
Luna, Aria dan Airi telah sampai di restoran cepat saji yang dijanjikan. Mereka bertiga memesan makanan untuk mereka makan sembari menunggu kedatangan yang lain. Setelah memesan dan makanan mereka juga telah siap, Luna mengajak ke meja biasanya
“Yuk ke sana!” Ajak Luna sambil menunjuk meja di pojokan.
Aria dan Airi mengikuti Luna, mereka kemudian duduk lalu memakan apa yeng telah mereka beli.
Tak lama, Astrid muncul dari pintu restoran. Dia memesan makanan terlebih dahulu sebelum menuju tempat mereka bertiga duduk.
“Itu Astrid!” Ucap Aria
Astrid telah mendapatkan makanannya lalu berjalan menuju tempat duduk untuk berkumpul.
“Maaf, maaf, aku lama.” Ucap Astrid sambil duduk.
“Tidak kok, nyatanya belum ada anak laki-laki yang tiba di sini.” Balas Luna.
Astrid melihat ke sekeliling dan baru sadar ternyata hanya baru dirinya yang tiba di tempat itu selain yang ditelepon tadi.
“Hmm.. Iya nih mana yang lain?!” Tanya Astrid.
“Sudah mereka memang tidak dapat diharapkan, lebih baik kita makan dulu.” Jawab Luna sambil memegang burgernya.
Mereka berempat melanjutkan makannya sambil mengobrol ringan sembari menunggu kedatangan yang lain. Luna sudah tidak heran jika semua anak laki-laki pasti akan datang terlambat, karena memang itulah kebiasaan mereka.
Setelah menunggu cukup lama dan makanan para gadis sudah tinggal kentang goreng dan minum, ketiga anak laki-laki itu akhirnya tiba di restoran. Mereka bertiga hanya memesan minuman soda saja lalu langsung berkumpul di tempat duduk.
“Maaf kami terlambat.” Ucap Andreas.
“Kalian pasti sengaja kan?” Tanya Luna sambil melirik tajam.
“Kami hanya ketemuan di perempatan tadi.” Jawab Kevin.
“Sshhh... Malah bilang bilang.” Ryan berusaha mengingatkan Kevin.
“Oh iya, lupa.” Kevin teringat.
Luna mengerutkan keningnya ketika mendengar percakapan ketiga anak laki-laki itu. Memang benar adanya jika mereka pasti janjian untuk ketemu terlebih dahulu sebelum datang ke tempat berkumpul itu.
“Sudah kuduga kalian pasti janjian ke sininya! Sudahlah, kalian datang saja aku sudah berterima kasih.” Balas Luna sedikit kesal.
“Lalu ada apa kamu memanggil kita semua ke sini?” Tanya Andreas sambil menyedot minumannya.
Luna memulai membahasnya dengan sebuah pertanyaan umum yang sebenarnya semua pasti sudah mengetahuinya. Namun Luna ingin memperdalam semua itu sekarang.
“Tentang pengumuman dan klarifikasi pagi ini kalian pasti sudah tahu kan?” Luna memulai pembicaraan.
“Iya, orang-orang yang bermasalah kemarin menghilang kan? Parahnya mereka semua menghilang bersamaan secara misterius. Kalau itu mah tadi pagi juga semua sudah tahu.” Balas Andreas.
“Itulah alasanku mengumpulkan kalian semua. Aku akan memberi tahu kalau Tio telah pergi dari kota ini karena hal itu, mungkin..” Ucap Luna sambil menyangga kepalanya menggunakan kedua tangan.
“Apa katamu?” Andreas terkejut.
Andreas meletakkan minumannya di meja dan mulai fokus berbicara dengan Luna. Andreas merasa sedikit menghiraukan Luna karena dia pikir tidak ada hal penting yang akan dibahas untuk saat ini. Nyatanya, ternyata Tio secara diam-diam pergi dari kota ini dan membuat Andreas terkejut karenanya. Bisa-bisanya Andreas tidak mengetahui hal sebesar ini. Tidak ingin menambah pertanyaan dari yang lainnya, Luna pun melanjutkan menjelaskan.
“2 hari ini dia sudah tidak berangkat. Kemarin aku ke sana tetapi rumahnya kosong dan hari ini aku ke sana lagi dan bertemu tetangga Tio. Bibi itu bilang jika Tio pergi ke rumah kakeknya.” Jelas Luna.
“Kenapa dia harus pergi? Kalau begitu ayo kita susul dia ke sana.” Andreas berniat mencari Tio.
“Jangan bercanda Andreas! Kita tidak mungkin bisa mencarinya. Bibi itu memberi tahu jika rumah kakek Tio harus ditempuh menggunakan kereta dan melalui stasiun yang ada di seberang kota.” Luna mencegah Andreas.
Andreas langsung terdiam. Di sini dia menyadari dia tidak bisa melakukan apapun. Karena jika sudah menyangkut dengan stasiun di seberang kota, pasti jarak rumah kakek Tio sangatlah jauh.
“Lalu apa alasan dia pergi? Bukankah kita adalah teman?” Tanya Andreas dengan nada tinggi.
“Aku juga tidak tahu, Andreas. Kemarin guru yang mengajar di kelasku memberitahu jika Tio tidak berangkat namun surat izinnya ada di kepala sekolah. Di situ aku tidak merasa curiga, namun setelah Aria bilang soal izin khusus dan juga tentang pengumuman serta klarifikasi pagi ini, aku jadi yakin jika ada sesuatu di balik ini semua.” Jawab Luna.
“Sial, izin khusus ternyata. Kita tidak akan mudah untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.” Andreas kesal setelah mengetahui tentang izin khusus.
Mendengar apa yang Luna dan Andreas bicarakan, Astrid geram dan langsung berdiri. Astrid teringat dengan apa yang dia bahas dengan Fenrir semalam. Setelah berdiri, Astrid pun langsung membuat kejutan.
“APA KALIAN SEMUA TIDAK PAHAM? TIO PERGI KARENA DIA KHAWATIR DENGAN KITA SEMUA!” Teriak Astrid sambil menggebrak meja.
Sontak semuanya kaget, tidak hanya mereka yang berkumpul namun pengunjung restoran lainnya dan juga pegawai restoran itu langsung menoleh ke arah Astrid semua.
“Tenang Astrid, tenang.” Aria berusaha menenangkan Astrid.
“Mana bisa aku tenang, kalian semuanya memang tidak peka.” Astrid kesal.
“Tapi ya jangan bikin orang jantungan juga lah, lihat sekelilingmu. Mereka semua melihat ke arahmu.” Sahut Luna.
Astrid lalu melihat ke sekeliling, pandangan orang-orang tertuju padanya. Astrid langsung tersadar dan merasa tidak enak karena tingkah lakunya sendiri.
“M-maaf, maafkan aku. Aku tidak sengaja barusan!” Ucap Astrid ke seluruh orang di restoran sambil menundukkan kepalanya.
Astrid meminta maaf ke seluruh orang yang ada di restoran tersebut. Tak begitu lama, situasi restoran pun kembali biasa karena orang-orang yang melihat kejadian barusan cuek-cuek saja dengan apa yang telah terjadi. Astrid pun kembali duduk untuk menjelaskan kepada semuanya.
“Dasar kamu ini Astrid, biasakan menahan amarahmu. Lalu ada apa sehingga kamu harus sebegitu emosinya barusan?” tanya Andreas.
Astrid menenangkan dirinya terlebih dahulu. Dia menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya dan diulang beberapa kali. Astrid belum sepenuhnya tenang dan juga dia belum menjawab pertanyaan Andreas. Semua orang begitu tegang saat ini melihat Astrid yang sebegitu marah namun tanpa sebab.
Astrid masih mengingat kejadian tadi dan juga ketidakpekaan teman-temannya. Namun Astrid mau tidak mau harus menahan itu semua untuk mulai menjelaskan. Astrid mengeluarkan kartu Fenrir dari sakunya, Astrid pun segera menyuruh Fenrir keluar menjadi bentuk fairy untuk ikut menjelaskan apa yang sebenarnya telah mereka berdua bahas semalam.
“Keluar kamu Fenrir, kita jelaskan ke semuanya apa yang kamu khawatirkan semalam.” Astrid menyuruh Fenrir keluar.