HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 19: Pelajaran Olahraga



Bel masuk pelajaran berbunyi. Tak lama kemudian, seorang guru olahraga masuk kelas. Hari ini adalah hari sabtu, di mana jadwal pelajaran olahraga. Tetapi sudah sejak aku SD aku tidak pernah mengikutinya. Berkumpul dengan semua orang adalah hal yang sangat buruk.


“Berdiri." Instruksi ketua kelas


Semua siswa termasuk aku berdiri untuk memberi salam kepada pak guru.


“Beri salam." Ucap ketua kelas lagi.


“Selamat pagi pak guru." Ucap semua siswa.


“Selamat pagi." Guru olahraga membalas.


“Duduk." Lanjut ketua kelas.


Semua siswa kembali duduk di tempat duduk masing-masing. Guru itu bernama pak Indra, dia seorang guru yang sangat baik padaku. Aku selalu bisa mendapatkan nilai meskipun aku tidak mengikuti pelajaran olahraga. Akan tetapi, pak Indra juga tidak memperlakukan diriku dengan spesial. Aku harus melakukan hal lain untuk mendapatkan nilai.


“Baiklah semua silahkan ganti pakaian olahraga lalu menuju lapangan di belakang sekolah." Ucap pak Indra.


“Baik pak." Jawab para siswa.


Hari ini pelajaran olahraga di lapangan belakang seperti biasa, tempat yang aku dan Luna gunakan untuk berduel kemarin. Para siswa menuju ke ruang ganti masing-masing, ada 2 ruang ganti, ruang ganti untuk perempuan dan laki-laki. Setelah semua siswa keluar ruangan ganti, aku baru mulai mengganti bajuku. Saat aku ingin berganti pakaian, aku berpapasan dengan Luna.


“Oooiii Tio, cepat bergegas." Teriak Luna.


“Nanti kususul." Jawabku malas.


Setelah semua siswa berkumpul di lapangan, aku baru saja bergegas ganti pakaian. Namun firasatku benar-benar tidak enak hari ini.


“Haaaahhhh.. Sudah kuduga ada yang hilang." Gerutuku kesal.


Aku melihat lokerku dan ternyata sepatu olahragaku tinggal satu. Aku sudah tidak kaget tentang hal ini, karena aku sudah sering mengalaminya. Dengan terpaksa aku menuju lapangan dengan sepatu yang biasa aku gunakan sekarang. Lagipula aku tidak ikut pelajaran juga.


Sesampainya di lapangan, aku tidak masuk di kerumunan. Namun aku berdiri sendiri agak jauh sambil mendengarkan penjelasan pak guru. Lalu setelah penjelasan selesai semua, siswa membentuk kelompok sedangkan aku menuju tempat favorit.


Tempat favoritku yaitu sebuah pohon besar yang ada di belakang sekolah dan cukup jauh dari lapangan. Ketika jam pelajaran olahraga, aku menghabiskan waktu di atas pohon itu sambil melihat siswa lain yang berolahraga. Aku pergi ke pohon itu lalu memanjat pohon dan duduk di atas dahan. Aku mengeluarkan buku catatan kecil yang sering kubawa.


Tentu saja aku selalu mencatat tentang pelajaran olahraga yang sedang berlangsung. Semisal hari ini di lakukan lompat jauh, lompat tinggi dan lari 100 meter. Karena aku juga harus melakukannya suatu saat. Saat sedang menulis di buku catatan, Luna memanggilku dari bawah pohon.


“Oiiii, sedang apa kamu di situ?" Panggil Luna yang menghampiriku.


Apa lagi sih ini anak. Aku kira dia sedang berolahraga di sana, tiba-tiba sekarang ada di bawah pohon.


“Aku selalu di sini saat jam olahraga." Jawabku santai dari atas pohon.


“Pantas kamu sering tidak kelihatan saat jam olahraga, ternyata selama ini kamu bergelantungan di sini rupanya." Balas Luna.


“Oiii tolong pilih kata-kata yang baik dan benar. Aku bukan monyet, jadi jangan pakai kata bergelantungan." Aku menjadi kesal padanya.


“Hehe maaf, maaf. Lalu apa yang kamu lakukan di atas situ?” Tanya Luna.


Aku sedikit menjelaskan kepada Luna apa saja yang aku kerjakan dari atas sini.


“Aku belajar materi hari ini, aku memang tidak ikut pelajaran olahraga tapi setidaknya saat ulangan nilai olahragaku tidak jelek." Jawabku.


"Belajar?" Tanya Luna keheranan.


Aku menunjukkan buku catatan yang aku bawa sekarang kepada Luna.


“Oh begitu rupanya. Baiklah aku akan menemanimu di sini." Luna duduk bersandar di pohon.


Luna belum mengetahui alasanku tidak mengikuti pelajaran. Kalau saja pak Indra tahu, Luna pasti akan dimarahi nantinya.


“Oiii dengarkan aku Luna, itu sungguh ide yang buruk jika kamu di sini." Aku memberitahu Luna.


Luna terlihat mengabaikanku. Dia tidak perduli dengan apa yang aku katakan.


“Ahhh... di sini sungguh sejuk rupanya." Ucap Luna.


Tak lama kemudian, terlihat pak Indra yang datang menuju kemari. Aku sengaja tidak memberitahu Luna, aku ingin sedikit melihat bagaimana ekspresinya saat bertemu pak Indra nanti.


“Luna, apa yang kau lakukan di situ?" Teriak pak Indra.


Pak Indra yang melihat Luna duduk-duduk santai di bawah pohon langsung memarahinya. Luna langsung berdiri mendengar suara pak Indra.


“A-a-a-anu pak, tadi aku tadi melihat Tio berjalan ke sini jadi aku datang untuk menanyakannya kenapa tidak ikut olahraga." jawab Luna kaget.


“Sudah kembali ke lapangan sana. Kalau Tio memang sudah biasa di situ, kamu tidak usah ikut-ikutan. Apa kamu mau bapak nilai 0 hari ini?” Tanya pak Indra.


Aku menahan tawa dari atas pohon melihat Luna yang dimarahi pak Indra. Aku memutuskan turun dari pohon untuk menghormati pak Indra yang ada di bawah.


“Sudah kubilang kan itu ide yang buruk, malah kamu tidak mendengarku tadi." Aku menyindir Luna sambil turun dari pohon.


“Ampun pak, aku akan kembali kelapangan. Dah Tio, sampai nanti." Luna bergegas kembali.


Luna pun lari terbirit-birit ke lapangan. Terlihat dia sangat kesal kepadaku, saat kembali ke lapangan dia mengepalkan tangannya kepadaku. Setelah itu, pak Indra datang menghampiriku.


“Belajar yang rajin ya Tio." Kata pak Indra.


“Terimakasih banyak pak, bapak telah banyak membantuku." Jawabku sambil menundukkan kepala.


“Tidak masalah, baiklah bapak kembali ke sana dulu. Jika kamu butuh sesuatu cari saja bapak." Lanjut pak Indra


“Baik pak." Balasku.


Guru olahraga kembali ke lapangan, aku juga kembali naik ke atas pohon. Aku melihat ke lapangan, aku melihat Luna yang kesal dan mengepalkan tangannya lagi kepadaku. Semoga tidak terjadi hal buruk padaku saat istirahat nanti. Malas sekali berurusan dengannya. Aku kembali membuka buku catatanku di atas pohon.


Di Lapangan, Luna merasa di curangi oleh Tio. Dia merasa pak Indra telah memihak Tio karena buktinya Tio tidak dimarahi sama sekali. Luna ketakutan karena tiba-tiba pak Indra muncul dan dia dimarahi. Luna melihat ke arah pohon itu lalu melihat ke arah Tio. Luna mengepalkan tangannya karena dia kesal dengan Tio.


"Awas saja kamu Tio. Hmph.." Ucap Luna yang kesal.


Luna dipanggil oleh kelompok olahraganya. Dia juga harus melanjutkan pelajaran sekarang.


"Luna, sini.."


"Dari mana saja kamu? Katanya ke toilet"


Mendengarnya, Luna merasa sedikit tidak enak. Dia segera mencari alasan.


"Aduh maaf-maaf, aku kelamaan. Baiklah ayo kita lanjutkan." Balas Luna


Kemudian Luna melanjutkan berolahraga dengan teman-temannya. Luna sekarang bagian mengukur jauh dari lompatan teman-temannya.