Blue Eyes

Blue Eyes
MAYAT BANGKIT 149



"Iya Nona,dan sekarang mayatnya akan segera datang dengan dibawa oleh Ambulance"Sambung aparat kepolisian.


"Sekarang Pak??"Silvia tak percaya itu.


"Iya sekarang"


"Kesini?ke rumah saya?"


"Iya Nona"


"Kenapa nggak dikirim ke rumah Ibunya sih Pak??"


"Kami tidak tahu dimana itu? karena setelah kami cek data pribadi korban,dia anak dari Tuan Roberto "


"Iya dia memang anak Papa,tapi hasil dari perselingkuhannya "Bantah Silvia yang kurang suka jika mayat Anggi dibawa ke rumah nya.


"Mending Bapak bawa dia ke rumah Ibunya deh,Nanti supir saya antar ke sana"sambung Silvia ketus.


Cahaya mencolek adiknya,Fajar menoleh.Ia mendapati Kakaknya memberikan kode tertentu yang langsung dimengerti oleh Fajar .


"Sil... berhubung ambulance nya sudah dalam perjalanan, biarkan saja mayatnya di proses disini"timpal Fajar .


"Apa??Jar...aku lagi ada pesta"


"Rumah mu kan besar, biarkan peti jenazah nya di simpan di ruangan lain.Kamu bisa hubungi kedua orang tua mu terlebih dahulu "Fajar memberikan ide.


"Kamu gila ya,,,Papa dan Mama aku sekarang ada Denmark, nggak mungkin aku meminta mereka untuk pulang.Belum tentu pesawat mereka mendarat"


Fajar cukup terkejut mendengar itu.


"Pokoknya saya tidak mau tahu ya Pak,jangan bawa mayat Anggi ke sini"tegas Silvia.


Para aparat kepolisian terlihat bernegosiasi dengan yang lainnya.Silvia benar-benar tidak mau tahu,ia mengajak teman-temannya untuk masuk melanjutkan pestanya.


Namun suara sirine ambulans mencegah langkahnya untuk masuk.Silvia jadi geram,ia melangkah keluar rumah dengan kaki dihentakan ke lantai.


"Diam!!bisa diam nggak!! nggak usah pakek dibunyiin,berisik!!"Silvia menjerit lantang.


Supir Ambulance itu patuh,ia mematikan sirine nya.


"Pak... Pak Tohir!!"Silvia berseru memanggil seseorang.


"Iya Non..."


"Cepat antar mereka ke rumah simpanan Papa,aku tidak Sudi menerima jasad anak pelacur itu"


"Oh ba-ba-baik Non"Pak Tohir pasrah saja,karena ia hanya seorang babu di rumah ini.


BRAK!!


Tiba-tiba pintu belakang mobil ambulans terbuka sendiri.Semua terkejut dan penasaran,mereka berkumpul mengerumuni ambulans tersebut.


Anehnya lagi,keranda mayat yang berisi tubuh Anggi keluar dengan sendirinya.Semua orang yang menyaksikan kejadian itu bergidik ngeri.


"Apa-apaan ini ?? cepat angkat masuk kembali Pak"Silvia tetap dengan pendiriannya,ia sama sekali tidak terintimidasi oleh kejadian itu.


"Baik Non"Pak Tohir patuh,ia mengajak supir dan kernet ambulance untuk membantu nya.Keanehan terjadi lagi,peti jenazah tidak bisa diangkat meskipun seinci.


"Non berat sekali"Pak Tohir mengeluh.


"Jangan banyak alasan deh Pak"


"Beneran Non"Pak Tohir meyakinkan sang anak majikan.


"Eh tolong bantuin dong"pinta Silvia kepada teman-temannya, tapi semua menolak.Fajar ingin membantu,tapi dicegah oleh Cahaya .


"Ih Kalian pada kenapa sih??Aku kasih kalian per- orang 1juta buat bantuin angkat keranda itu masuk kembali ke dalam ambulans "Silvia mengumumkan sayembara yang spontan membuat semua orang yang berada di tempat itu antusias untuk membantu.


Mereka bergerombol membantu mengangkat peti jenazah,tapi sayang.Sekuat apapun mereka berusaha mengangkat nya,peti itu tidak bergeser sedikit pun.


"Kak...kok bisa gitu ya?"tanya Fajar bingung.


"Kamu nggak liat kalau roh si mati duduk di atas keranda nya"


Fajar menggeleng, membuat Cahaya keheranan.Bukankah Indra ke enam adiknya sudah terbuka?Cahaya memeriksa kedua mata Fajar ,pada saat itu lah ia mencium bau yang menyengat dari mulut adiknya.


"Kau bau sekali...kau makan apa?"


"Oh...aku tadi minum sedikit Kak,nyicip aja"Fajar nyengir kuda.


"Minum alkohol Kak"


"Apa itu ???oh ya.. alcohol bukannya untuk membersihkan luka kalau di rumah sakit "


"Bukan alcohol itu Kak,ini alcohol untuk minum "


"Kok aku nggak tahu,enak ya??"


"Lumayan...apa Kakak mau??"


"Kapan-kapan aja deh,kita lihat ini dulu..."


Fajar mengangguk setuju.


"Ini gimana sih??kok pada lembek semua"Gerutu Silvia mulai kesal karena tidak ada yang mampu mengangkat peti jenazah Anggi.


"Kau coba aja sendiri deh, kalau nggak percaya"sergah seorang pria turut kesal.


"Kalau aku bisa Ngapain aku bayar kalian"balas Silvia sengit.


"Sudah-sudah...jangan berdebat lagi, lebih baik bawa saja peti jenazah ke dalam"Akhirnya Cahaya ikut campur memberikan solusi.


"Eh kau siapa?"sergah Silvia tidak terima dengan usulan Cahaya.Gadis asing itu mendekat lalu tanpa segan memukul kening Silvia.


"Kau diam!!"


Serta merta Silvia bungkam.


"Ayo... angkat ke dalam"titah Cahaya .


"Bagaimana mau dibawa ke dalam ?ini mau di angkat masuk ke dalam ambulans saja berat banget"Celutuk salah satu pria.


"Mayatnya mau disini,jadi kalau diangkat masuk pasti bisa"


Semua heran mendengar ucapan Cahaya .


"Sudah jangan kebanyakan mikir, cepat bawa masuk"


Mau tidak mau mereka pun mengikuti instruksi Cahaya .Dan benar saja,peti jenazah dengan entengnya bisa terangkat dan dibawa masuk ke dalam rumah begitu mudah.


"Taruh disitu saja!!"Sergah Silvia menunjuk ruang keluarga.Mereka patuh, kursi-kursi ditepikan guna memberikan tempat yang luas untuk menyimpan peti jenazah.


"Pak Tohir, tolong datangi pe-lacur itu.Katakan padanya untuk menjemput mayat anaknya ke sini"ketus Silvia.


"Baik Nona"Pak Tohir lagi-lagi tidak membantah.


"Hey kau!"seru Cahaya kepada Silvia.Gadis judes itu melirik saja.


"Perintah kan beberapa orang untuk menjaga mayat ini"


"Kau yang menyuruh untuk dibawa ke sini Kan?jadi??kau jagalah sendiri "


"Apa-?"


Silvia berlalu pergi begitu saja,tak lupa ia menutup pintu ruangan itu rapat-rapat.Fajar sendiri di ajak teman-teman nya untuk lanjut minum.Maka tinggal lah Cahaya sendirian dengan peti jenazah tersebut.


HUFFFF...


Cahaya menghembuskan nafas panjang.Ia duduk bersila di depan keranda.Suara jedag-jedug samar-samar terdengar dari rumah sebelah.


"Begini lebih baik daripada pada telinga ku budeg oleh suara musik"ujar Cahaya pada dirinya sendiri.


BRAK!!


Cahaya kaget, tiba-tiba angin bertiup kencang menghantam pintu hingga terbanting keras.Penutup keranda terbuka diterbangkan oleh angin.


Cahaya mengambil kembali penutup keranda dan berniat untuk menutup si mayat.Mendadak mayat yang terbungkus kain kafan itu duduk, hingga mengagetkan Cahaya .Gadis itu melatah memukul si mayat dengan penutup keranda yang dipegangnya.


BUGH


Alhasil,si mayat terhempas kembali masuk ke dalam keranda dengan wajah penyok.


"Huffff mangkanya,jangan bangun mendadak dong.Bikin kaget aja... Ngomong kalau mau bangun,habis dah mukamu hancur"Cahaya memeriksa wajah si mayat,ia geleng-geleng kepala melihat kondisi si mayat yang dipukul nya.


"Kenapa kamu bangun ?mau apa?mau pipis ??"Cahaya bertanya seolah-olah si mayat bisa menjawab.


"Eh...dia kan udah mati, nggak mungkin dong dia mau pipis.Terus kenapa kamu bangun ??"