
Krist meminum minuman dinginnya cepat sambil menatap sekeliling. Takut hantu kiriman Anna muncul tiba-tiba. Baru saja dipikirkan hantu itu sudah muncul beberapa meter dari depan.
Krist sudah akan lari jika tidak menyadari hantu itu perlahan-lahan menghilang.
"Itu ilusi milik Anna"
Krist melihat kesamping dan menemukan perempuan tua disampingnya, Sudah malam juga orang-orang melewatinya begitu saja tanpa berarti membuatnya yakin jika sosok ini juga sama seperti Anna.
"Ilusi?" Tanya Krist.
"Iya, untuk menakutimu sepertinya. Hantu-hantu takkan berani mendekatinya jika tak ingin menjadi debu" ucap perempuan tua itu.
"Anda siapa?" tanya Krist pelan.
"Aku ibumu, Ibu Anna juga Ibu seluruh manusia di bumi ini... " jawabnya
"Maksudnya?"
Perempuan tua itu tersenyum lembut seraya berkata....
"Tak salah aku menciptakanmu sebagai pasangan Anna" katanya "Bagaimana pertemuanmu dengan dia?"
"Ahh itu... sedikit meninggalkan kesan?" jawab Krist.
"Bagaimana matanya? Mata birunya? mata yg ditakuti itu?"
"Matanya? Matanya tak seseram itu tapi sedikit unik dari mata manusia lainnya" kata Krist "Ahh... itu apakah Anna?"
Perempuan itu tertawa pelan mengingatkan Krist dengan sosok ibunya, hangat.
"Iya Anna juga manusia"
"Kamu tahu mata birunya memang terlihat misterus dan menakutkan, sosoknya juga sempurna tapi sebenarnya dia rapuh... " kata perempuan tua itu sambil menatap langit malam yg cerah "Tolong jaga dia, dia sangat berharap akan kematiannya. Tersiksa dalam waktu yg sangat lama. Karena itu aku mengirimkanmu untuknya"
"Dia tidak hanya menjemput kematiannya saja, kamu lebih berarti dari itu"
Pandangan Perempuan itu kesebarang jalan yg membuat Krist ikut menoleh. Ada sosok laki-laki yg bajunya berlumur darah, memandangnya sambil menyeringai.
"Ada satu hal yg menarik darimu, energi spritualmu besar jadi menarik perhatian mereka"
Sosok itu tiba-tiba menghilang, seolah takut dengan apa yg dipandangnya. Krist menoleh dan menemukan Anna tak berapa jauh dari tempatnya. Wanita cantik itu mendekat, kali ini matanya kembali biru.
Satu hal yg baru Krist tahu, mata biru itu membuatnya tak bisa dilihat manusia lainnya kecuali dia.
"Aku hanya ingin melihat keadaan putriku, rupanya ia baik-baik saja" ucap perempuan tua itu.
"Jika memang mengkhawatirkanku, kenapa tidak membuatku mati dari dulu saja"
"Karena itu aku membawa laki-laki tampan ini untukmu, cinta sejatimu"
"Kalau begitu katakan padanya, cepatlah bunuh aku agar dia bisa bebas" ucap Anna sambil menatap Krist tajam.
"Tolong rawat Anna dengan baik"
"Cihh... dasar Dewa sialan"
Seusai kepergian sosok perempuan tua itu kini tersisa Anna dan Krist.
"Sudah berapa lama dia bersamamu?" tanya Anna.
"Baru saja, kami hanya mengobrol sebentar. Oh ya apakah dia?" tanya Krist tak ingin menebak-nebak walaupun sudah yakin dengan dugaannya.
"Dewa, dalam wujud Naka. Wujud seorang perempuan tua, beruntung kamu bertemu dengan yg baik. Yg jahat bahkan sangat membenciku" kata Anna.
"Kamu memiliki hubungan dengan mereka sejauh ini?" tanya Krist.
"Iya, sampai detik ini takdirku dipermainkan mereka"
"Sudahlah, besok kosong kan? tak ada jadwal memotret?" tanya Anna mengalihkan perhatian.
"Iya, kenapa memangnya?" tanya Krist.
"Mari berkencan?" ajak Anna singkat.
"H-hah... aku ti-"
"Aku tidak terima penolakan"
Belum selesai Krist menjawab Anna sudah berbicara terlebih dahulu. Wanita cantik itu berjalan duluan meninggalkan Krist yg menatapnya dari belakang...
Tolong jaga Anna dengan baik
"Apakah sangat tersiksa selama ini?"