Blue Eyes

Blue Eyes
Blue Eyes : 14



"Kenapa memaksakan kebahagian untuk makhluk seperti Anna, biarkan ia mendapatkan kematiannya segera"


"Jangan seperti itu kakak, Aku sudah bersusah payah menaman mawar. Akan sayang jika tidak dipanen, akan rugi jika membiarkan mawarnya layu"


"Kenapa mengirim masa lalu kembali, kakak ingin jika Anna melakukan apa yg ia lakukan seribu tahun yg lalu"


"Diamlah dahulu, Aku belum mendapatkan penjaga kebun mawar yg baru. Lagipula baru kali ini aku bisa menanam mawar yg sangat indah"


"Mawar mawar apa? kubunuh juga nanti wanita monster itu"


"Itu berkah yg aku berikan kakak, tidak boleh menganggapnya sebagai sebuah aib"


"Kakak membuatku sakit hati dengan perkataan kakak"


"Sudahlah, cepat selesaikan pertemuan ini"


"Kakak, cepat selesaikan semuanya. Jangan mempermainkan takdirnya, Anna mungkin akan lebih menderita lagi"


"Sudah kukatakan dulu kenapa memberikan berkah itu kepada seorang gadis"


"Bukankah cantik jika matanya berwarna biru?"


"Iya kakak sama dengan warna bunga mawar yg aku tanam"


Salah satu Naka berdiri, hendak pergi.


"Aku pergi lebih dahulu?"


"Mau kemana?" tanya salah satu


"Ingin menemui anakku"


Ia tersenyum kemudian berjalan menjauh meninggalkan beberapa Naka disana.


-


"Ini dimana?" tanya Zara. Ia bingung sekali ketika membuka mata hanya putih yg ia lihat.


Sudah berjalan kesana kemari tapi tak ada yg bisa ia temukan, hanya putih dan kosong yg ia lihat. Saat sedang berjalan ia bertemu dengan perempuan tua yg membawa bunga berwarna putih, indah sekali.


"Nenek, tolong tunggu saya" kata Zara sambil mengejar sosok perempuan tua itu.


Semakin dikejar semakin ia menjauh membuat Zara lelah mengejarnya. Ketika ia terduduk karena kelelahan sosok perempuan itu muncul disampingnya membuat Zara terkejut. Namun, hanya sebentar karena kemudian ia bersikap biasa.


"Saya sudah pernah melihat yg seperti nenek" kata Zara.


"Kamu mau bunga ini?" tanya perempuan tua itu sambil menunjukkan bunga-bunga miliknya yg masih segar berwarna putih.


"Apakah saya boleh mengambilnya?" tanya Zara.


"Tidak boleh, belum waktunya kamu menerima bunga ini" kata perempuan tua itu.


Zara cemberut, sosok perempuan tua didepannya itu sedikit menjengkelkan. Beruntung saja ia seorang perempuan tua jadi Zara masih bisa menghormatinya.


Perempuan tua itu mengusak rambut Zara lembut membuat Zara merasa nyaman.


"Kamu benar-benar adik yg baik, bahkan sampai sekarang"


Tangan keriput si perempuan tua bergerak menyentuh dada Zara tepat dibagian jantung, tiba-tiba Zara merasakan rasa sakit yg luar biasa. Seperti ada yg tertarik keluar dari tubuh Zara.


"Bagaimana rasanya?" tanya perempuan tua.


"S-sakit sekali Nek" jawab Zara lemah.


"Anak panah yg menembus jantungmu dulu memang beracun, kamu sangat baik hati ingin melindungi kakakmu"


Tangannya terangkat, rasa sakit tadi berhenti membuat Zara menarik nafas dalam-dalam. siperempuan tua memberikan Zara sesuatu yg terbungkus kain.


"Ini untukmu, hadiah atas semua perilaku baikmu dulu" kata perempuan tua.


"Apa ini?" tanya Zara lirih.


"Aku tidak bisa memberimu bunga yg kupetik dari akhirat ini, sebagai gantinya karena aku menyukai aku memberimu benih kehidupan. Bawalah suatu saat kamu akan membutuhkannya... " kata perempuan tua sebelum Zara membuka matanya.


Nafasnya terengah-engah, Zara memegang dadanya kembali. Sedikit sesak masih terasa, keringat mengalir dari pelipisnya tapi satu hal yg aneh adalah minuman dibotol kecil dari bawah bantalnya.


Pintunya terbuka, ada Mama disana yg menatapnya bingung.


"Zara kenapa? mimpi buruk?" tanya Mama


"Tidak Ma" jawab Zara


"Ya sudah, mandi dulu sana. Kak Krist dan Kak Anna akan pulang hari ini" kata Mama.


Zara hanya menjawab "Iya Ma"