
Cahaya menyantap makanan dengan lahap,nasinya meleper ke sekitar piring.Mulutnya penuh dengan makanan dan belepotan.
Semua diam memperhatikan Cahaya makan.Raul justru naik ke atas kursi, menarik makanan agar lebih mudah Cahaya mengambil nya.
Cahaya tersenyum dengan mulut yang masih mengunyah makanan.Ia pun mengambil makanan menggunakan tangan kosong.
Celine sampai tak nafsu makan,ia bangkit sembari menarik lengan Dominic agar pria itu mengikutinya.Dominic pun tak menolak,ia meninggalkan meja makan bersama Celine.
"Aku harap kau segera mengembalikan gadis itu ke tempat semula,aku tidak Sudi dia tinggal lebih lama lagi disini"Ucap Celine saat ia dan Dominic berada di kamar.
"Sayang...aku masih membutuhkan nya"
"Membutuhkan apanya?Yang ada setiap hari aku akan selalu dibuat emosi oleh tingkah lakunya yang tidak ada sopan santun nya itu.Mau makan saja aku langsung kenyang melihat dia makan kayak singa kelaparan.Rakus banget!!"
"Sayang...itu kan malah bagus untuk pola diet kamu, kalau kamu laper cukup lihat dia makan aja.Dijamin dah kamu tidak perlu sedot lemak "Dominic malah menggoda.
"Apa-apaan sih,ih.."Celine memukul bahu Dominic dengan kesal.Pria itu justru tertawa lepas.Ia menarik tubuh Celine untuk rebah bersama ke atas katil.
"Aku kangen kamu sayang..."
Sebuah kecupan lembut langsung ******* habis kemarahan Celine.Kedua insan itu menyatukan tubuh mereka dengan penuh gairah.
"Ughh"Celine melenguh nikmat saat Dominic menyodokkan ularnya ke dalam segitiga Bermuda milik Celine.Dengan perlahan Dominic menarik dan menghantam kannya.
"Kalian sedang apa ?"
Dominic kaget dan langsung mencabut senjata nya,ia berlari kelimpungan masuk ke kamar mandi.
Celine sendiri refleks menggulung tubuhnya menggunakan selimut yang ia gencet.
Mereka lupa tidak mengunci pintu, sehingga memudahkan Cahaya masuk ke dalam kamar dengan menggandeng Raul.
"KAU?!!! NGAPAIN MASUK KESINI??HAH?"Celine sangat murka.
"Kenapa memang nya??"Cahaya justru bertanya dengan santai."Woy...ular lembek??"seru Cahaya melihat daun pintu kamar mandi.
"Kenapa dia ngumpet sih??"
Dominic memejamkan matanya rapat-rapat,ia begitu kesal,marah dan malu.Kalau saja ia tidak membutuhkan kemampuan Cahaya ,sudah pasti dia sudah membuang gadis purba itu jauh-jauh.
"Papa malu karena dia tidak pakai baju"Raul membantu menjawab.
"Malu sama siapa ??"
"Sama Tante"Raul menunjuk Cahaya .
"Aku??kenapa sih musti malu??,biasa aja lah..Kamu juga.. udah kayak pocong "Cahaya tersenyum lucu melihat kondisi Celine.Wanita itu menggeretakkan giginya menahan marah.
"Yuk Tante kita ke kamar aku aja"Ajak Raul..
"Oh ok!!"
Keduanya bergandengan Begitu hangat keluar dari kamar Dominic .
Celine langsung melompat turun dan berlari cepat mengunci pintu.Dominic menyembulkan kepalanya, memastikan keadaan diluar.
"Cepat keluar"Hardik Celine kesal"Pokoknya aku tidak mau tahu,kamu harus segera usir wanita itu dari rumah ini.Aku tidak mau melihatnya lagi"Titah Celine dengan tegas saat Dominic keluar dari kamar mandi.
"Sabar sayang...salah kita juga kenapa tidak mengunci pintu "
"Eh dia udah dewasa ya,bukan anak kecil seperti Raul.Masak tidak tahu sopan santun sama sekali,main masuk kamar orang sembarangan "
Dominic geleng-geleng kepala disertai ******* nafas panjang.
"Hallo...Cel.. Frans sudah datang"Sapa dari si penelpon.
"Ok!"Celine mematikan sambungan.
"Siapa?"tanya Dominic .
"Frans sudah datang"
DEGH!!
Mendengar nama sang Manager,degup jantung Dominic seperti berpacu lebih cepat.Ia jadi tegang hendak menghadapi musuh dalam selimut itu.Tapi Dominic harus tenang, karena sepertinya Frans sudah mempunyai rencana.Jadi Dominic harus benar-benar hati-hati.
"Cepat pakai bajumu..lalu panggil Cahaya "
"Kenapa musti manggil dia sih??"Celine menggerutu.
"Sayang...aku tidak bisa menceritakan kenapa,tapi aku benar-benar membutuhkan nya.Lebih baik kamu tidak tahu apa-apa demi keselamatan mu ok??"
"Kau lebih mengutamakan dia?"Celine menatap Dominic begitu mendalam.Ada rasa kecewa dihati nya karena pria yang ia cintai sudah mulai berahasia dengan nya.
"Sayang please..."Dominic membalas tatapan Celine dengan penuh kelembutan.Celine tak kuasa melawan, meskipun sakit ia terpaksa mengalah.
*
"Tante bener temennya Ibu?"Raul mempertanyakan hal tentang yang disebutkan oleh Dominic .
"Emmm apakah Ibumu adalah wanita cantik yang berdiri di jendela itu"Cahaya menunjuk sosok penampakan Murry di luar kamar.
"Tante bisa melihat Ibu?"pancaran mata Raul berbinar cerah,Cahaya mengangguk disertai senyuman.Raul langsung memeluk kedua kaki Cahaya.
"Selama ini tidak ada yang percaya padaku jika Ibu ada disini.Papa mengatakan jika ia percaya,tapi aku tahu dia hanya berbohong.Sekarang aku percaya,jika Tante adalah teman Ibu"
Cahaya mengusap pucuk kepala Raul dengan lembut.Ia menatap sosok Murry,wanita ayu itu membalas tatapan Cahaya dengan sendu.Seperti ada perih yang tersimpan lama dan tak terungkap.
"Hey!!!"
Sebuah bentakan mengalihkan perhatian keduanya.
"Kau diminta turun oleh Dominic "Celine berdiri menyandar di ambang pintu dengan tangan terlipat di dada.
"Aku??"Cahaya saling beradu pandang dengan Raul.
"Lalu siapa lagi?? cepat keluar"Celine memberikan perintah dengan angkuh.Raul menarik tangan Cahaya untuk keluar,anak kecil itu mendengus saat melewati Celine . Sepertinya Raul tidak suka dengan kekasih Dominic.
Saat tiba di ruang tamu,semua mata menatap Cahaya dengan berbagai ekspresi.Dominic bangkit Dan meminta wanita itu duduk di sebelahnya.
Banyak wartawan yang mengabadikan moment tersebut.Cahaya yang belum terbiasa dengan Camera, menutupi wajahnya.
"Stop stop Please...dia tidak terbiasa dengan Camera.. Please.."Dominic meminta wartawan untuk mengerti.Akhirnya mereka bisa di ajak kerjasama.
"Siapa wanita itu Dom?"tanya seorang wartawan.
Rupanya untuk menyelamatkan diri,Frans memberi tahu kepada pihak wartawan tentang ditemukan nya artis mereka Dominic .Lalu ia membawa wartawan itu datang ke rumah Dominic .Dengan begitu, untuk sementara waktu ia bisa terlepas dari serangan pembalasan Dominic .Karena bagaimana pun Dominic tidak punya bukti yang kuat jika Frans telah mencelakai nya.
Apalagi, Frans mempunyai alibi yang sangat kuat tentang adegan kecelakaan itu.Ia sengaja membuat reka cerita bahwa Dominic kecelakaan akibat terlepasnya pintu kabin pesawat.Sehingga membuat tubuh Dominic terseret keluar dari dalam pesawat.
Yang membuat tim SAR tidak jua menemukan Dominic adalah,Frans memberikan lokasi kejadian yang salah.Agar Dominic tidak bisa diselamatkan.Namun siapa sangka jika Dominic berhasil selamat tanpa luka lecet sedikit pun.
Ini sangat luar biasa dan mustahil terjadi.Frans menatap Dominic dengan tatapan penuh selidik, saat itu Dominic menjawab semua pertanyaan wartawan dengan senyuman yang tak pernah lekang.