Blue Eyes

Blue Eyes
FAJAR TIDAK PULANG 124



Sudah hampir dua bulan Cahaya menghilang dan tak ada satupun yang tahu dimana dia berada.


Sampai akhirnya, ia datang mengetuk pintu dan kebetulan sekali Fajar yang membukakan pintu.


"Kakak"pekiknya tak percaya,kedua matanya membulat.Ia mematung di depan pintu.


Cahaya tersenyum hambar,ia meluruh memeluk adiknya.Meskipun ia sudah bisa berdamai dengan takdir,namun matanya masih panas bila mengingat hal yang menyakiti hati nya.


"Yang sabar ya Kak...."Fajar membalas pelukan Cahaya sambil lalu mengusap punggungnya.


"Ayo masuk...kami selalu memikirkan mu Kak..Mama pasti senang kamu pulang"Fajar mengajak kakaknya untuk masuk.Cahaya tak mengucapkan sepatah kata,namun ia patuh mengikuti langkah sang adik.


"Mama.... lihat siapa yang datang"


Idris,Soraya,dan Nicta yang tengah berada di ruang makan hampir bersamaan menoleh.Mereka memasang reaksi yang tidak jauh berbeda.


Soraya bangkit,ia berlari menyambut putri nya.


"Nur...."


Cahaya tak bergeming, ia bungkam seribu bahasa.Idris dan Nicta bergantian memeluk gadis itu.


"Kamu dari mana saja sayang?hem??"Soraya membelai lembut anak rambut putrinya.Cahaya hanya menggeleng lemah, kepalanya tertunduk perlahan.


"Sayang...kita biarkan dia istirahat dulu .."sela Idris, yang langsung disetujui oleh Nicta.Soraya merasa tak cukup puas, apalagi melihat kondisi tubuh Cahaya yang kurusan.


"Ayo Kak,aku antar Kakak ke kamar"Ajak Fajar.Cahaya manut,ia mengikuti langkah Fajar tanpa ekspresi.


"Sepertinya anak kita masih shock Sayang "Ujar Idris.


"Iya,,,aku lihat tidak ada sinar kehidupan di matanya "tambah Nicta.


Soraya terdiam, ia memperhatikan punggung putrinya dari kejauhan.


*


Hari berganti hari, keluarga besar Idris terus memperhatikan keadaan Cahaya .Gadis itu tidak pernah bicara sepatah katapun dengan mereka.


Jika ditanya jawaban yang diberikan hanya anggukan kepala dan gelengan saja.Namun mereka terus berusaha untuk tetap berinteraksi dengan Cahaya .


Fajar apalagi ?Ada saja yang dia lakukan untuk menarik simpati dari sang Kakak.Meskipun ia tahu hasil yang didapat adalah sama.


"Kalau saja aku tahu anak kita akan seperti ini Mas,aku rela melepaskan bola inti kehidupan untuk Lana"ucap Soraya disertai lelehan air mata.


"Jangan bicara seperti itu Sayang,kita tidak boleh menentang takdir.Kita harus sabar kita harus kuat untuk mendampingi Cahaya .Dia masih gadis umur 18tahun.Jadi masih labil"tanggap Idris.


"Tapi sampai kapan kita akan melihat dia seperti ini terus??"


"Berdoalah... semoga ada keajaiban "


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tahun Tahun berganti,kini Fajar sudah menjadi seorang Mahasiswa.Namun Cahaya tetap sama,diam dan sulit untuk berinteraksi.Ia juga tidak pernah sama sekali keluar rumah.


Fajar sangat sabar selalu menemani Kakaknya.Setiap pulang kuliah,ia akan bersama dengan Kakaknya.Mengerjakan tugas,makan,dan sering tidur bersama.


Hanya Fajar yang begitu dekat dengan Cahaya .


Malam itu,Fajar tidak tidur dengan Cahaya.Entah apa yang terjadi,adiknya belum juga pulang ke rumah.Sehingga membuat Cahaya terus menunggu di balkon kamar nya yang bisa melihat jelas suasana di halaman.


"Hey!!STT sttt "Ada suara terdengar,Cahaya memperhatikan ke sekeliling.Tidak ada siapa-siapa.


"Aku disini!!di atas"Suara itu seperti tahu jika Cahaya mencari keberadaan nya.Cahaya mendongak, rupanya sosok Kuntilanak sedang duduk di pelepah pohon kelapa.


"Eh...kok malah cuek sih,bantuin aku dong..."


Cahaya tetap tak menggubris.


"Woy...kamu nggak budek kan-?kamu juga pasti nggak bisu?masak cantik-cantik jadi tunanetra,itu nggak mungkin...ayo dong,jangan cuekin aku"Kuntilanak itu terus saja merayu.


"Kamu tahu nggak ??aku mencari mu kemana-mana,sejak kamu sudah tidak pergi ke rumah sakit lagi.Kamu begitu susah dicari,untung aku bisa menemukan mu disini"


"Apa kamu tidak kasihan kepada ku??hah??"


Kuntilanak itu mulai putus asa karena tak diindahkan sama sekali.


Suara Guntur terdengar bergemuruh,Cahaya menatap langit malam.Bintang sudah tidak terlihat lagi, sepertinya akan hujan.Ia putuskan untuk masuk ke dalam kamar.


Benar saja,tak lama kemudian hujan pun turun dengan derasnya.Cahaya membuka tirai,agar ia terus bisa memantau kedatangan sang adik.


Entah kenapa,ia juga merasa penasaran dengan si Kuntilanak.Cahaya menengok ke arah pohon kelapa yang tumbuh di luar pagar rumahnya.


Rupanya Kuntilanak itu tetap disana, dengan gaun putihnya yang basah,ia terlihat gemetar kedinginan.


Cahaya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, apa-apaan sih dia?kenapa terus saja duduk disana?kan bisa dia pergi ke kuburan nya, tidur biar tidak kehujanan?pikir Cahaya dalam hati.


Tapi kasian juga melihat kuntilanak kedinginan.Nanti masuk angin gimana??bisa tidak dia minum obat ??HUFFFFF..


Terpaksa Cahaya membuka jendela kamarnya,ia melambaikan tangan ke arah Kuntilanak itu.


Si Kuntilanak yang melihat itu auto berbinar binar.Ia melesat cepat turun dari dahan pohon kelapa dan masuk ke dalam kamar Cahaya.


"Ahhh akhirnya,kau Sudi juga menerima ku"


Cahaya memperhatikan kondisi Kuntilanak,gaun putihnya basah hingga lantai yang dilewatinya terkena banyak air.


Cahaya berinisiatif untuk mengambil kan baju lalu memberikannya kepada si Kunti.


"Apa ini?"Si Kuntilanak heran Cahaya menyodorkan kain padanya."Oh ini baju ganti, Yang benar saja kamu ,masak kuntilanak disuruh pakai daster? gila ya"Kuntilanak itu membolak-balik pakaian yang diterima nya.


Cahaya terdiam,tapi ia tidak suka jika kamarnya nanti becek gara-gara sosok itu.


"Tenang saja"kuntilanak itu seperti tahu apa yang tengah dipikirkan oleh Cahaya ,ia menjentikkan jemarinya dan seketika itu juga pakaiannya jadi kering.


Cahaya menghela nafas lega,ia duduk di bibir kasur dengan memeluk bantal.


"Sejak aku menemukanmu, Aku tidak pernah melihat kamu bicara. Tapi aku tahu kamu tidak bisu, bisakah kamu mendengarkan semua masalah ku dan membantu mengatasi nya?"


Cahaya mengangguk.


"Ah terimakasih.."Kuntilanak itu dengan girangnya duduk di sisi Cahaya.


"Aku seorang ibu dari dua anak yang masih sekolah, aku juga seorang istri dari seorang guru. Aku dibunuh oleh suamiku sendiri karena suamiku ingin menikah lagi dan yang akan menjadi maduku adalah adikku sendiri"


"Hatiku sakit,, hatiku memendam dendam sampai ke liang kubur . Aku dikhianati ,aku juga dipisahkan dari anak-anakku. Mereka sangat kejam ,tanpa rasa bersalah sama sekali.Adikku mengusulkan untuk menggantikan posisiku sebagai istri sekaligus Ibu dari anak-anakku"


"Seluruh keluarga pun setuju, Tanpa mereka ketahui bahwa dua setan itu yang sudah membunuhku. Aku sedih... tanah kubur ku masih merah ,mereka sudah menikah. Aku terus mencarimu tanpa mengenal putus asa. Agar aku bisa membalaskan dendamku, mengatakan kepada seluruh keluargaku, mereka berdua lah yang sudah membunuh ku"


"Dan kau tahu?? sekarang anak-anakku kerap sekali dipukul oleh suamiku dan juga tidak diberi makan oleh adikku sendiri . Padahal dia adalah bibi dari anak-anakku"


"Bukankah itu sangat kejam?"Kuntilanak itu membuang ingus nya menggunakan jubah putihnya.


Cahaya hanya diam memperhatikan.