
"Kalian tunggu disini,aku akan bicara dengan Tuan rumah terlebih dahulu"Pangeran As'ad memberikan perintah.Ia melangkah masuk dengan diikuti oleh Cahaya dan Fajar .
"Kau benar-benar akan pergi ??"Tiba-tiba Cahaya membatu di ambang pintu.Pangeran As'ad tersenyum tipis sambil membelai lembut tangan Cahaya .
"Kau jangan khawatir,aku tidak akan meninggalkan mu"Untuk kesekian kalinya Pangeran As'ad memberikan janji.
"Ayo ..kita temui orang tua mu"Pangeran As'ad mengajak Cahaya untuk masuk,gadis itu pun menurut patuh.Meskipun dalam hatinya penuh kebimbangan.
*
"Sebelum nya ... Hamba minta maaf sebesar-besarnya kepada daulat tuanku Muhammad Idris beserta istrinya"
Idris dan Soraya saling beradu pandang melihat sikap formal sang Pangeran terhadap mereka.
"Hamba berada di hadapan daulat tuanku, karena keinginan hamba untuk melamar putri anda tuanku"Pangeran As'ad mengutarakan keinginannya dengan tubuh tegap dan pandangan menunduk sopan.
"Apa?? Pangeran..Apa pangeran tidak tahu permasalahan dua keluarga kita?"Sergah Soraya, sampai saat ini ia masih belum bisa menerima akibat dari perbuatan putri Halimah.
"Hamba tahu..."
"Lalu.... kenapa Pangeran masih ingin menyebrangi batas yang sudah kami leraikan?"
"Karena hamba sangat mencintai Cahaya, mungkin hamba terlalu lancang jika menyamakan bagaimana perasaan Daulat tuanku Muhammad Idris kepada istrinya.Sehingga melawan kehendak Tuan paduka Muhammad Ilyas Allahuyerham "Ucapan Pangeran As'ad begitu tegas dan mantap, meskipun pandangan nya tertuju kepada lantai di bawah kakinya.
Soraya ingin menjawab lagi,namun Idris cepat menyentuh tangan sang istri.Membuat Soraya menelan kembali kalimat yang hendak ia lontarkan.
"Cahaya !"Seru Idris memanggil putrinya,Cahaya menatap sang Ayah."Bagaimana menurut mu?"
"Cahaya mencintai nya"jawab Cahaya tanpa gentar.Soraya tersentak,ia bangkit dari duduknya.
"Cahaya!!!Apa kamu tidak tahu jika penyebab terbuangnya kamu ke dalam hutan larangan karena ulah keluarganya!!"
"Aku tidak perduli "Cahaya menggeleng"Dari dulu pun aku tidak pernah perduli tentang siapa aku? bagaimana aku bisa ada di hutan larangan ??"
"Tapi..."
"Sayang.."Idris memotong cepat kalimat istrinya,ia menarik tangan Soraya agar kembali duduk.Soraya mendengus kesal, ia mengikuti keinginan suaminya dengan terpaksa.
"Pangeran... meskipun kami menyetujui hubungan kalian "
"Mas!!"Soraya menyela,tapi Idris mengangkat tangan ✋ agar Soraya diam dulu.
"Keluarga besar Pangeran pasti tidak akan mudah untuk menyetujui hubungan kalian "
"Hamba sadar itu... karena sebab itulah, hamba akan pergi ke Brunei untuk melepaskan gelar bangsawan hamba.Dan Hamba akan menjalani kehidupan sebagai rakyat biasa "
Tentu saja Keputusan Pangeran As'ad membuat kaget semuanya.
"Pangeran...Apa Pangeran sadar dengan apa yang anda ucapkan ?"
"Hamba sadar se sadar-sadar nya"Pangeran As'ad menjawab tanpa ragu.
Idris dan Soraya kini sudah kehilangan kata-kata,mereka sepertinya telah kalah oleh ketegasan sang Pangeran.
"Jika itu sudah menjadi keputusan Pangeran,kami bisa apa?"
Pangeran As'ad tersenyum tipis, ia menatap Cahaya penuh kasih.
Cahaya menggeleng seolah-olah tidak ingin Pangeran pergi.
"Aku ikut "
"Kalau kamu ikut, bagaimana dengan urusan Sikin?Kasihan dia...hem??"
Cahaya tertunduk pilu,air matanya mengalir perlahan.
"Aku janji, urusan Sikin selesai maka urusan ku juga akan selesai "Bujukan Pangeran As'ad membuat Cahaya mengangkat wajahnya.
"Janji??"
"Janji!!!"Pangeran As'ad menjawab dengan yakin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pada hari itu juga,Pangeran As'ad berangkat pulang ke Brunei Darussalam.Ia tidak bisa menunda waktu, karena dikhawatirkan Ayahnya akan bertindak tegas kepada para pelayan nya.
Sedangkan Cahaya , melepaskan kepergian Pangeran As'ad dengan nelangsa.Rasa takutnya membuat ia murung dan bersedih hati.
Fajar tak banyak bicara,ia takut akan mengundang kemurkaan sang Kakak jika ia menggoda disaat yang kurang tepat.
*
*
Hari Kamis pun tiba, Fajar mendatangi kamar sang Kakak dengan hati-hati.Ia melihat Cahaya tengah berdiri melamun menatap langit biru di balkon kamarnya.
"Kak...."Fajar menyeru dengan perlahan.Agar tidak mengganggu suasana hati sang Kakak"Hari ini adalah hari Kamis"
Cahaya serta merta langsung menoleh.
"Benarkah ??"
Fajar mengiyakan.
"Ayo cepat kita selesaikan masalah Sikin,dia janji... masalah Sikin selesai,maka masalah nya pun juga akan selesai"Ucap Cahaya bersemangat,Fajar tersenyum tipis.
Keduanya gegas pergi ke rumah Mahfudz untuk menjalani ritual yang kemungkinan pernah dijalani oleh Sikin.Sehingga menyebabkan dia meninggal dunia.
Setibanya di rumah Mahfudz,pria yang berusia sekitar 45 tahun itu rupanya sudah menunggu bersama dengan seorang wanita di sisinya.
Mereka menyambut kedatangan Fajar dan Cahaya dengan penuh sukacita.Mereka juga menjamu Fajar dan Cahaya dengan makanan yang enak-enak.Sampai di titik ini, tidak ada sesuatu apapun yang ganjil.Cahaya juga tidak menemukan sesuatu yang aneh.
Sampai malam siap mengganti senja, Mahfudz dan istrinya itu mendekati Fajar dan Cahaya .Mereka membawa rantang di tangan,lalu diserahkan kepada Fajar.
"Apa ini?"tanya Fajar sembari membuka penutup rantang.Cahaya menjauh ,ia menutup hidungnya rapat-rapat.Bau nya Sepertinya Cahaya sangat kenal.
"Sate??"Fajar tak mengerti dengan maksud sang tuan rumah kenapa ia diberi sekeranjang sate.
"Iya... tugasmu hanya menjual sate itu di tempat yang sudah kami tentukan.Dan ini bayaran nya"
Istri Mahfudz bertindak sebagai bendahara,ia memberikan segepok uang ratusan ribu rupiah.
"Hanya menjual sate??