
Saat aku di perjalan pulang, smartphoneku berbunyi. Ternyata banyak sekali pesan masuk dan itu semua dari ibu. Aku benar-benar lupa, aku merasa sedikit menyesal karena tadi tidak sempat pamit sebelum aku pergi. Anak macam apa aku ini pergi tidak pamit, aku harus segera membalas pesan ibu.
Aku baru sadar kalau di toko itu susah untuk mendapatkan sinyal karena bangunannya terbuat dari beton, pantas jika pesan-pesan ini baru saja masuk ketika aku keluar dari toko. Namun saat aku ingin membalas pesan ibu, tiba-tiba smartphone ku berdering.
Kriiiinnggggggg... (Suara smartphone berdering)
[Panggilan masuk, Ibu]
Ibu menelepon, Aku segera mengangkat teleponnya.
“Halo bu..” Aku menjawab.
“Ke mana saja kamu nak, jam segini belum pulang?" Suara ibu dengan nada tinggi.
Ibu marah. Aku sangat takut jika ibu sedang marah. Lagipula semua ini salahku, kalau bukan gara-gara Luna pasti tidak akan begini jadinya. Aku harus meminta maaf kepada ibu.
“Maaf, bu.. maaf sekali. Aku pergi ke toko game biasanya. Aku mencari game baru karena game yang di rumah kebanyakan sudah tamat. Maaf tadi aku lupa berpamitan karena ada sesuatu tadi." Jawabku dengan ketakutan.
Aku mohon bu, jangan marah. Aku benar-benar ketakutan sekarang, bahkan memegang smartphoneku saja sampai gemetar tanganku.
“Kamu ini.. Ya sudah cepat pulang, dan hati-hati di jalan. Besok lagi lebih baik bilang ke ibu dulu kalau mau pergi, ibu khawatir. Makan malam dan air hangat untuk mandi sudah siap, segera pulang!" Balas ibu.
Oh ibu, betapa baiknya engkau kepadaku. Ibu tidak marah padaku, aku sedikit lega mendengarnya.
“Baik bu." Jawabku pelan.
Telepon pun berakhir dan dengan cepat aku bergegas pulang. Tanganku masih gemetar, sekarang lebih baik aku berlari pulang sekalian olahraga. Aku merasa lemak di perut semakin menumpuk karena akhir-akhir ini jarang berolahraga dan membantu ibu di rumah.
Setelah beberapa saat aku berlari, aku berhenti sejenak. Aku menatap ke atas dan terlihat langit mulai aneh. Baru saja sangat cerah dengan sekejap menjadi gelap gulita, cahaya bulan pun tertutup awan hitam pekat.
“Hah, tiba-tiba langit gelap. Mau hujankah?” Aku terheran-heran.
Aku membuka smartphoneku dan melihat ramalan cuaca hari ini. Sama sekali tidak ada ramalan hujan bahkan untuk satu minggu ke depan. Tidak sampai situ, tiba-tiba salju turun dengan derasnya. Ada apa ini?
“Salju..! Bukankah harusnya salju turun 3 bulan lagi? Bahkan sekarang ini baru saja awal musim gugur." Aku tercengang melihat kejadian ini.
Sekarang baru akhir bulan September, awal dari musim gugur. Salju harusnya turun Desember nanti. Lalu tiba-tiba salju turun tanpa sebab, ini aneh. Salju yang turun kemudian berubah menjadi sesuatu yang bercahaya di langit. Semuanya berkilauan, hal ini seperti melihat pesta bintang jatuh bagiku.
“Apa itu..? Apa aku sedang bermimpi?" Aku mengucek mataku.
Aku takut mataku sudah rusak karena melihat fenomena aneh ini. Akan tetapi semua ini nyata, aku benar-benar melihat kejadian aneh.
“Ternyata mataku masih sehat." Ucapku setelah memastikan.
"Heh..? Kartu?!" Aku tidak percaya saat melihatnya
Sembari aku melihat langit, bagaimana bisa salju berubah menjadi kartu? Ketika aku sedang melihat ke arah langit, tiba-tiba ada satu kartu berkilau yang jatuh ke arahku. Aku pun menangkapnya.
"Kartu apa ini?" Tanyaku kepada diri sendiri.
Kartu itu berbentuk persegi panjang, bentuknya sepanjang sekitar 15 cm dan lebarnya sekitar 5 cm, memiliki gambar monster aneh di depan dan di belakang hanyalah motif garis.
Klotak.. (Suara benda jatuh)
Kemudian dari kartu yang sedang kupegang itu jatuh sebuah kotak berwarna merah agak panjang, berbentuk seperti jam tangan dan juga memiliki layar. Kotak itu kurang lebih sama seperti smartphone namun lebih ramping lebarnya dan lebih tebal sekitar tiga kali lipat.
“Apa ini..?” Ucapku melihat ke kotak yang jatuh.
Layar di kotak itu menyala, lalu aku mengambil kotak itu. Di layar juga tertera jika nama dari kotak ini yaitu Skill deck. Ada detail namaku juga di kotak itu.
“Skill deck? Benda apa ini?” Aku heran.
Lalu setelah itu aku melihat kartu yang sedang aku pegang ini.
[Hayase, MK I*]
*MK adalah Mark(Level) monster sedangkan I adalah angka romawi dari 1
Tertera lambang api di pojok kiri atas dan juga nama Hayase dengan Mark 1 di kanan bawah. Kartu ini bergambar kelabang. Sebenarnya ini agak mencurigakan bagiku. Pertama salju, lalu yang kedua kartu dan yang terakhir skill deck. Ini semua tidak lazim, tapi yang ingin aku tahu sebenarnya apa yang terjadi malam ini? Dan kenapa ada kartu dan benda aneh ini. Tidak lama berselang, kotak itu kemudian memunculkan sebuah tulisan.
“Battlefield, In?” Aku membacanya dengan rasa penasaran.
Tiba-tiba di bawah kakiku muncul lingkaran merah. Lalu lingkaran itu memancarkan cahaya menyelimuti tubuhku lalu menuju ke atas sampai di atas kepalaku. Aku seperti di dalam tabung cahaya berwarna merah rasanya. Tak lama kemudian cahaya merah itu menghilang.
Lalu hal yang lebih buruk terjadi, aku secara tidak sadar berada di hamparan padang rumput yang luas, dan juga hari menjadi siang. Bagaimana ceritanya, tadi jam di smartphoneku menunjukkan pukul 7 malam tadi tetapi di sini, saat ini berubah menjadi siang dan matahari bersinar dengan sangat teriknya. Ini terlihat seperti jam 12 siang malah.
"Di mana aku? Tempat apa ini? Kenapa jadi siang hari?" Tanyaku kebingungan.
Tak lama berselang, banyak anak-anak lain yang juga datang ke tempat ini. Ternyata hal ini tidak hanya terjadi kepadaku, satu persatu lingkaran yang seperti tadi muncul di berbagai tempat. Warna merah, kuning, coklat, hijau, biru dan ungu muncul. Aku memutuskan untuk segera menjauh dari sini karena tempat ini semakin ramai dengan kedatangan orang-orang.
Aku tidak ingin di ajak bicara orang lain apalagi ditanyai tentang tempat yang aku pun tidak tahu tempat apa ini. Berurusan dengan Luna hari ini saja sudah cukup membuatku lelah, apalagi harus ditambah dengan orang yang belum aku kenal. Aku melihat ke sebuah bukit, aku memutuskan untuk pergi ke puncak bukit agar aku tidak bertemu siapapun, semoga saja di sana tidak ada orang lain.
"Pertama-tama, lebih baik aku menyingkir dari tempat ini. Aku juga harus mencari tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi saat ini." Ucapku kepada diri sendiri.
Aku berlari ke bukit yang aku incar sebelum aku berpapasan dengan orang lain. Aku harus cepat karena tempat yang sedang aku lewati juga bermunculan cahaya yang membawaku ke tempat ini.