taksi itu membantu menurunkan dan membawa masuk barang-barang kami. Aku sangat berterima kasih padanya karena aku belum bisa membantu mengangkat barang bawaan.


“Terima kasih banyak pak.” Aku menunduk kepada supir taksi itu.


Supir taksi itu melihat aku yang memiliki banyak bekas luka. Supir taksi itu pun sadar jika aku yang baru saja pulang dari rumah sakit.


“Sama-sama, lekas sembuh nak!” Supir taksi itu melambaikan tangan dan kemudian pergi.


Aku melihat taksi yang dikemudikan bapak itu perlahan menjauh pergi dari depan rumahku. Aku melihat keadaan sekeliling rumah sebelum aku masuk, tidak ada yang berbeda selain bunga-bunga di depan rumah layu dan kering. Aku memutuskan untuk menghidupkan air dari kran yang terpasang selang, aku menyirami bunga-bunga itu terlebih dahulu.


Hari masih siang, aku segera masuk rumah karena tidak tahan dengan panasnya hari ini. Aku beristirahat sambil menonton televisi. Ibu kemudian menyiapkan makanan yang sudah dibeli tadi untuk makan siang. Setelah siap, kami pun makan bersama. Setelah itu, aku meminum obat yang cukup banyak dan besar-besar. Obat telah aku minum semua, kemudian aku memutuskan untuk pergi ke kamar.


"Hmm.. Lebih baik aku belajar sebentar." Ucapku melihat ke arah meja belajar.


Di kamar, aku melihat-lihat buku pelajaran sekolah. Aku duduk di kursi meja belajarku lalu membuka buku satu persatu. Tanpa terasa aku belajar hingga sore hari. Aku diingatkan ibuku agar segera mandi.


"Tio sudah sore, segera mandi keburu airnya dingin." Ibu membuka pintu kamarku.


"Baik bu." Balasku.


Sebelum itu aku menjadwal buku pelajaran untuk besok dan memasukkan buku-buku itu ke tas baruku. Karena tas dan seragam lamaku telah hancur dan sobek-sobek karena kejadian waktu itu.


"Yosh, sekarang tinggal mandi." Aku mengambil handuk lalu keluar dari kamar.


Aku pun mandi. Entah karena aku masih merasa sakit atau apa, tapi airnya meskipun hangat terasa dingin di badanku. Aku tidak mau berlama-lama, aku tidak mau nanti masuk angin. Aku segera menyelesaikan mandi lalu melanjutkan makan malam.


Aku makan lagi masakan ibu, setelah berhari-hari makan masakan rumah sakit yang tidak terlalu enak akhirnya aku bisa menikmati makanan super enak buatan ibu. Aku makan dengan lahapnya.


"Bagaimana badanmu?" Tanya ibu sewaktu makan.


"Sudah tidak apa-apa bu, setidaknya aku sudah bisa beraktivitas yang ringan-ringan." Jawabku sambil makan.


"Ya sudah, setelah ini segera beristirahat. Jangan lupa minum obat." Ibu mengingatkan.


Aku juga tidak boleh gegabah setelah kesembuhanku, meskipun aku sudah boleh pulang aku tidak boleh terlalu banyak beraktivitas. Karena aku sudah kelelahan, aku meminum obat dan bergegas tidur. Aku tidak sabar untuk besok pagi kembali bersekolah.