
Krist meletakkan sarapan yg baru dibuatnya diatas piring, liburan hari ini terasa sangat sepi. Krist merasa seperti ada yg kurang, entah apa.
Lelaki tampan itu berjalan keruang tamu, berniat sarapan sambil menonton acara di televisi. Hidup jauh dari orang tua membuatnya terbiasa memasak sendiri.
Orang tuanya orang berada tenang saja, hanya saja demi karir sebagai seorang fotografer membuatnya memilih tinggal di apartement jauh dari keluarga.
Dering ponsel mengalihkan perhatiannya, nama sang ibu tertera di ponsel membuatnya langsung menjawabnya.
"Halo Ma"
"Halo Krist, apa kabar? kamu baik-baik saja kan disana?" tanya ibunya, Krist tersenyum tahu akan sosok ibunya yg selalu hangat.
"Baik Ma, Krist baik-baik saja disini" jawab Krist "Mama menelpon kenapa?" tanya Krist paham situasi.
"Ahh itu Papa minta kamu pulang, bisa?" tanya Mamanya
"Kenapa Ma?" Krist bingung.
"Lebih baik dibicarakan dirumah saja ya, sambil Mama mengobati rindu sama kamu" kata Mamanya "Zara juga rindu katanya"
Zara, adiknya. Jika melihat Zara, Krist berpikir sosok Anna adalah kembaran yg cocok bagi Zara. Mereka adalah sosok yg cerewet dimana selalu membuat Krist pusing jika mereka mengganggu.
"Iya, Mau Krist pulang hari ini?" tawar Krist.
"Besok-besok saja, jangan terburu-buru. Mama tidak mau terjadi apa-apa dengan kamu" kata Mama diseberang telpon.
Pembicaraan mereka berlangsung lama sampai kemudian Mama memutuskan telpon terlebih dahulu.
Krist kemudian berjalan keruang tidur, berniat membereskan baju yg akan dibawanya. Biar saja sekarang supaya nanti malam tinggal beristirahat.
Malam tiba sampai pagi menjelang, Krist sudah siap berangkat sampai sosok Anna muncul di depannya. Sosok yg beberapa hari ini tak terlihat.
"Anna? darimana saja kamu beberapa hari ini tak memberi kabar?" tanya Krist.
"Ahh.. ada pekerjaan dengan Malaikat Maut, kami berdua harus berburu" ucap Anna sambil berakting dengan menjengkelkan seperti biasanya.
"Kamu mau kemana? bawa barang banyak seperti ini?" tanya Anna.
"Aku mau pulang kerumah" jawab Krist.
"Kenapa?" tanya Anna penasaran.
"Mama menghubungi katanya Papa minta aku pulang" Krist menjelaskan.
"Kenapa?"
"Tidak tahu" jawab Krist.
"Terus kerjaanmu bagaimana?"
"Aku sudah minta izin"
"Jangan manja, aku mau pulang awas"
"Dasar menyebalkan" keluh Anna. Wanita cantik itu tampak berfikir sejenak sebelum kembali menghentikan langkah Krist.
"Bagaimana kalau aku ikut kamu pulang?"
"Hah?"
"Iya, aku ikut kamu kerumah, Krist. Boleh ya?" tanya Anna.
"Tidak boleh"
"Kenapa?"
"Ya tidak boleh, awas biarin aku pulang. Jangan ganggu, Anna"
"Aku mau ikut tahu"
"Tidak boleh"
"Dasar pelit"
Keduanya berjalan keluar, sesudah Krist memasukkan barang-barangnya ia masih menatap Anna yg memandangnya tajam.
"Kenapa?"
"Tidak.. " jawab Anna sambil memalingkan kepalanya tidak mau melihat Krist. Sebentar saja, karena kemudian dia menyerahkan sesuatu ke Krist.
"Apa ini?" tanya Krist.
"Cincin" jawab Anna cuek. Krist melihat cincin yg diberikan Anna tadi, sangat bagus.
"Aku tahu ini cincin, tapi buat apa?" tanya Krist bingung.
"Untuk jaga diri, kamu kan jauh dari aku nanti"
"Hah?"
"Kamu mau hantu-hantu itu datang terus ambil nyawa kamu?" kata Anna kesal melihat tingkah Krist yg seperti orang bodoh.
"Cincin itu bisa melindungiku, ada sesuatu yg sudah kuberikan agar bisa menjagamu" kata Anna.
"Apakah ini termasuk praktik perdukunan?" tanya Krist bodoh.
"Ah sudahlah terserah kamu saja, mati dimakan hantu aku tidak peduli"
"Sana pergi"