
“Ya sudah, aku mau pulang dulu.” Aku berdiri lalu turun dari tempat duduk.
“Tumben buru-buru kak?” Tanya Reza.
“Ada yang ingin aku lakukan setelah ini, lagipula hari juga sudah sore.” Jawabku.
“Iya sih, aku juga pulang deh!” Lanjut Reza.
“Oke, sampai besok.” Balasku.
Aku dan Reza memutuskan untuk pulang. Aku ingin segera mandi karena hari sudah sore, dan juga ada satu hal yang ingin aku pastikan.
Sesampainya di rumah kakek, aku langsung menuju ke kamar. Aku membuka tas koper milikku lalu mencari smartphone milikku. Setelah ketemu, aku memegang smartphoneku dengan kedua tangan
“Apa aku harus menghidupkan ini?” Tanyaku pada diri sendiri.
Aku terpikirkan oleh apa yang tadi aku bahas dengan Reza. Dia benar jika aku harus segera pulang karena kalau terlalu lama di sini aku juga akan kerepotan sendiri nantinya. Banyak pelajaran sekolah yang telah aku lewatkan selama tiga minggu ini dan semua itu aku harus mengejar materinya besok.
Aku masih ragu untuk menghidupkan smartphone ini tapi di sisi lain aku juga penasaran dengan keadaan mereka semua. Di sini aku kebingungan tapi malah aku memencet tombol power smartphone secara tidak sengaja. Smartphoneku akhirnya menyala kembali.
Kling.. kling.. kling.. kling.. (Bunyi notifikasi bertubi-tubi)
“Berisiknya..” Ucapku ketika smartphone ini menyala
Banyak sekali pesan masuk di smartphoneku ini. Aku kemudian melihat layar smartphoneku dan menemukan banyaknya pesan yang masuk. Itu cukup mengejutkanku dan sekarang aku benar-benar berpikir kalau selama itukah aku pergi?
[99+ pesan baru, 6 pesan suara]
Tertera pemberitahuan yang sangat banyak, ada 99 lebih pesan baru. Setelah aku lihat ternyata Luna mengirim banyak pesan chat padaku, sisanya ada dari Aria serta yang lainnya.
Di sini aku malah lebih penasaran dengan 6 pesan suara yang ada. Aku kemudian memutar pesan itu satu persatu.
[“Tio, kamu kenapa? Kamu sakit?” Luna]
[“Tio rumahmu kosong, kamu ke mana?” Luna]
[“Kami mendapatkan pengumuman tentang orang-orang yang mem-bully-mu menghilang. Kamu ada di mana Tio? Kamu tidak apa-apa kan? Kenapa nomormu tidak aktif sampai sekarang?” Luna]
[“Kenapa kamu pergi dari sini Tio? Kenapa kamu menghilang? Jawab Tio kamu ke mana sekarang?” Luna]
[“Tio, kami sudah tahu tentang kenapa kamu pergi. Kami di sini baik-baik saja. Tidak ada satupun dari kami yang menghilang. Kami juga berharap kamu segera pulang. Kami akan terus mencarimu serta menunggu kepulanganmu.” Luna]
Mendengar beberapa voice pesan suara itu aku menjadi merasa bersalah serta merasa lega mereka semua baik-baik saja. Ternyata mereka semua begitu menghawatirkanku bahkan Luna juga terus mencariku. Masih tersisa 1 pesan suara yang tersisa, aku memutar pesan suara terakhir yang paling juga masih dari Luna.
[“Tio, cepat pulang. Aku merindukanmu!” Aria]
Bukan, ternyata pesan suara terakhir bukan dari Luna melainkan dari Aria. Jujur aku sedikit grogi setelah dia bilang merindukanku, jantungku berdetak kencang ketika mendengarnya. Apa dia sedang tidak sadar saat bilang begitu? Itu yang aku tanyakan dalam hati. Aku memutuskan untuk menemui ibu, sebelum itu aku kembali mematikan smartphoneku lagi.
Aku mencari-cari ibu di dalam rumah tetapi ibu tidak ada di mana-mana. Setelah aku keluar ke belakang rumah, aku menemukan ibu sedang mengangkat jemuran yang sudah kering. Aku kemudian memanggil ibu.
“Bu..!” Panggilku.
“Aku ingin bicara sesuatu bu.” Lanjutku.
Ibu mengambil pakaian kering terakhir dan memasukkan ke keranjang. Ibu kemudian berjalan menuju ke arahku, kemudian ibu menatapku dengan rasa penasaran.
“Kelihatannya serius, baiklah kita bicarakan di ruang tengah. Ibu mau membawa baju ini ke tempat setrika untuk ibu setrika nanti malam. Tunggu ibu di sana!” Balas ibu.
“Baik bu.” Aku mengerti
Aku lalu langsung menuju ke ruang tengah. Kebetulan saat aku mencari ibu tadi di ruang tengah ada kakek yang sedang menonton televisi. Aku kemudian duduk di kursi yang berbeda dengan kakek, sekarang aku malah menemani kakek di ruang tengah.
“Tumben kamu tidak bermain dengan Reza?” Tanya kakek.
Tiba-tiba kakek menanyaiku karena biasanya jam segini memang aku masih berada di kamar bermain game dengan Reza. Namun untuk hari ini kami telah selesai dengan permainan yang lainnya tadi beberapa saat yang lalu.
“Sudah, tadi kek aku diajak ke pinggir sawah sama Reza.” Jawabku.
“Oh, di bawah pohon itu?” Tanya kakek lagi.
“Iya kek, di sana sejuk sekali.” Jawabku lagi.
“Dulu tempat itu tempat kesukaan kakek bersantai. Tapi sekarang kakek sudah tidak bisa ke sana, bisa-bisa kakek sakit kebanyakan kena angin.” Kakek memberi tahu.
Ya memang sih angin di sana cukup kencang makanya sejuk, tapi untuk kakek jika ingin bersantai di sana memanglah sudah tidak memungkinkan. Mengingat kondisi kakek yang sudah menua, kakek lebih rentan masuk angin jika terlalu sering di luar rumah apalagi di tempat seperti ini di pinggiran sawah.
Tak lama kemudian, ibu datang ke ruang tengah. Ibu kemudian duduk dan langsung bertanya kepadaku. Ibu ingin tahu apa yang ingin aku bicarakan tadi.
“Kebetulan nih ada kakek, nah kamu mau bilang apa tadi?” Tanya ibu.
“Hmm kakek mendengarkan saja deh sambil menonton televisi.” Ucap kakek.
Kakek berusaha untuk tidak ingin ikut campur terlebih dahulu dan fokus menonton berita di televisi. Kemudian aku mengungkapkan apa yang sedari tadi aku pikirkan.
“Bu, bagaimana kalau kita pulang?” Tanyaku yang masih kebingungan.
Meskipun masih merasa bimbang, namun tetap aku tidak bisa menyembunyikan jika aku ingin segera pulang. Selain karena pelajaran, semua itu juga karena para OSIS baik-baik saja hingga sekarang. Aku sudah benar-benar tidak ada alasan lagi untuk tinggal di sini.
“Hah, ibu tidak salah dengar nih?” Ibu memastikan.
Sontak ibu terkejut dengan apa yang aku katakan tadi. Jelas saja karena semua itu belum pernah terpikirkan olehku dan aku juga belum pernah membahas dengan ibu jika aku ingin pulang.
“Tidak bu, ibu tidak salah dengar!” Tegasku.
Aku menegaskan lagi jika ibu tidak salah mendengar. Kali ini memang keinginanku sendiri untuk segera pulang. Hatiku masih bergetar setelah mendengar pesan suara tadi karena Luna begitu menghawatirkanku dan juga yang terpenting adalah pesan suara dari Aria.
Aku benar-benar tidak bisa mengabaikan mereka semua, terlebih lagi kekhawatiran yang lain saat aku membalas chat. Selain itu sekolah juga sudah mengumumkan jika kedelapan orang itu telah menghilang. Jika seluruh anggota OSIS masih dalam keadaan aman, aku sangat yakin pasti Andreas sudah bertindak dengan tepat.
Setelah itu, ibu langsung menatapku dengan serius. Kali ini giliran ibu yang menanyaiku.