
"Tunggu!!"Irawan bangkit menghentikan gerak tubuh dua tamunya"Kalau boleh saya tahu,Dokter tahu dari siapa mengenai saya butuh donor tulang sumsum belakang?"
"Maaf jika saya lancang,rahasia itu pecah secara diam-diam.Karena sebab itulah saya datang secara pribadi kekediaman anda"
Irawan diam,ia memperhatikan Maulana dan Cahaya secara hati-hati.
"Mas..."
Suara istri Irawan mengalihkan perhatian semuanya.Wanita yang masih cantik diusianya yang berkepala empat itu menghampiri sang suami.
"Dari pada kita menunggu bayi itu berumur satu bulan,kalau memang gadis itu cocok dengan anak kita.Kenapa tidak dicoba?ini kesempatan yang tidak datang dua kali loh Mas"
Irawan masih ragu,tapi akhirnya ia mengangguk setuju.
"Baiklah...mari ikut saya,kami akan mengecek gadis ini apa dia cocok dengan Victor atau tidak "
Maulana dan Cahaya tersenyum lega.
"Baik..baik...mari"
Irawan berjalan beriringan dengan sang istri, menunjuk jalan untuk ke tempat ruang perawatan.
Maulana dan Cahaya mengikuti dengan iringan para bodyguard di belakang mereka.
Memang benar adanya apa yang diceritakan oleh Anies? bahwa jalan yang mereka tempuh semakin masuk ke dalam.
Sampai di penghujung jalan,mereka masuk ke sebuah ruangan yang menggunakan kode.Pintu terbuka,dan Nampaklah sebuah pemandangan yang mencengangkan.
Seorang anak laki-laki yang kira-kira berusia tujuh tahun sedang menulis di meja.Ia mengangkat wajahnya saat rombongan merengsek masuk ke dalam.
Cahaya melihat di ruangan yang bersebelahan dengan berdinding kaca.Seorang bayi tengah di beri susu,bayi itu tidak menangis meskipun di kedua lengannya menancap selang infus.
"Siapa dia?"Cahaya menunjuk bayi tersebut.
"Oh...itu anakku, yang rencananya akan dijadikan pendonor sumsum tulang untuk Viktor"jawab Irawan.Cahaya beradu pandang dengan Maulana ,mereka yakin jika itu pasti anak Anies.
"Apakah dia akan mati?"lanjut Cahaya .
"Tidak...ohya... sebentar lagi Dokter pribadi kami akan datang untuk mengecek apakah gadis ini bisa jadi pendonor atau tidak"Irawan mengalihkan pembicaraan.
"Aku ingin bayi itu dilepaskan"Cahaya menunjuk bayi yang hampir terlelap tidur.
"Apa ??"
Irawan dan istrinya saling berpandangan.
"Kenapa ??apa kalian keberatan ?? bukankah sudah ada aku yang akan menjadi pendonor"
"Sebelum kami tahu hasil test kecocokan diantara kamu dan anakku.Maka anak itu akan tetap disana"Istri Irawan cepat menjawab.
"Aku jamin, anak mu akan sembuh "ucap Cahaya mantap.Maulana membeliak kan matanya, apa-apaan kamu Ca?"batinnya.
Irawan dan istrinya tidak akan mudah untuk percaya,mereka sudah melalui banyak serangkaian test untuk putra mereka.Namun tak ada satu pun yang bisa cocok.Dan kali ini,mereka sudah mendapatkan sumsum yang cocok.Tapi diminta untuk dilepaskan,itu pasti tidak mungkin.
"Kau siapa?"Tetiba Irawan menjadi sanksi atas kehadiran dia orang tak dikenalnya itu.Tiga bodyguard yang sedari tadi sigap mendampingi langsung mengelilingi Maulana .
"Eh... bukan nya kami sudah memperkenalkan diri kami"jawab Maulana gelagapan,tiga pria berbadan besar di belakang nya membuat ia sedikit gentar.
"Aku tidak percaya,pasti kalian menginginkan anak itu "Irawan sudah mulai membaca apa keinginan tamunya.
"Iya!!"Jawab Cahaya cepat mendahului Maulana yang berencana untuk ngeles.
"Sudah ku duga... tangkap mereka "Irawan menarik istrinya untuk mundur.
Belum sempat bodyguard itu melangkah,Cahaya sudah menghantamkan pukulan angin kuat ke arah kaca yang menjadi dinding pembatas di ruangan itu.
THAR!!
Cahaya melompat ke ruangan bayi,ia mengambil bayi itu dan menggendongnya.
"Jangan!!"Istri Irawan berteriak histeris "jangan ambil anak itu,dia harapan kami sekarang"
"Aku akan menyelamatkan anakmu,asal kau biarkan kami membawa nya"Cahaya bernegosiasi.
"Aku tidak percaya "Istri Irawan menolak dengan jujur.
Cahaya mengangkat sebelah tangan nya yang tidak memeluk bayi.Secara ajaib, serpihan kaca di ruangan itu pun terangkat melayang di udara.
Mereka yang menyaksikan hal ini sangat terpesona.Bahkan anak Irawan menyentuh pecahan kaca yang melayang di depannya.
"Ah"Ia mengaduh karena ujung jarinya terluka oleh pecahan kaca.Sontak Irawan yang menyadari hal itu langsung panik.Istrinya pun tak kalah histeris.
"Apa kalian masih belum percaya jika aku bisa melakukan apa saja?"ucap Cahaya mengintimidasi lawan nya.
Irawan dengan cekatan membalut luka di jemari Victor.Sedangkan istrinya memeluk Victor dengan Tatapan mata kosong.
Cahaya menggunakan kesibukan Lawan nya untuk keluar dengan melompati dinding kaca yang masih tersisa.
Tanpa diduga, Istri Irawan bangkit.Ia meraih pecahan kaca yang melayang dan secepat kilat menyambar Maulana menggores lehernya.
Cahaya heran melihat Maulana yang seperti menahan nafas.Gerakan perempuan itu sangatlah tak terduga.
"Kau kenapa ?"tanya Cahaya yang masih tak mengerti.Maulana diam mematung,dalam hitungan detik darah menyembur dari goresan di lehernya.
Cahaya terbelalak,tanpa ia sadari Bayi yang digendongnya terlepas.Ia meluruh memeluk Maulana yang tersungkur.
Istri Irawan dengan sigap merebut bayi itu,ia tersenyum sinis.Lalu memberi kode agar pergi meninggalkan ruangan itu.
"Lan...Om..Dok...ah ka-kau kenapa ??"Cahaya gelagapan, apalagi darah semakin deras keluar.
KHEK KHEK KHEK
Hanya suara itu yang keluar dari rongga mulut Maulana .Ia sekarat,urat leher nya berhasil putus dengan sekali gores.
"Tidak....tidak...apa yang sebenarnya terjadi"
Sekilas Cahaya melihat suara pintu yang sudah tertutup.Cahaya tak perduli,ia sendiri bingung kenapa Maulana bisa terluka.
Pandangan mata Maulana mulai meredup,tangan yang digenggam oleh Cahaya melonggar.
"Tidak..tidak...tidak...kau tidak boleh meninggalkan aku....tidak..."Cahaya semakin panik, untuk terakhir kalinya Maulana mengulas senyum lalu ia melepaskan rohnya.
Cahaya tertegun, tubuh pria yang ia cintai sudah tiada.Ia tidak percaya dengan semua itu.Rasanya itu tidak mungkin.
Tangan Cahaya gemetar,ia mengangkat tangan Maulana lalu dilepaskan hingga terkulai di lantai.Air matanya meleleh,kini ia yakin jika Maulana sudah pergi dari kehidupannya.
AAAAKKKKKKKKHHHHHHHHHHHHHHH
Wussss Booom
Teriakan Cahaya menyayat hati, menjadi sebuah gelombang tsunami yang menghantam seluruh dinding hingga hancur porak poranda.
Keluarga Irawan terpental dan tertindih oleh reruntuhan dinding rumah nya.Mereka tidak pernah menyangka jika kesedihan seorang gadis mampu menjadi bom nuklir yang bisa meledak kapan saja.
Cahaya membuka kelopak matanya, cahaya merah menyilaukan terpancar dari dua bola matanya.Cahaya bangkit,ia meletakkan tubuh kekasihnya itu di lantai.Sekali kebas, seluruh dinding terhempas ke samping.Memberikan jalan untuk Cahaya menghampiri Irawan dan keluarga nya yang masih pingsan di dalam reruntuhan.
Tangisan anaknya Anies menyadarkan istri Irawan beserta yang lain.Mereka beringsut bangun, Victor terbatuk-batuk disebabkan oleh debu.
Belum sempat mereka memberdirikan tubuhnya.Tiba-tiba Cahaya sudah berada di belakang istri Irawan.Tatapan mata yang penuh amarah membuat Irawan kaget,serta merta ia memeluk Victor lalu menarik tubuhnya mundur.
"Mas...."Istri Irawan mengulurkan tangannya,ia panik saat Cahaya membelai wajahnya.Rambutnya disentak hingga wajahnya mendongak ke atas.
"Kenapa kamu membunuh kekasih ku??"