
Pangeran As'ad menunggu dengan sabar, sampai akhirnya Fajar ,Cahaya ,dan Salehah muncul.
Mahfudz yang mengantar tamunya sampai di depan pintu pagar rumah nya,heran karena mobil yang dikendarai oleh tamunya itu jenis mobil mahal dan keluaran terbaru.
Tapi, berhubung dirinya juga sudah kaya raya.Namun masih juga kurang dan selalu merasa kurang.Akhirnya rasa herannya pun berubah menjadi kemakluman.
Pangeran As'ad membukakan pintu untuk Cahaya ,lalu ia naik setelah semuanya naik.
"Bagaimana ??"tanya Pangeran As'ad .
"Kami akan datang hari Kamis kesini"jawab Fajar .
"Kenapa harus hari Kamis ?"Pangeran As'ad masih belum mengerti.
"Entahlah,itu saja yang dikatakan teman Sikin"
Pangeran As'ad manggut-manggut..
Cahaya celingukan kesana-kemari,ia tidak menemukan arwah Sikin.
"Ada apa Kak?"Fajar bertanya.
"Anak itu mana??Apa dia tidak ikut kita pergi ??"Cahaya balik bertanya.Fajar menggeleng perlahan.
"Sepertinya dia sudah pergi "
"Aku ingin bertanya padanya,ada apa dengan hari Kamis ?"
"Sepertinya kita harus mencari tahu sendiri "timpal Pangeran As'ad .
"Kau tidak boleh ikut "tegas Cahaya .
"Kenapa ??"Pangeran As'ad tidak terima.
"Tadi aku sudah mengatakannya bukan ?"
"Masak hanya karena itu??Apa mungkin kamu memiliki perasaan yang sama dengan ku?"
Mendadak wajah Cahaya memanas, pipinya merah merona.
"A-apa hubungan nya??"
"Yah...Bisa jadi kamu gugup,terus kekuatanmu itu tidak bisa keluar "
Cahaya terdiam,ia dan Fajar saling beradu pandang.Keduanya berpikir,apa itu mungkin ??
"Lebih baik kalau kamu memang mencintai ku?kamu mengaku saja"Pangeran As'ad meleyot menahan senyum kebahagiaan,jika itu benar.
"Ah itu tidak mungkin "Cahaya menepisnya, yang refleks membuat Pangeran As'ad menoleh ke belakang.
"Semua bisa jadi mungkin, buktinya aku?Aku baru pertama kali bertemu kamu saja langsung jatuh cinta dan malah cinta banget.Sumpah nih ya,aku nggak pernah jatuh cinta sama seorang wanita seperti aku mencintaimu"
"Itu kamunya aja yang mata keranjang"ketus Cahaya.
"Eh beneran..."
"Nak... kalau tidak mau berangkat,biar Ibu jalan kaki saja.Ibu mau istirahat..capek"Salehah memotong percakapan diantara yang lain.
"Oh iya Bu .. Maaf ya Bu,Ibu mau saya antar kemana ??"Sergah Fajar cepat.Dua insan yang baru saja berdebat sengit jadi malu.
"Emmmm"Salehah bingung sendiri dia harus kemana ?Mau pulang, kampung nya lumayan jauh.Kalau naik angkot nanti sampai di pemberhentian pasti kemaleman.
"Antarkan saja ke rumah nya "Cahaya memberikan perintah.
"Ah jangan... kejauhan"Salehah menolak halus meskipun ia ingin.
"Nggak apa-apa Bu,Ibu tolong kasih tahu saja alamat rumah Ibu dimana ?"Fajar mulai menghidupkan enjin.
"Emmm baiklah kalau begitu, terimakasih banyak ya"Salehah tidak ingin menolak lagi,ia khawatir jika ditolak ?malah nggak dianterin beneran.
*
*
Mahfudz kegirangan memanggil istrinya yang sedang berada di dapur.
"Dek...kita dapat lagi"
"Kenapa kamu dek?"
"Kamu pasti seneng banget karena dapet perempuan cantik"Istri Mahfudz menancapkan pisau di tangan nya dengan kuat ke telenan kayu yang biasa dipakai untuk alas pemotong.
Mahfudz terkejut sekaligus bergidik ngeri melihat nya.
"Kamu juga pasti sudah berencana untuk mencicipi gadis itu sebelum kita serahkan bukan?"Istri Mahfudz terus mencerca disertai Tatapan lebar.
"Ayo ngaku!!"
"Ng-ng-nggak Dek...kok kamu malah mikirnya terlalu jauh sih"
"Alah..kayak aku nggak tahu kamu Mas"Istri Mahfudz menyilangkan tangan nya di dada.
"Udah...jangan manyun gitu dong..."Mahfudz mentoel dagu istrinya dengan lembut"Seharusnya kamu senang karena kita mendapatkan tumbal tanpa sibuk- sibuk nyari"
"Iya...tapi awas kamu ya!"Istri Mahfudz menuding lurus ke wajah sang suami lalu memilih untuk pergi.
"Dek...Dek..."Mahfudz menyeru namun istrinya tak menggubrisnya."Hufff dasar wanita, kalau saja dia tidak tahu apa yang aku lakukan untuk bisa mencari uang, pasti sudah ku tumbalkan dia"
*
*
Sesuai prediksi, setelah mengantar Saleha ke kampung nya.Hari sudah mulai gelap, Ketiganya mencari tempat untuk menginap saja.Karena dikhawatirkan,Fajar kecapean dan mengantuk.Sehingga membahayakan keselamatan rekan-rekannya.
Tak jauh dari kampung Sikin,mereka menemukan sebuah hotel kelas melati.Jadi mereka pun menginap disana.
Saat memesan Kamar,Pangeran As'ad menawarkan diri untuk berbicara sendiri kepada sang resepsionis.Dan meminta dua Kakak beradik itu untuk duduk saja menunggu.Ia memberi alasan akan memilih kamar yang bagus untuk nya.
Usai menerima kunci,Pangeran As'ad ,Fajar dan Cahaya melangkah masuk ke dalam lift.Mereka semua diam,tapi ekspresi Pangeran As'ad nampak sangat senang sekali.
"Mana kunci kamar kami Pangeran"Fajar meminta kunci kamar nya saat mereka sudah menemukan kamar yang dipesan.
"Lah ini"Pangeran menunjuk kunci yang sudah nyantol di lubangnya.Fajar terkejut sekaligus heran, begitu pun dengan Cahaya .
"Maksud Pangeran ??"
"Aku pesan kamar cuma satu tapi VIP"Pangeran As'ad menjawab tanpa dosa.
"Loh...terus kami??"Fajar menunjuk dirinya kemudian Kakaknya.
"Ya kita tidur sama-sama,aku nggak biasa tidur tanpa pengawal"Pangeran As'ad tersenyum smrik,lalu melangkah masuk mendahului.Fajar dan Cahaya tercengang tanpa kata.
Menyadari rekannya diam mematung di luar,Pangeran As'ad gegas kembali dan menarik mereka masuk.
Cahaya tak kuasa berontak,ia benar-benar lemah menghadapi pria yang satu ini.
Tapi Fajar sedikit lega karena di kamar itu ada dua tempat tidur.
"Tenang...aku bukan pria berotak mesum"sindir Pangeran As'ad yang seolah-olah tahu apa yang ada dalam otak dua rekannya.
Cahaya menghela nafas,lalu ia menarik tangan sang adik untuk tidur bersama nya.Hal itu sudah biasa,karena Fajar memang sering tidur di kamar Cahaya .
"Eh...kok kalian tidur berdua? Seharusnya cowok sama cowok"
"Itu bukan urusan mu"cetus Cahaya sembari menaiki tilam.Pangeran As'ad tidak membiarkan kesempatan itu,ia menarik tangan Cahaya lalu mengheret nya.
"Eh kau mau apa? lepasin!!"Cahaya berontak,tapi ia kalah kuat.Pangeran As'ad menutup pintu yang menjadi penghubung antara kamar dan Balkon.Ia membiarkan saja Fajar sendiri an dengan wajah melongo menatap ke arah nya.
Mau ikut campur,Fajar merasa sekarang dia tidak punya nyali seperti biasanya.
"Kau mau apa sih?"
Pangeran As'ad tak menjawab,ia justru menarik Cahaya mendekat hingga tubuhnya menempel.Lalu melingkarkan tangannya di pinggang si gadis.
Dua bola mata hazel itu membulat sempurna, nafasnya tertahan disertai gemuruh suara di dadanya.
Pangeran As'ad tersenyum manis,wajah cantik alami yang kini ia tatap lekat begitu menenangkan.Rasanya enggan sekali ia berkedip agar puas menikmati kecantikan tersebut.
"Cobalah katakan padaku, kalau kamu... mempunyai perasaan yang sama dengan ku"
Cahaya menundukkan pandangannya,ia gugup, seluruh tubuhnya terasa beku.
"Lalu kita buktikan, bahwa kekuatan yang kamu maksud akan kembali seperti sediakala"