
“Sudah jangan seperti ini. Bukankah kita ingin membahas sesuatu yang penting di sini? Bagaimana kita akan bisa mengalahkan musuh jika dari kita saja tidak kompak begini." Ryan menyela
Ryan mencoba untuk memperbaiki suasana. Kami semua kemudian tersadar jika tidak baik kalau seperti ini. Aku mencoba mengalah, aku setuju dengan Ryan. Semua orang di ruang OSIS mengangguk kepada Ryan.
“Bagaimana kalau kita mulai lagi dari awal?” Tanya Andreas.
Semuanya di sini setuju dengan Andreas dan kami juga melupakan hal yang terjadi barusan. Kemudian Andreas melanjutkan. Andreas kemudian datang menghampiriku.
“Tio, lihat monstermu." Andreas mengulurkan tangannya meminta kartu monsterku.
Aku masih sedikit marah kepadanya, namun sekarang aku harus kooperatif dengannya. Aku kemudian menyodorkan monsterku dan Andreas menerimanya.
“Silahkan." Aku memberikan kartuku.
Andreas melihat monsterku dengan seksama. Kenapa Andreas sampai ingin melihat monsterku. Apa dia ingin mengejekku lagi? Aku harus bersiap menghadapinya.
“Hayase ya, jadi pertemuan kita bebas dari mata-mata." Lanjut Andreas.
Heh, mata-mata? Apa maksudnya? Jadi ternyata Andreas tidak mengejek monsterku tapi malah aku berburuk sangka kepadanya.
"Mata-mata?" Tanyaku.
"Ya, orang yang tadi kita bahas mungkin orang yang berbahaya. Maaf jika kami tidak menjelaskannya kepadamu. Aku sungguh tidak tahu jika monstermu tidak bisa bicara." Jawab Andreas lalu memberi penjelasan.
Oh begitu ternyata. Andreas bisa di bilang tidak bersalah karena memang dia tidak mengenalku. Aku paham sekarang dan berusaha untuk lapang dada menghadapi Andreas. Jadi itu inti pertemuan ini, aku jadi penasaran bagaimana kelanjutannya.
“Baiklah sebelum mulai, lebih baik aku akan berjaga di dekat pintu untuk jaga-jaga." Ryan berdiri dari tempat duduknya.
“Terima kasih, tolong amankan area itu. Kita tidak tahu jika ada yang menguping di sana." Andreas setuju.
Ryan membawa sebuah kursi dan meletakkannya di dekat pintu ruang OSIS, dia juga menggeser sedikit pintu itu agar dia bisa melihat daerah luar. Ryan tidak ingin pembicaraan mereka bocor ke mata-mata itu.
Ryan tidak seharusnya di situ, dia harus mengikuti dengan benar rapat ini. Aku kemudian berdiri dan mengusulkan jika aku saja yang berjaga. Aku merasa tidak terlalu penting untuk membahas hal ini. Lebih baik aku menyimak mereka.
“Tunggu.. Biar aku saja yang di situ." Usulku.
“Ada apa Tio?” Ryan bertanya.
“Karena di sini hanya aku yang memiliki monster Mark 1, jadi akan lebih baik aku yang berjaga sedangkan kalian berenam membahas apa yang ingin kalian bahas hari ini. Aku bisa mendengarkan sedikit-sedikit dari situ." Jawabku.
Ryan memikirkan tawaranku. Dia akhirnya setuju.
“Baiklah, mohon bantuannya dan terima kasih.” Balas Ryan.
Aku dan Ryan kemudian bertukar tempat. Ryan membawa kembali kursinya sedangkan aku memutuskan untuk berdiri saja bersandar di tembok.
“Baiklah Lancer, silahkan mulai." Andreas mempersilahkan Lancer menjelaskan.
Lancer sedikit terbang maju ke depan dan sedikit lebih tinggi di atas kepala. Lancer mulai menjelaskan apa yang terjadi.
“Hal yang terjadi di skill deck itu bukanlah hal yang aneh. Kepingan naga yang terlahir kembali telah menemukan orang yang jalan pikirannya sama dengannya. Karena itu kepingan dewa menyembunyikan identitas pemiliknya dan juga identitas dari dirinya sendiri. Karena aku tahu benar obsesi sang dewa yang sangat ingin menjadi kuat. Dia pasti sekarang mencari cara agar bisa kembali menjadi bentuk terakhir sebelum dikalahkan kesatria naga." Jelas Lancer.
Kepingan naga? Jadi naga itu telah bangkit? Meskipun aku hanya dijelaskan oleh skill deck, namun aku tahu jika adanya Battlefield disebabkan oleh dewa naga itu. Ini menarik, memang ini hal yang sangat penting bagi mereka.
“Penjelasan Lancer cukup masuk akal." Ryan setuju dengan Lancer.
“Jadi kepingan dewa itu sudah menemukan partner ideal untuknya?” Luna antusias.
“Ya, karena tingkat 1 pada prasasti kegelapan telah aktif berarti tidak salah lagi, aku sangat yakin jika orang yang di rank 1 itu bersama kepingan dewa." Balas Lancer.
“Lalu bagaimana menurutmu Lancer? Bukankah kepingan dewa itu membahayakan? Bahkan Monster world pun sempat dibuatnya kacau." Tanya Kevin.
Lancer kembali menjelaskan serta menjawab pertanyaan Kevin. Bukan tanpa tujuan keenam monster itu turun ke dunia manusia, mereka tidak boleh membuang waktu.
“Aku, Fox, Phoenix, Titan, Fenrir dan Mage turun ke dunia manusia bukan tanpa alasan. Kami diutus langsung oleh keenam dewa utama. Setelah kami turun, kami langsung memilih kalian berenam karena saat kami turun kami harus menentukan datang ke siapa sebelum sampai di permukaan. Sesaat sebelum kami turun dari Battlefield, kami melihat kalian berenam melakukan pertemuan seperti ini, kami melihat kekompakan kalian saat itu dan di saat fenomena itu terjadi kami segera menentukan pilihan kami masing-masing di antara kalian. Seperti kata Andreas tadi. Karena kami memiliki misi, secepatnya kami harus menemukan dan mengalahkan kepingan dewa itu sebelum dia bertambah kuat." Jelas Lancer.
Hebat, ternyata mereka keenam monster utusan dewa utama. Betapa beruntungnya mereka berenam memiliki monster kuat seperti itu. Aku yang bersandar di tembok dekat pintu hanya bisa memandangi Hayase. Aku merasa iri pada mereka.
Phoenix adalah monster milik Ryan, sang Phoenix yang memberikan kekuatannya kepada kesatria naga saat membangun Battlefield beratribut Wind setelah mengorbankan atribut apinya. Lalu Titan adalah monster milik Kevin, monster raksasa reruntuhan legendaris beratribut Earth. Dan Fenrir monster milik Astrid, sang serigala raksasa berkaki 2 beratribut Water. Itu semua adalah monster selain Lancer, Fox dan Mage.
“Jadi benar kita akan mencarinya?” Tanya Astrid.
“Tidak! Ada hal yang lebih penting.” Jawab Lancer.
“Apa itu?” Lanjut Ryan.
“Kita harus memperkuat kekuatan masing-masing terlebih dahulu." Balas Lancer.
“Maksudmu?” Andreas bertanya.
Lancer menjelaskan tentang mereka harus berduel terlebih dahulu. Karena menyergap tanpa ada persiapan itu sama saja bunuh diri. Di lihat dari statistik duel, orang yang bernama Stalker itu lebih baik dari mereka semua. Ada baiknya mereka juga menggunakan dan juga meningkatkan kekuatan masing-masing monster.
“Hanya Tio dan Luna yang baru merasakan duel di sini. Mereka sedikit tahu cara menggunakan monster mereka, namun itu belum begitu maksimal. Sedangkan kalian sisanya bahkan aku belum sama sekali melakukan duel. Melawan dewa tanpa kekuatan hanya akan berakibat buruk. Bahkan kesatria naga saja harus tumbang karenanya." Jelas Lancer.
Andreas setuju dengan Lancer. Dia kemudian mendapatkan sebuah ide cemerlang. Latihan, ya selain untuk menyembunyikan keberadaan keenam monster, latihan juga sama saja mengasah kemampuan.
“Baiklah aku punya ide." Balas Andreas sambil berdiri.