
“Siap Kana!! Aku akan mulai servis.” Seru Rin sambil memegang bola tenis dan raket.
“Aku siap kapan saja!” Balas Kana sambil memegang erat raketnya.
Rin memulai servis, mereka berdua pun memulai kegiatan tenis mereka. Mereka berdua saling beradu menangkis bola. Airi sangat senang saat melihat dari pinggir lapangan.
“Kalian ini, selalu saja bersemangat. Tapi karena itu aku jadi senang melihatnya.” Ucap Airi.
Sementara itu di Battlefield, kami semua sedikit kaget dengan apa yang Andreas katakan. Lalu kami menanyakan apa sebenarnya yang dimaksud oleh Andreas.
“Apa maksudmu kita harus ke lapangan tenis? Bukankah harusnya kamu bertanya tentang duel mereka berdua?” Tanya Luna dengan nada tinggi.
“Sebentar Luna, tenang dulu. Kita harus bertanya pada Andreas, apa yang sebenarnya dia maksud?” Ryan memotong Luna.
Keadaan pun memanas setelah terjadi salah paham di antara Luna dan Andreas. Di sisi Luna, dia merasa Andreas seperti mengabadikan duel hebat antara Ryan dan Kevin sedangkan di sisi Andreas sepertinya ada sesuatu yang lebih penting yang Andreas baru saja temukan.
“Aku setuju dengan Ryan, sebenarnya apa yang terjadi? Apa kamu menemukan sesuatu?” Tanya Kevin kepada Andreas.
“Bagaimana hasilnya?” Ryan ikut bertanya.
Ryan dan Kevin berusaha mencairkan suasana. Karena mereka berdua yang baru saja melakukan simulasi, Luna tidak bisa berkata apa-apa saat Ryan dan Kevin lebih memilih bertanya kepada Andreas.
“Rencanaku gagal.” Jawab Andreas.
“Lalu?” Lanjut Ryan.
Andreas terlihat kesal lalu Ryan melanjutkan pertanyaannya. Kenapa Andreas bisa gagal dan apa yang sebenarnya terjadi saat Ryan sedang berduel melawan kevin tadi? Apa yang ditemukan Andreas sebenarnya?
“Aku berhasil bertemu dengannya, tapi saat aku hendak menangkapnya dia kabur.” Jawab Andreas.
“Sayang sekali, berarti sama sepertiku kemarin.” Balas Ryan
“Lalu apa hubungannya dengan lapangan tenis?” Astrid penasaran
“Aku juga ingin tahu tentang itu.” Sahutku.
Aku benar-benar ingin mengetahui apa tujuan Andreas membidik klub tenis. Apa hubungannya penyergapan Andreas tadi dengan klub tenis? Sepertinya memang apa yang ditemukan Andreas lebih penting daripada simulasi yang dilakukan hari ini setelah melihat betapa seriusnya Andreas sekarang.
“Sebelum itu, apakah di antara kalian ada yang berbicara dengan Airi?” Tanya Andreas.
Andreas mulai membicarakan apa yang dia temukan tadi, namun Andreas tiba-tiba saja menanyakan siapa yang berbicara kepada Airi sebelum simulasi dilakukan. Astrid dan Aria kemudian mengacungkan tangan.
“Kapan kalian berbicara dengannya?” Tanya Andreas kepada Astrid dan Aria.
“Kemarin sewaktu istirahat.” Jawab Astrid.
"Kalau aku sih tiap hari, soalnya kami tinggal serumah." Jawab Aria.
“Di antara kalian ada yang berbicara tentang simulasi?” Tanya Andreas lagi.
“Aku.. Tapi apa hubungannya dengan kakak?” jawab Aria.
“Aku tadi sedikit melihat wajahnya, dan wajah itu seperti Airi. Jika benar, berarti musuh ada didekat kita. Kita bisa langsung menangkapnya.” Balas Andreas.
Mendengar keterangan dari Aria yang membicarakan tentang simulasi dengan Airi, Andreas semakin menaruh curiga kepada Airi saat ini. Semua kondisinya saling mendukung, jika memang benar Airi adalah pembawa pecahan dewa itu. Maka Andreas dan juga para monster langsung bisa mengambil tindakan.
“Tunggu, bukankah Airi tidak memiliki partner. Bagaimana bisa dia masuk ke sini dan mengawasi simulasi yang kita lakukan tanpa adanya skill deck untuk masuk ke Battlefield?” Tanya Luna.
“Luna benar, kakak tidak memiliki monster. Jadi menurutku tidak mungkin dia pelakunya. Tanya Mage jika masih ragu, kita selalu bersama saat di rumah.” Bantah Aria.
Luna dan Aria sedikit tidak setuju dengan Andreas. Itu hal yang tidak mungkin dilakukan oleh orang yang sama sekali tidak memiliki monster dan juga skill deck untuk memasuki Battlefield. Di sini Aria yang paling menentang Andreas karena tidak mungkin jika kakaknya yang melakukan itu semua.
“Benar apa kata Aria, aku tidak merasakan hawa monster apapun dari Airi. Dia memang tidak memiliki monster.” Mage mendukung Aria.
Bahkan Mage juga mendukung Aria. Keenam monster itu termasuk Mage memiliki kekuatan mendeteksi keberadaan monster lain sama seperti yang Lancer lakukan saat mencari keberadaan musuh yang sedang memata-matai simulasi. Jika hawa sekuat itu ada pada Airi, harusnya Mage sejak hari pertama sudah menemukan di mana keberadaan pecahan dewa itu mengingat kedekatan antara Airi dan Aria.
“Kalau begitu kita harus segera kembali untuk menguak apa yang sebenarnya terjadi. Apakah Airi pelakunya atau bukan, jika iya kita harus ke sana sebelum dia kabur.” Ajak Andreas.
Andreas ingin membuktikan apakah memang benar tadi itu Airi atau bukan. Jika memang Andreas sampai di lapangan tenis namun Airi tidak ada atau Airi pamit dari toilet, sudah bisa dipastikan jika Airi lah sang sosok misterius itu.
“Sebaiknya kita pastikan dulu, kita tidak bisa meragukan Andreas sekarang. Bagaimanapun dia melihat musuh kita tadi, kita hanya bisa memastikannya. Jika benar Airi pelakunya, aku sendiri juga pastinya akan sangat tidak menyangka.” Ryan menengahi.
“Kalau begitu ayo kita segera kembali!” Ajakku yang juga setuju.
"Battlefield, Out." Kami semua keluar dari Battlefield.
Setelah semuanya setuju kami segera log out dari Battlefield. Setibanya di ruang OSIS, Andreas dengan cepat berlari menuju lapangan tenis lalu kami mengikutinya. Namun ada yang aneh setelah aku pikir-pikir.
"Loh kok masih siang? Padahal aku merasa waktu untuk simulasi tadi cukup lama. Bahkan sewaktu aku berduel dengan Luna saat keluar dari Battlefield hari sudah mulai malam. Jika dibandingkan dengan simulasi kemarin, minimal hari sudah sore menjelang malam. Ini aneh!" Batinku.
Entah yang lain merasakan atau tidak, tapi bagiku ini benar-benar aneh. Aku berlari pelan paling belakang sambil memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Namun apa yang aku pikirkan ternyata sangatlah berat sehingga aku tidak bisa mengira-ngira lagi, aku memutuskan untuk segera menyusul mereka semua berlari.
Sesampainya di lapangan tenis, kami semua mencari keberadaan Airi. Terlihat di satu lapangan ada Airi yang sedang duduk melihat dua orang yang sedang berlatih. Kami langsung menuju tempat itu.
“Loh ketua OSIS, tumben kemari. Ada yang bisa kami bantu?” Sapa Kana.
Rin menghentikan aktivitas latihannya setelah mendengar Kana yang menyapa ketua OSIS. Rin menoleh ke arah Andreas dan Airi yang sedang duduk kemudian berdiri.
“Ada apa ini ramai-ramai ke sini? Tumben sekali.” Tanya Airi.
Jadi ini kakaknya Aria, memang mereka berdua mirip. Rambutnya pendek berbeda dengan Aria dan namanya Airi. Hmm.. Mereka berdua cukup mirip dari penampilan dan juga dari namanya, mereka bisa dibedakan dari rambutnya saja.
Lalu Andreas mulai menginterogasi Airi, di sini semuanya menjadi serius. Airi yang tidak tahu apa-apa langsung ditanyai oleh Andreas dengan nada tinggi.
“Kak Airi jujur saja sekarang, apakah kamu barusan ke battlefield dan mengawasi kami?” Tanya Andreas dengan nada keras.
Airi ikut terpancing emosi karena cara bertanya Andreas yang terkesan membentaknya. Namun Airi berusaha untuk tetap tenang, dia tidak boleh memberikan contoh buruk kepada juniornya yang sekarang sedang melihat Airi yang diinterogasi oleh Andreas.
“Apa maksudmu Battlefield? Maksudmu dunia para monster yang sering Aria bicarakan itu? Sudah berapa kali aku bilang jika aku sama sekali tidak memiliki monster, bahkan aku sendiri tidak tahu seperti apa Battlefield itu.” Jawab Airi.