Blue Eyes

Blue Eyes
SPESIAL BAB 100



THAR!!


Sontak semua orang yang mengelilingi meja makan panik melihat Soraya sesak nafas.Gelas yang di genggamnya sampai jatuh berkecai di lantai.


"Sayang kamu kenapa ??"Idris merangkul istrinya.


"Ma .."Fajar pun berdiri di sisi yang lain.


"Cepat bawa ke kamar" Nicta berseru memberi perintah.Tanpa ba-bi-bu Idris langsung menggendong tubuh Soraya dan dibawanya masuk ke kamar.Fajar mengikuti dari belakang.Begitu pula dengan Ilyas dan Nicta.


"Kenapa tiba-tiba dia jadi begini ??padahal dari tadi baik-baik saja"Gumam Nicta saat Putranya sudah membaringkan tubuh Soraya dengan selamat.


Idris membelai lembut pucuk kepala sang istri, Tatapan mata Soraya sayu.


"Kamu kenapa sayang ??hem??"tanya Idris lembut.


"Aku tidak tahu, tiba-tiba dadaku sakit"


"Hari ini tidak ada gerhana matahari,lalu kenapa Mama begini?"Fajar duduk berseberangan dengan sang Ayah.


"Sepertinya ini ada hubungannya dengan Nur"Ilyas mengemukakan pendapat.


"Nur ?? Apakah terjadi sesuatu dengan Nur Pa?"Idris semakin cemas.Ilyas hanya mampu menggeleng pelan.


*


*


"Lun apa yang akan kamu lakukan ?"Maulana merampas ponsel yang sudah ditempelkan di telinganya oleh Luna.Ia pun menggagalkan panggilan yang telah Luna lakukan.


"Apa-apaan sih Kak??Main rampas aja..kembaliin nggak ??"Luna meminta ponselnya dikembalikan,namun Maulana justru menyimpan nya di saku belakang celananya.


"Kau ngapain nelpon Idris,hah?? biar bisa dapat pujian dari pria yang kamu cintai ??"


"Aku cuma ingin memastikan dia Nur atau bukan ??"


"Kalau pun dia Nur,biarkan saja"Bantah Maulana.


Luna kaget mendengar penuturan Kakaknya.


"Jadi Kakak sengaja mau menyembunyikan Nur dari orang tuanya??gitu??"


"Semua belum jelas dia Nur atau bukan "


"Ya biar jelas kita panggil pihak yang bersangkutan Kak...jangan diem aja kayak orang be-gok.Apa Kakak menyukai gadis itu ??hah??"


Maulana diam...ia tidak bisa menyangkal tuduhan adiknya.


"Ohhh jadi Kakak menyukainya ??"


"Itu urusan ku Lun,kau diam saja"


"Ya nggak bisa gitu dong..."


"Lagian kalau dia benar anak Soraya, berarti posisi Fajar terancam.Dia akan ditepikan,kamu mau Fajar merasakan hal itu ??"


"Kak...jangan dibutakan oleh cinta hingga kamu tega melakukan ini "


"Itu kan yg sering kamu lakukan "Maulana tetap bersikeras.


"Apa yang aku lakukan hah??Aku hanya ingin Fajar menyayangi ku seperti Ibunya,apa itu salah?Aku memang membenci Soraya tapi bukan untuk memisahkan dia dengan anaknya.Aku dekat dengan Fajar dan aku bahagia Fajar lebih mencintai ku lebih dari Ibunya.Itu sudah cukup bagiku bisa merasakan dicintai oleh anak Idris "


"Pokoknya aku tidak mau kau mengatakan tentang Cahaya kepada Soraya ataupun Idris"


"Aku akan tetap mengatakannya kepada mereka "Luna berbalik dan melangkah pergi, Maulana sigap mendahului langkah adiknya.Ia mencegat Luna untuk pergi lebih jauh.


"Kak...aku mau pulang"Luna berusaha untuk pergi tapi tetap saja Maulana menghadangnya.


"Lun... tolong mengerti perasaan ku,kamu tahu kan?aku sangat mencintai Soraya.Tapi dia tidak bisa aku miliki "Maulana berucap penuh perasaan.


"Lantas Kakak mau menikahi anaknya??"


Maulana menundukkan pandangannya.


"Kalau pun itu yang Kakak mau? pertemukan dia dengan Soraya"


"Mereka nggak mungkin setuju,jika aku mengatakan keinginanku "


"Gadis itu gimana ??Apa dia mencintai Kakak?"


"Aku tidak tahu.."Maulana menggeleng lemah.


"Jadi Kakak mau bersama dengan gadis yang kakak cintai tanpa kakak tahu apa dia juga memiliki perasaan yang sama ??Itu kejam sekali Kak"


"Kalau itu yang Kakak mau,itu perkara mudah.Kakak pertemukan dulu dia dengan Soraya,jika pun dia anak kandung Soraya.Kakak masih bisa bersamanya, bukankah Kakak bilang dia kerja dengan Kakak"Luna berusaha membujuk Maulana.Pria bermata tajam itu menatap adiknya dengan Begitu mendalam.


"Kenapa kamu berubah ??"Tanya Lana.


"Berubah apanya?"


"Yang aku tahu,kamu sangat licik untuk menghancurkan Soraya"


Luna tersebut simpul...


"Aku tetap membenci nya Kak,dia tetap orang yang telah merebut Idris dari ku.Tapi aku menyayangi Fajar, dia sudah seperti anakku sendiri meskipun bukan dari rahim ku"


Maulana mengangguk mengerti.


"Aku tidak menyalakan mu kenapa bisa jatuh hati kepada gadis itu ??Dia memang cantik, tidak beda jauh dengan Soraya"


"Tapi aku sangat berharap dia bukan anak Soraya"


"Kita buktikan dulu..."Luna mengulurkan tangannya meminta ponselnya kembali.Maulana diam menatap tangan kosong di hadapannya, dengan tarikan nafas berat akhirnya Lana memutuskan untuk mengembalikan ponsel adiknya.


Luna langsung menghubungi Idris dan mengatakan perihal tentang Cahaya.Idris tercengang,dia shock mendengar apa yang dikatakan oleh Luna.


"Idris... kenapa ??"Nicta bertanya penasaran,semua menunggu dengan tak sabar jawaban dari Idris.


Namun Idris diam mematung, tangannya gemetar sehingga ponselnya terlepas.Nicta yang berada paling dekat dengan Idris langsung mengambil ponsel yang masih tersambung itu.


"Hallo,Lun...ini Kakak"sapa Nicta.


"Iya Kak..."Jawab Luna dari seberang.


"Kenapa Lun??Apa yang terjadi ??"


"Ini..Maulana bertemu dengan seorang gadis,dia memancarkan cahaya biru dari tubuh nya.Cahaya yang sama seperti yang terpancar dari mata Soraya.Luna pikir mungkin saja dia adalah anak Soraya yang hilang Kak"Luna menjelaskan kembali situasi yang membuat Idris sangat shock.


"Apa??!!dimana dia sekarang ??"tanya Nicta tak sabar.


"Di Villa tempat tinggal Lana,dia pingsan saat kami tunjukkan foto Soraya"


"Hah??kau yakin??"


"Iya Kak..aku juga heran kok bisa gitu??"


"Ya sudah, sekarang juga kami akan kesana.Tunggu ya Lun,jangan kemana-mana"


"Iya Kak"


Talian terputus..


"Kenapa ??"Soraya bertanya dengan suaranya yang lemah.


"Nur... mungkin Nur.. sudah ketemu "Nicta memberitahu , suaranya bergetar menahan haru.


Soraya terkejut bukan main, sampai tak bisa berkata apa-apa.


"Maksud Nenek,Kak Nur??"Fajar ingin meyakinkan.Nicta mengangguk cepat.


"Ya udah...ayo cepat kita kesana"Ilyas yang berjalan dengan menggunakan tongkat melangkah lebih dulu.Nicta menyusul,lalu Fajar.Sedangkan Idris membantu istrinya untuk bangkit kemudian ia kembali menggendongnya.


*


*


Suasana tegang saat keluarga Idris baru saja tiba di Villa yang dimaksud oleh Luna.Mereka semua terburu-buru ingin melihat gadis yang dibicarakan tadi.


Soraya pun sama,dadanya berdegup kencang, tungkai kakinya lemas hingga membuat ia berapa kali hampir terjatuh di lantai.


Untung Idris sigap memeluknya dan memapahnya berjalan.


Maulana menunjukkan dimana Cahaya terbaring tak sadarkan diri.Baru saja masuk ke kamar Cahaya ,Soraya sudah tak sanggup membendung tangisnya.Dadanya sesak menahan rindu yang seakan meluap.Ia terjelopoh ke lantai, meraung-raung merintih tanpa suara.


Idris dengan penuh kasih menenangkan istrinya.Ia memeluk Soraya dengan erat dan sesekali mencium kening nya.


"Maaf sebelumnya,tapi...bukankah kita masih belum memastikan dia Nur atau bukan"Maulana bersuara.


Semua jadi saling berpandangan satu sama lain.


"Tidak...aku yakin dia Nur...aku bisa merasakan nya"Soraya membantah,ia memegang dadanya yang terasa perih.


"Hanya ada satu cara untuk bisa membuktikan nya"Ilyas berucap tenang,semua beralih menatap dirinya.


Ilyas Mengangkat tangannya, bibirnya komat Kamit dengan mata terpejam.Ia menarik jimat kecubung milik nya,jika jimat itu keluar maka dia lah Nur Awalliya.