HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 23: Aku Mengakuinya



“Tio..!!" Luna kaget saat melihatku.


Luna tidak menyangka jika aku akan datang ke sini. Rambut Luna terlepas dari tangan Romi, namun rambutnya menjadi sedikit berantakan. Luna tidak terlihat senang saat aku menolongnya.


"Kenapa kamu malah datang ke sini?" Tanya Luna khawatir.


Aku mengabaikannya, aku tidak ingin pamer jika aku akan menolongnya. Meski aku juga tidak tahu seberapa tangguh diriku menghadapi mereka, yang terpenting Luna baik-baik saja.


“Cepat ke belakang! Aku akan mencoba menghadapi mereka." Kataku pada Luna.


"Eh, tapi.." Luna terhenti bicara.


"Sudah, cepat mundur." Potongku.


Aku memasang badan di depan Luna. Dia mendengarkan ucapanku dan Luna mundur agak jauh di belakangku. Sekarang, sepeda milik Luna dipegang oleh gerombolan Romi. Yang penting Luna terlebih dahulu.


“Mencoba menjadi pahlawan kau rupanya." Romi menatapku.


Romi dan gerombolannya maju ke arahku. Sekarang giliranku yang dikepung oleh anak-anak ini. Aku siaga sambil melihat mereka semua.


“Jika kamu berurusan denganku, tolong jangan libatkan orang lain. Jika kalian ingin menghajarku lakukan saja, jangan pernah sakiti orang lain karena masalahku." Aku memasang badan.


Aku sudah pasrah. Kali ini aku siap babak belur karena memang aku tidak memiliki kekuatan untuk melawan mereka semua. Aku meregangkan tanganku dan tak bergerak sedikitpun.


“Oh jika itu maumu, dengan senang hati kami akan melakukannya." Romi mengepalkan tangannya.


Mereka semua mulai mendekat. Mereka mulai mengepalkan tangannya bahkan ada yang mengambil sebuah balok kayu yang ada di parkiran sepeda. Mereka bersiap menghajarku.


“BERHENTI KALIAN SEMUA!!” Luna berteriak.


Terdengar suara teriakan Luna. Dia terlihat marah lalu mendekati gerombolan Romi. Saat Luna mendekat, dia terlihat mengeluarkan sesuatu dari tasnya.


“Sial, ayo kita kabur. Kita akan dalam masalah jika tetap melanjutkan ini." Kata Romi.


Gerombolan itu lari terbirit-birit dan membuatku heran. Apa aku sekarang mengerikan?


Namun ternyata itu semua hanyalah mimpi belaka. Setelah aku melihat ke belakang, aku menjadi lemas karena Luna memakai badge OSIS.


“Ternyata kamu anggota OSIS rupanya." Ucapku lemas.


“Maaf karena selama ini aku tidak memberitahumu, karena aku sendiri juga sama sekali tidak menginginkan posisi di OSIS sebagai komisi kedisplinan. Jadi aku tidak pernah mau memakai badge ini." Jelas Luna.


Luna sedikit menjelaskan tentang badge itu kepadaku. Badge miliknya adalah badge komisi kedisiplinan, di mana posisi itu yang paling ditakuti oleh anak-anak pembuat onar seperti Romi tadi.


"Lalu jika kamu tidak ingin menjadi OSIS, kenapa kamu masuk OSIS?" Tanyaku penasaran.


"Aku diajukan oleh teman-temanku di OSIS. Alasan mereka karena aku menyeramkan dan tiba-tiba guru pembimbing OSIS menyetujuinya. Mau tidak mau aku harus menerimanya." Keluh Luna.


Ya memang pandangan teman-temanmu tidak salah. Kamu sudah lebih dari menyeramkan bagiku, itulah yang kuucap dalam hati. Akan tetapi, menjadi Luna cukup berat dengan adanya jabatan paksaan itu. Aku sendiri juga belum tentu mau melakukannya jika dipaksa sepertinya. Aku mengesampingkan hal itu, lebih baik aku menanyakan tentang kondisi Luna.


“Terserahlah, tapi kamu tidak apa-apa kan? Kamu tidak terluka kan?”. Tanyaku memastikan.


Luna tersipu malu dan wajahnya sedikit memerah. Dia memeriksa tubuhnya dan tidak ada yang terluka.


“Tidak, aku tidak apa-apa. Terima kasih telah menghawatirkanku." Jawab Luna.


Jadi itu alasan wajahnya memerah. Aku menghawatirkannya?, jangan bercanda. Aku tidak tahu lagi aku harus bicara apa kepadanya, yang jelas aku tidak boleh terlihat seperti sedang menghawatirkannya.


“Syukurlah kalau begitu. Aku minta maaf karena telah menyeretmu ke dalam urusan pribadiku." Aku menundukkan kepalaku.


Ada yang lebih penting yang harus aku bicarakan dengan Luna. Aku harus meminta maaf karena diriku, Luna terancam disakiti oleh gerombolan Romi tadi. Karena sudah aku bilang jika Romi dan kawan-kawan tidak akan semudah itu melepaskan orang yang mengusik kehidupannya.


Aku juga sebenarnya berterima kasih kepadanya. Tanpa badge OSIS milik Luna, entah akan seperti apa aku tadi. Namun, aku terlalu bingung untuk mengungkapkan ke Luna. Aku tidak ingin dia salah paham nantinya.


“Kalau itu sih aku tidak masalah. Minta maaflah tentang hal lain." Luna marah.


“Eeehhh, kenapa malah kamu jadi marah? Aku salah apa lagi?” Aku bingung.


“Kamu ini memang tidak peka ya? Apa kamu masih ingat saat di kelas tadi kamu bilang pada mereka kalau kamu tidak punya teman?” Luna cemberut.


Oh ternyata itu. Wajar saja aku membalas mereka seperti itu karena aku tadi terbawa emosi. Aku meminta maaf kepada Luna dan mulai hari ini, aku resmi menganggapnya teman setelah apa yang dia lakukan hari ini kepadaku.


“Baiklah aku minta maaf. Biar kuluruskan, mulai hari ini kamu adalah benar-benar temanku. Aku janji." tegasku pada Luna.


“Benarkah?” Luna memastikan.


“Iya, iya, aku tidak bohong. Sebagai bukti aku akan bercerita ke ibuku nanti. Ibuku adalah orang yang paling sensitif kepada siapa saja yang dekat denganku. Namun jika aku sendiri yang bercerita, ibu akan mempercayainya." Lanjutku.


“Yyyyyeeeeeyyyyy. Akhirnya..” Luna berteriak kesenangan.


Luna melompat-lompat saking senangnya. Dia sedikit aneh di mataku, memang apa yang menyenangkan dari sebuah pertemanan?. Hari semakin sore, aku mengajak Luna pulang sebelum mereka merencanakan sesuatu di jalan nanti.


“Dasar kamu ini, ayo pulang." Ajakku.


“Bareng ya sampai gerbang." Balas Luna.


Sebelum pulang, Luna mengeluarkan kartu Fox. Dia berbisik pada Fox.


“Kamu dengar itu Fox, aku berteman dengannya." Bisik Luna


“Aku turut senang mendengarnya. Ijinkan aku menjadi bentuk Fairy lagi, sekarang giliranku untuk meminta maaf kepadanya." Balas Fox.


Luna senang mendengarnya, tanpa berpikir panjang Luna mencabut semua yang dia larang pada Fox.


“Sekarang aku mengijinkanmu ke bentuk Fairy lagi, tapi ingat ijin ini hanya berlaku saat kamu berkelakuan baik. Saat kau mengulangi seperti kemarin hukuman ini akan otomatis aktif kembali." Jelas Luna.


“Itu sudah cukup. Akhirnya kekejamanmu selama ini berakhir juga." Fox lega.


“Apa katamu?” Luna menggertak Fox.


“Jangan anggap serius kata-kataku tadi, aku hanya sedikit bercanda. Sejak hari itu aku ingin sekali meminta maaf padanya." Kata Fox.


Aku melihat Luna diam saja sedari tadi. Tiba-tiba, Fox menjadi bentuk fairy Lalu menyapaku.


“Hai anak muda, siapa namamu?" Sapa Fox.


“Eh Fox! Perkenalkan aku Tio." Aku memperkenalkan diri.


Pantas saja dia diam, ternyata dia berbicara dengan Fox. Lalu tiba-tiba Fox mengajakku bicara, ada apa ini?


“Tio, aku minta maaf kelakuanku pada hari itu. Aku tidak tahu tentangmu jadi aku sangat minta maaf." lanjut Fox.


Ternyata Fox meminta maaf kepadaku tentang kejadian hari itu. Aku merasa lega dan aku memaafkan Fox yang tidak tahu tentang diriku.


“Hmm baiklah, aku memaafkanmu. Saat itu aku sedikit terbawa emosi karena aku sering kalah saat bermain game. Mengetahui monsterku adalah Mark paling bawah atau terlemah membuatku sedikit emosi dan marah." Jelasku pada Fox.


“Terima kasih banyak." Ucap Fox


Fox kemudian kembali ke wujud kartu. Luna kemudian bergegas mengambil sepeda miliknya. Aku dan Luna melanjutkan berjalan, namun saat ingin melewati pohon ada seorang gadis yang mengintip kami


“Kamu mengenalnya?” Tanyaku ke Luna.


Terlihat seorang gadis yang mencurigakan. Dia mengendap-endap dan juga mengintip dari balik pohon yang ada di depan sekolah. Siapa dia?


“Oh itu Aria, dia anggota OSIS juga." Jawab Luna.


Ternyata teman Luna, aku kira siapa? Luna kemudian memanggil gadis itu.


“Oooiiii Aria, apa yang kamu lakukan di situ?” Panggil Luna.


“A-a-anu, aku menunggumu. Bukankah kita ada janji ingin pergi mengantar kakakku beli buku?” Jawab Aria.


“Asstaagggaaa, aku lupa." Teriak Luna.