Blue Eyes

Blue Eyes
KEMUNGKINAN LUNA99



Hari Minggu ini adalah hari Minggu pertama kebersamaan Cahaya dan Maulana.Dokter muda itu benar-benar membuat masakan spesial untuk Cahaya .


Gadis bermata hazel itu tak mau berpangku tangan,ia ingin belajar bagaimana cara memasak.Karena di Hutan,Cahaya hanya tahu bakar ayam dan ubi saja.


"Hemmm wangi"Cahaya mengendus aroma wangi dari bumbu yang ditumis.Ia memperhatikan bagaimana Maulana memasak.


"Itu udang??"Cahaya menunjuk daging udang yang sudah dikupas kulitnya.


"Iya ini udang"


"Gimana caranya kau menelanjangi udang itu?Kau juga memotong kakinya ??"


"Itu bukanlah hal yang sulit"Maulana menjawab dengan jumawa.


"Kau menguliti tubuh udang hidup-hidup?"


"Yah..itu lebih fresh dan lebih manis"


"Jahat sekali,,,kenapa kamu tidak bunuh saja dulu?"


Maulana tidak bisa menjawab,ia seperti dibuat ngeblank gara-gara pernyataan Cahaya tersebut.


Tiba-tiba ponsel Lana berdering, tangannya merogoh saku celananya dibagian belakang.Lana mengerutkan keningnya melihat nomor rumah sakit tertera di layar ponsel.


"Hallo..."sapa Lana sembari sibuk mengaduk masakan di atas teflon.


"Kenapa ??"Wajah Lana berubah,ia mematikan kompor lalu mendengarkan lebih fokus.


"Kok bisa???hemmmmmmmm baiklah"Lana mematikan sambungan,ia nampak gusar.


"Ada apa?"Cahaya jadi penasaran.


"Gibran...dia akan dikirim ke luar negeri untuk pengobatan"


"Hah??"Cahaya kaget mendengar nya."Dia kan tahanan,kok bisa??"


Lana menggeleng lemas.


"Ayo kita ke sana,aku tidak mau dia lolos begitu saja"Cahaya meraih tangan Maulana,namun pria itu justru membatu.


"Kenapa kamu diam??"Cahaya kaget melihat reaksi Lana.


"Mereka sudah pergi,jadi percuma kita menahannya"


"Tapi nggak bisa gitu dong,enak aja dia pergi jauh sedangkan kesalahan dia sangat fatal"


"Itulah hebatnya uang Ca...uang bisa membeli segala nya, termasuk keadilan"


"Tidak!!ini juga pasti akibat sihir Wewe gombel"


"Apapun itu... yang jelas kita sudah kalah"


Cahaya mengepalkan tangannya kuat.Ia kesal dan marah sekali.Namun sentuhan lembut tangan Maulana yang menggenggam membuat Cahaya tercenung.


"Jangan terbawa emosi,kita sudah berusaha semaksimal mungkin.Pasti Allah sudah mengatur keadilan yang terbaik untuk anak Sholeh seperti Adam"


Cahaya diam,ia teringat kata-kata Ibunya.


"Sehebat apapun dirimu,kau tidak akan mampu melawan takdir "


Lengkungan tipis di bibir Cahaya menandakan hati gadis itu bisa berdamai dengan takdir.


"Ya udah yuk kita sarapan dulu,aku sudah laper nih"Ajak Maulana,Cahaya mengiyakan.Mereka pun mulai menyantap hidangan di pagi itu.


"Ohhh jadi ini yang membuat kau tidak pernah pulang ke rumah ??"


Sontak dua orang yang tengah menikmati makanan menoleh ke arah datangnya suara.


Luna melipat tangan di dada dengan Tatapan menyelidik.


"Hey... adikku sayang.. Kemarilah!!kita sarapan sama-sama "Ajak Maulana dengan senyuman tanpa dosa.Sedangkan Cahaya memperhatikan Luna yang menjeling tajam ke arah nya.


"Siapa dia?? gebetan baru mu??"


"Emm bukan..dia Cahaya "Maulana memperkenalkan Cahaya"Ca...dia Luna adik kembar ku"


Cahaya mengguratkan senyuman manis,ia bangkit dari duduknya seraya mengulurkan tangan.Akan tetapi dengan kasar,Luna menepis tangan Cahaya .


Ia mendengus dengan langkah yang sengaja dihentakkan.Kemudian duduk di kursi bersebrangan dengan Cahaya .


"Kalian kumpul kebo ??"


"Lantas?? Seorang pria dan wanita tinggal satu atap tanpa ikatan keluarga ,apa namanya kalau bukan kumpul kebo"


"Dia karyawan ku di Rumah sakit, berhubung tidak ada tempat tinggal.Jadi aku bawa dia kemari"


"Kau pikir aku anak kecil??"Luna tetap tidak mudah untuk percaya.


"Terserah kamu mau percaya atau tidak ??Tapi ngomong-ngomong kamu tumben datang menjenguk ku? biasanya aku tidak pulang setahun pun,kau tidak perduli "


"Pela-cur mu yang satu lagi menghubungi ku,dan mengatakan jika kamu menyimpan seorang gadis di Villa ini"


Maulana mengerti siapa yang di maksud dengan pela-cur oleh adiknya.Dia menarik nafas pelan.


"Tapi...aku perhatikan,dia masih anak kecil"Luna menatap tajam gadis asing di depan nya.Maulana tersenyum tipis..


"Sampai kapan kamu mengakhiri petualangan cinta fiktif mu?? Apa kamu tidak pernah memikirkan aku??Apa kamu lupa akan adanya karma di dunia ini ??"


"Aku tidak pernah mempermainkan wanita Lun, aku putus dengan Ella karena kesalahan dia sendiri"


"Lalu dia?"Luna menuding Cahaya yang memilih untuk diam.


"Dia bukan siapa-siapa,aku sudah jelaskan padamu kan??"


"Lan... kalau dia tidak spesial bagimu, tidak mungkin kau akan menampung nya disini?"


"Yah,dia memang spesial..karena dia punya bakat yang bisa membantu ku menjalani tugasku di rumah sakit.Kau perhatikan dia baik-baik.. Tubuhnya memancarkan warna biru yang tidak pernah kamu temui dimana pun.Kecuali di mata Soraya "


Luna membuang muka,ia menarik sudut sebelah bibirnya.


"Jadi karena itu... karena dia mirip Soraya??"


"Siapa Soraya??"Cahaya memotong pembicaraan yang serius diantara kakak beradik itu.Cahaya merasa degup jantungnya terhenti saat mendengar nama Soraya disebutkan.


Luna tidak langsung menjawab,ia melirik Kakak nya yang juga tengah menatapnya.


"Kenapa diam??Aku ingin tahu siapa Soraya??"Cahaya memaksa untuk tahu.


"Dia salah satu keluarga kami"Luna menjawab.


"Bisakah aku bertemu dengannya ?"


Luna mengernyitkan kening,


"Kenapa kamu ingin bertemu dengan dia?"Lana jadi penasaran.


"Karena aku penasaran, cahaya biru dari matanya"


Maulana mengeluarkan ponselnya,ia menunjuk kan foto Soraya disana.


"Dia Soraya.."


Cahaya memperhatikan dengan seksama,degupan di dalam dadanya terasa menggema kemana-mana.Cahaya mengurut dadanya,namun justru semakin sesak sekali.Hingga memaksa Cahaya menarik nafas sebanyak mungkin.


"Kau kenapa ??"Maulana panik melihat keadaan Cahaya .Ia cepat meraih segelas air,lalu membantu Cahaya meminumnya.Akan tetapi,Cahaya justru terkulai lemas.Dia pingsan!


Maulana cepat bertindak,ia membopong tubuh Cahaya dan dibawa nya ke dalam kamar.Luna mengekor dengan perasaan yang bertanya-tanya.


"Kok dia malah pingsan sih?"Luna berkacak pinggang memperhatikan kakaknya yang meletakkan tubuh Cahaya dengan hati-hati di atas tilam.


"Aku juga merasa aneh, kenapa dia pingsan setelah melihat foto Soraya??"


"Berapa umur nya?"tanya Luna ,ia jadi teringat dengan Nur anak Soraya.


"Aku tidak tahu "


"Apa??berapa lama dia disini,dan kamu belum tahu apa-apa tentang dia?"


Maulana diam, memang dia belum sempat menanyakan tentang diri Cahaya.Karena sejak bertemu, mereka terlibat dalam kasus serius.


Luna menghela nafas dengan kasar.Ia melipat tangan nya dengan jumawa.


"Kalau dia ada kaitannya dengan Soraya, mungkin saja dia adalah anaknya yang hilang"


Maulana refleks menoleh,


"Maksud mu??dia???"Maulana tak mampu melanjutkan kalimatnya.


"Kalau dia benar anaknya Soraya,mampus kau"Luna melangkah keluar dari kamar itu,dan langsung diikuti oleh sang Kakak.