
“Sudah kuduga ini ada apa-apanya.” Ucap Aria
Keesokan harinya di depan pintu kelas, Aria membaca sebuah pengumuman. Isi pengumuman itu adalah..
[Diberitahukan kepada seluruh siswa untuk berhati-hati saat sedang berada di luar sekolah. Karena pihak sekolah mendapat berita jika beberapa anak yang dikeluarkan beberapa waktu lalu semuanya menghilang dan sampai saat ini belum ditemukan. Untuk seluruh siswa diharapkan untuk tidak panik dan setelah bel masuk semua siswa harap berkumpul di halaman sekolah. Demikian pengumuman ini]
Aria langsung sadar kenapa Tio tidak masuk dan nomornya tidak aktif. Di balik izin khusus, mungkin keputusan para komite adalah ini. Mereka tidak bisa menutupi hal sebesar ini karena menyangkut keselamatan semua siswa. Aria kemudian mengeluarkan smartphone miliknya lalu mencari berita tentang anak hilang.
Ternyata benar jika delapan orang anak menghilang secara misterius dan belum ditemukan sejak seminggu lalu. Aria yang belum sempat masuk kelas langsung berlari menuju kelas Luna untuk mencarinya.
“Ini.. Ini bohong kan?” Ucap Luna setelah membaca pengumuman.
Luna seolah tidak percaya dengan pengumuman di depan pintu kelasnya. Para siswa kelasnya juga tidak bisa menyembunyikan ketakutan mereka. Para siswa itu pun langsung menyalahkan Tio yang sejak kemarin tidak masuk.
“Pasti gara-gara anak itu.”
“Dasar anak sial.”
“Dia sudah mengeluarkan mereka, dia juga menghilangkan mereka. Benar-benar orang jahat”
“Memang pantas dia di-bully jika begini.”
“Iya, aku setuju!”
Mendengar semuanya, Luna menjadi geram. Dia ingin marah, dia ingin berteriak di depan para teman sekelasnya. Namun semua itu batal karena Aria datang memanggilnya.
“Luna..!” Teriak Aria dari kejauhan.
“Eh..!!” Luna menengok ke arah suara.
Luna melihat Aria yang sedang berlari menuju tempatnya, dia seperti sedang terburu-buru. Luna pun meninggalkan kerumunan yang membuatnya kesal itu untuk menemui Aria.
“Luna, ayo ikut!” Ajak Aria sambil menarik tangan Luna.
Tanpa berbasa-basi lagi, Aria langsung memegangi tangan Luna. Aria mengajak Luna pergi namun Luna tidak tahu mau diajak ke mana.
“Heh..? Mau kemana kita?” Tanya Luna.
“Sudah, aku jelaskan nanti.” Jawab Aria.
Luna yang belum setuju akhirnya harus menuruti Aria. Aria berlari sambil menarik Luna, mereka mengarah ke kelas Airi. Luna hanya berpikir ada apa dengan anak ini?
“Ini sih gawat...” Ucap Airi setelah membaca pengumuman.
Mendapati berita seperti itu membuat Airi sedikit khawatir dengan keamanan dirinya dan juga Aria. Airi mulai menjauh dari kerumunan dan bergantian dengan siswa lain yang ingin membaca pengumuman itu.
“Kakak.. Gawat..!!” Teriak Aria.
Tiba-tiba Aria muncul dari balik kerumunan, dia juga mengajak Luna. Tapi itu sedikit membuat Airi kaget dan Airi pun sedikit memarahi Aria.
“Kamu bikin kaget saja, aku sudah baca beritanya.” Balas Airi yang terkaget karena ulah Aria.
“Tu-tunggu Aria, tidak usah terburu-buru begitu.” Balas Airi.
Sekarang Aria membawa satu orang lagi, tangan kanannya menarik Luna lalu tangan kirinya menarik Airi. Aria membawa mereka ke pohon yang pernah dia kunjungi sewaktu Luna dan Tio makan.
“Ada apa sih sebenarnya?” Tanya Airi setelah sampai.
Airi terlihat kelelahan karena pagi-pagi sudah diajak berlari-lari oleh adiknya. Dan ternyata bukan cuma Airi, Luna pun terengah-engah karena berlarian barusan.
“Aku sudah menanyakan itu dari tadi.” Sahut Luna terengah-engah.
Aria kemudian menarik nafas panjang dan menceritakan apa yang ingin dia bicarakan. Aria sudah menduga sejak kemarin jika ini ada apa-apanya dan ternyata semua itu benar.
“Kakak ingat yang kita bahas kemarin kan? Aku sangat yakin pasti ada apa-apanya dan hari ini ada pengumuman itu.” Tanya Aria yang kelelahan.
“Iya ingat, memangnya kenapa?” Jawab Airi.
“Pembahasan apa memang?” Luna penasaran.
“Menurut Aria, izin Tio adalah izin khusus karena langsung ke kepala sekolah jadi pasti ada sesuatu di balik tidak berangkatnya Tio serta tidak aktifnya nomor teleponnya.” Jelas Airim
“Oh aku pernah dengar izin khusus sewaktu masuk ke OSIS dulu.” Luna ingat.
“Lalu apa yang membuatmu berlarian mengajak kami ke sini?” Tanya Airi kepada Aria.
Aria pun segera menjawab pertanyaan kakaknya, setelah dia memahami pengumuman yang ada di depan pintu kelas itu akhirnya Aria menemukan sesuatu yang tersirat di pengumuman itu.
“Apa kalian tidak memahami kata-kata di dalam pengumuman itu? Dikatakan jika siswa yang dikeluarkan beberapa waktu lalu, itu adalah orang-orang yang telah menganiaya Tio hingga masuk rumah sakit. Aku sudah mencari berita di internet dan foto dari mereka yang hilang sama dengan yang mem-bully Tio.” Jawab Aria yang sedikit khawatir.
“Sebentar aku lihat.” Balas Airim
Setelah mendengar itu Airi menjadi penasaran, Airi diikuti Luna mengeluarkan smartphonenya lalu mencari berita yang di maksud. Airi dan Luna akhirnya percaya dengan apa yang dikatakan oleh Aria setelah membaca berita di internet.
“Iya, memang benar mereka anak-anak yang mem-bully Tio.” Ucap Luna.
“Jadi berita itu benar adanya, lalu apa yang kamu khawatirkan?” Tanya Airi kepada Aria.
“Jelas aku khawatir kak, apa kalian sadar jika Tio sekarang sedang menghindari kita? Menurutku dia tidak masuk dan juga meminta izin khusus adalah untuk menjauh, entah apa alasannya aku juga belum tahu pasti. Itu semua cuma menurutku.” Jawab Aria dengan nada tinggi.
Kemudian Airi dan juga Luna terpikirkan oleh apa yang baru saja Aria katakan. Ada benarnya juga semua ini karena momennya begitu pas. Di berita tertulis hari sabtu dalam melaporkan berita itu, di situ ada kemungkinan jika Tio sudah mengetahuinya dan karena minggu libur jadi Tio bisa mengurus izin khusus dan juga tidak dapat dihubungi hingga sekarang.
“Benar juga, mereka yang hilang adalah orang yang pernah mengganggu hidup Tio. Apa dia takut disalahkan atas hal ini?” Pikir Airi.
“Kalau itu sedikit tidak mungkin Airi, bagaimanapun dia adalah korban dan para komite sekolah sudah mengetahui kebenarannya. Dia juga tidak mungkin membalas kelakuan mereka jika seminggu yang lalu dia masih pingsan di rumah sakit.” Bantah Luna.
“Lalu bagaimana ini?” Aria mulai sedih.
Semuanya kembali berpikir keras. Luna dan Aria memikirkan di mana Tio sekarang dan bagaimana keadaannya. Karena sudah jelas jika Tio tidak kenapa-kenapa setelah akar masalahnya terungkap pagi ini. Sedangkan Airi malah ikut memikirkan memecahkan masalah ini, bagaimanapun juga semua ini menarik untuk diungkap.
“Begini saja, kita nanti sore pastikan lagi ke rumahnya sebelum kita beri tahukan ke semua anggota OSIS. Bagaimana?” Saran Airi.