Blue Eyes

Blue Eyes
MENYAKITKAN 83



Sanca melihat semua yang terjadi dari balik bantal.


"Caca.. Apakah kamu menyukai Dominic ??"


_


"Ohya mulai hari ini,kamu akan ikut aku kemanapun aku pergi.Kau harus menjaga ku dari semua orang yang berniat jahat padaku seperti Frans dan antek-anteknya.Aku masih belum bisa memastikan berapa banyak orang yang bekerjasama dengan Frans saat ini.Jadi kamu harus hati-hati ya"


Cahaya mengangguk,kini perasaannya mulai tenang.


"Dan usahakan,kau jangan terlalu mencolok dengan menunjuk kan kekuatan mu.Nanti mereka yang tidak tahu apa-apa akan ketakutan".


Sekali lagi Cahaya menjawab dengan anggukan kepala.


"Bagus... sekarang bersiaplah, sebentar lagi kita akan berangkat ke lokasi syuting"


Cahaya berjalan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


*


*


Dante menulis pesan singkat melalui WHATSAPP kepada Celine . Melaporkan tentang ikutnya Cahaya ke lokasi syuting.Celine geram bukan main,ia mengeluarkan sumpah serapahnya.


"Celine.. giliran kamu"Seru si fotografer.Dengan malas Celine bangkit dari duduknya.Ia membuka mantelnya, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sempurna.Ia hanya memakai bikini, berjalan dibawah terik nya matahari.Bergaya seksi disempurnakan oleh deburan ombak di pantai.


"Ekspresi nya kurang panas Cel!!"Seru si fotografer memberikan arahan "Kau kenapa ???sakit??kenapa tidak bersemangat??ini panas loh Cel,jangan main-main kamu "Hardik si fotografer lantang.


Celine mengatur ekspresi nya agar tidak terbawa suasana hati yang tengah jengkel.Sesudah beberapa kali Tek , akhirnya sang fotografer mendapatkan hasil foto yang diinginkan.


"Kau kenapa Cel?"tanya Sasa"Kinerja kamu beda dengan sebelum nya"


"Aku kesel Dom,dia benar-benar tidak menghargai ku"gerutu Celine sambil lalu membersihkan makeup nya.


"Apa aku bilang, kalau kamu bersikap seperti ini?kau sendiri nanti yang rugi"


"Iya Cel..kau sendiri tahu kan Frans itu gimana?tidak ada yang berani melawan nya.Dan sekarang Dominic akan melakukan perlawanan dengan bantuan Cahaya"Tambah Ella.


"Emangnya apa yang bisa dilakukan gadis kampungan itu?"bantah Celine .


"Kita lihat saja Cel...siapa tahu bisa menyelamatkan kita semua "Jawab Sasa.


Celine terdiam,ia menelaah saran dari teman-temannya.


*


*


Frans memperhatikan Dominic yang tengah beradu akting dengan lawan mainnya dari kejauhan.Ia juga bisa melihat Cahaya yang selalu berada disisi Dominic .


Lututnya masih gemetar bila melihat Cahaya ,tapi ia berusaha tenang di depan anak buahnya.


"Dari sekian banyak artis yang ku naungi, kenapa aku harus kalah dengan Dominic ??"


Tanpa sengaja Cahaya melihat ke arah Frans,pria itu langsung buang muka dan mengajak para bodyguard nya pergi.


Cahaya tersenyum tipis mengikuti gerakan Frans dengan ekor matanya.Ia melipat tangan di dada, dan kembali menyaksikan adegan-adegan yang dilakukan oleh Dominic di depan camera.


"CUT!!"


Teriak sang sutradara


"Bagus Dom, syuting kita untuk hari ini sudah selesai"


Dominic tersenyum puas,ia segera kembali ke tenda tempat makeup nya.


"Dom.. apakah wanita itu juga pasangan mu??"Tanya Cahaya saat ia juga berada di tenda makeup.


"Siapa?"tanya Dominic .


"Itu... wanita yang kau peluk"Cahaya menunjuk ke luar tenda.


"Ah tidak,aku pikir kau akan seperti ayam jantan yang memiliki banyak betina"Celutuk Cahaya .


"Apa???Hahahahahaha..kok malah disamain sama Ayam jantan sih.Bukannya Buaya.."


"Buaya adalah jenis hewan yang paling setia kepada pasangannya.Begitu juga kuda laut.."


"Ooooo"Dominic membulat kan bibirnya sambil manggut-manggut.


*


*


Soraya menatap langit lepas, yang dihiasi banyak bintang-bintang.Disana ia gantung bermacam harapan termasuk agar segera bisa bertemu dengan putrinya.


"Sayang..."Idris memeluk istrinya dari belakang,ia cium tengkuk Soraya yang merupakan kesukaannya.


"Apa Papa sudah menyelesaikan semedinya ??"tanya Soraya.Idris menggeleng,sejak Ilyas memutuskan dari segala masalah dunia dan lebih sering bersemedi di ruang bawah tanah yang ia ciptakan sendiri.


Idris jadi susah untuk bertemu beliau.Untuk mempertanyakan tentang putrinya pun, Idris tidak berani mengganggu.


"Kita harus sabar ya sayang"Bujuk Idris.


"Tujuh belas tahun... apakah itu waktu yang belum cukup untuk sebuah kesabaran ??"


"Iya sayang,aku ngerti...tapi sebentar lagi,tidak bisakah menunggu sebentar lagi"


"Andai aku tahu dia dimana?Aku akan datang sendiri kepada nya.Para Serigala penjaga pun masih belum menemukan apapun.Entah apa yang menjadi penghalang sehingga Nur tak dapat terdeteksi "Ucap Soraya.


"Aku juga tidak merasakan kekuatan Kecubung, mungkin dia masih terlalu jauh. Tapi yakin lah, takdir akan menarik nya untuk dekat dengan kita"Idris terus berusaha meyakinkan hati istri nya agar tetap bersabar.


Deru sepeda motor memancing perhatian Soraya.


"Apakah itu Fajar??"


"Sepertinya iya"


"Ini jam berapa ?? dari mana saja dia?"Soraya masuk ke dalam kamar dan keluar dari pintu yang lain untuk menyongsong kedatangan putra nya.Idris mengikuti istrinya,ia khawatir Fajar akan kena semprot lagi.


"Fajar... dari mana kamu?"


Fajar kaget mendengar suara Ibunya,ia menghentikan niatnya untuk masuk ke dalam kamar.


"Fajar...apa kamu mendengar pertanyaan Mama??"


Fajar berdecih.


"Fajar... kalau ditanya jawab "Sambung Idris lembut.


"Sejak kapan sih Mama perduli sama Fajar ?? perasaan kalau Fajar melakukan kesalahan saja baru Mama semangat marah-marah.Tapi kalau hal lain,tak pernah Mama perduli "bantah Fajar.


"Fajar!!"Idris menghardik anaknya keras, sedangkan Soraya menakup mulutnya karena tidak percaya jika Fajar bisa mengatakan hal seperti itu.


"Itu benar kan Pa..Mama tidak pernah perduli sama Fajar,Mama hanya perduli sama anak Mama yang hilang..Ma..Fajar juga anak Mama, yang butuh kasih sayang Mama,cinta Mama..Tapi Apa??Mama cuma asyik melamun di Balkon.Dan yang selalu dibahas Nur dan Nur lagi..."


"Apa pernah Mama bertanya?Fajar udah pulang ??Fajar udah makan??hasil nilai Fajar berapa sekarang sayang??Udah mau ujian akhir ,,belajar ya Nak..pernah??nggak kan??"


Soraya terdiam,ucapan Fajar seperti menampar hatinya.Air mata Soraya mengalir deras tak tertahankan.


"Diam Fajar!!"Suara Idris bergetar.Hatinya pun merasakan sakit akan hal ini.Melihat Ibunya menangis,Fajar turut meneteskan air matanya.


"Kalau Mama ingin tahu Fajar kenapa pulang terlambat ??Fajar baru saja pulang dari rumah Nenek Luna.Disana Fajar menemukan kasih sayang dan perhatian.Sebenarnya Fajar malas untuk pulang ke rumah,tapi Nenek Luna mengajar kan Fajar agar tidak membuat hati orang tua khawatir"


Setelah berucap demikian,Fajar masuk ke dalam kamar nya.Ia menutup pintu dan menyandarkan punggungnya pada daun pintu.


Disana ia menangis lirih sampai tubuh nya merosot dan terjelopoh di lantai.


"Maafkan Fajar Ma..."