Blue Eyes

Blue Eyes
JIWA YANG DIKORBANKAN 161



Di dalam pingsannya,Ratu Syahira didatangi seorang pria berjanggut putih mengenakan sorban.Ia duduk di atas kepala ular Derik berukuran besar.


"Si-siapa kau ?"Ratu Syahira merasa asing dengan pria itu.


"Aku datang untuk mengambil jiwa mu sebagai makanan untuk Ularku"jawab pria itu.


"Apa?? kenapa ?? kenapa aku??"


"Karena memang jiwamu yang dikorbankan"


Ratu Syahira menggeleng,ia tidak mau...ia tidak ingin menjadi santapan ular itu.


"Tidak tidak....."


Di dunia nyata, pelayan Ratu Syahira menahan mual untuk membuang muntahan junjungan nya.Tiba-tiba Pangeran Arif datang...


"Biar aku yang membuangnya"


Perkataan seorang bocah berumur sepuluh tahun amat sangat memilukan bagi Sang Pelayan.Ia meneteskan air mata saat memberikan kendi itu kepada Sang Pangeran.Dengan tegarnya dan tanpa rasa jijik Pangeran Arif membawa kendi tersebut ke luar.


Ratu Syahira menjerit keras dan terjaga dari pingsannya.Nafasnya tersengal-sengal seperti habis melakukan lari maraton.Keringat dingin menetes dari pelipis matanya.


"Ratu...ada apa ?"


"Tidak...aku tidak mau...ini tidak akan pernah ku biarkan"Ratu Syahira meracau tanpa bisa dimengerti oleh pelayan nya.


"Ratu... tolong cerita kan pada hamba,,ada apa??"


Sepasang Mata cekung itu bergulir menatap si Pelayan.


"Ada...Ada seseorang yang mengorbankan jiwa ku... kepada seekor ular "


"Apa???"


Sang Ratu mengangguk.


"Aku tidak mau,Arif masih kecil...aku tidak bisa meninggalkan nya... Tolong aku... tolong lepaskan aku"Ratu Syahira menghiba kepada Si pelayan.


"Ratu...jangan seperti ini, hamba akan mencari seseorang yang bisa menyembuhkan Ratu...tenanglah"Si Pelayan berusaha menghibur, meskipun ia sendiri tidak tahu kepada siapa dia akan minta bantuan.


"Benarkah... benarkah kau akan membantu ku??"Sang Ratu seperti menemukan secercah harapan.Si pelayan mengiyakan..


"Berangkat lah...dan segera lah kembali.Aku takut... ular itu akan datang lagi"


Si pelayan berundur dan hendak pergi.Belum lagi ia keluar dari kamar Sang Ratu, tiba-tiba ia mengingat sesuatu.


"Ratu..."ia berlari kembali.


"Ada apa ??kenapa kamu kembali ??"


"Hamba tahu siapa orang yang bisa menyembuhkan Ratu"


"Siapa?"Ratu Syahira ingin cepat tahu.


"Tidak apa-apa,ayo kita ke Indonesia menemui Sultan Agung "


Si pelayan mengangguk setuju,ia gegas merapikan semua keperluan Junjungan nya.


"Kita harus diam-diam pergi, karena aku curiga.. orang yang menumbalkan diriku ada di istana ini"Ratu memperingatkan,


"Baik Gusti Ratu"


Si pelayan memapah Sang Ratu berjalan untuk keluar dari kamar.Tinggal selangkah lagi Sang Ratu akan keluar dari kamar nya, tiba-tiba sesuatu yang tidak terlihat mengikat kakinya lalu menyeret nya.


Sang Ratu menjerit minta tolong,sang pelayan yang terkejut refleks mengejar sang Ratu.Benda yang tak terlihat itu membawa Ratu masuk ke kolong tempat tidur.


"Ratu ....Ratu..."Si pelayan melolong memanggil Sang Ratu.Anehnya...sang Ratu menghilang.


"Pelayan...ada apa ?"Pangeran Arif datang,ia baru saja membuang minta sang Ibu.


"Ratu... Pangeran..sang Ratu diseret sesuatu ke dalam kolong tempat tidur..tapi beliau menghilang"


Pangeran Arif terpegun,ia menengok ke dalam kolong. Memang tidak ada siapapun di dalam sana.


"Pangeran... Hamba harus pergi... hamba harus mencari orang yang bisa menyembuhkan Gusti Ratu.. Tolong Pangeran tetap disini.. tolong.."pinta Si Pelayan dengan penuh harap.


"Pergilah...aku akan menunggu Ibuku ..pergilah..kau tenang saja,aku akan disini menunggu Ibuku "Pangeran Arif berusaha tegar,namun deraian air matanya tak bisa membohongi jika hatinya sakit.


"Terimakasih Pangeran"


Si pelayan berlari cepat keluar Istana,ia tidak boleh buang-buang waktu lagi.


Tapi.. saat ia melewati gerbang istana,ia mempunyai Ide untuk menelpon Muhammad Ilyas terlebih dahulu.


Ia ingat jika dulu seseorang prajurit pernah membagikan nomor telepon Sultan agung untuk berjaga-jaga siapa tahu Sultan Abdul Jailani mengingkari janjinya.


Akhirnya si pelayan itu menelfon Muhammad Ilyas,dua kali tersambung dua kali tak ada jawaban.Tapi si pelayan tidak putus asa,ia mencoba ketiga kalinya.Dan akhirnya ada jawaban.


"Hallo.. Assalamualaikum"sapa suara ramah namun tegas.


"Wa'alaikum salam..."


"Siapa ini??"


"Hamba Sultan,budak sahaya yang melayani Sang Ratu..Hamba..."


CRAS...


Sebuah pisau berhasil memutus urat leher si pelayan.Darah segar langsung menyembur dari goresan di lehernya mengenai wajah si pembunuh.


Tubuh si pelayan ambruk, matanya masih terbuka dan melihat dengan jelas siapa pelakunya.


"Ka...Kau..."Nyawa si pelayan tidak bisa terselamatkan.Pelaku memungut telfon bimbit yang masih terhubung, Muhammad Ilyas terus mengulang kata yang sama "Hallo? Hallo ??"