
Mata kecil GINA terbuka perlahan,ia kaget menemukan dirinya berada di sebuah tempat tidur yang empuk dan kamar yang luas.Ia cepat bangun, awalnya ia mengira itu hanya mimpi.Namun saat samar-samar GINA mendengar tawa adiknya si Bayu.Gina melompat turun dan berlari membuka tirai.
Rupanya Bayu tengah berenang di kolam tepat di depan kamar yang baru saja ia tiduri.Bayu sangat riang sekali,menyelam lalu timbul kembali di tempat berbeda.
Om yang membawa mereka menemani Bayu mandi di kolam.Ia juga bermain dengan Bayu.Keduanya terlihat sangat akrab, seolah bukan orang asing yang baru saja bertemu.
"Kak...ayo mandi, airnya seger"seruan Bayu membuat Cahaya dan Fajar menoleh ke arah GINA berdiri.Keduanya sama-sama melambaikan tangan memanggil.
"Apakah aku mimpi ??"gumam GINA masih tak percaya.
Cahaya bangkit,ia menggeser jendela kaca yang masih tertutup.
"Ayo... sore-sore begini paling enak berenang bukan?"Cahaya mengulurkan tangannya mengajak GINA.Gadis kecil itu ragu-ragu menyambut uluran tangan wanita yang katanya akan mengadopsinya.
"Apa Bapak nggak bakalan marah Tante??"tanya GINA dengan polosnya.Cahaya mengulas senyum.
"Bapakmu tidak akan menemukan mu disini,kau sekarang aman.Ibumu pasti lega karena kamu sudah bebas dari bapak dan Ibu tirimu"
"Apa ??Jadi?? Tante datang sebenarnya ingin menyelamatkan ku??"
"Iya!! ini atas permintaan Ibumu"
"Ibu?? bukankah..."GINA tertunduk sedih,air matanya mengalir perlahan mengingat tentang Ibunya.Cahaya berlutut di depan GINA,mengusap pipi gadis kecil itu.
"Iya...Ibumu datang padaku dalam wujud arwah.Dia meminta ku untuk menyelamatkan kamu dan adikmu"
"Sungguh ??Apa Tante bisa mempertemukan aku dengan Ibu...aku..aku.. rindu sama Ibu Tante"Dua mata kecil itu berkaca-kaca.Cahaya tersenyum getir,ia meraih bahu GINA lalu mendekapnya erat.Hati GINA terenyuh,ia menangis tersedu-sedu disana.
"Kakak... kenapa kamu menangis ?"Tetiba Bayu sudah berdiri di samping, membuat Cahaya melepaskan pelukannya.Gina seolah-olah paham,ia segera menyusutkan air matanya.
"Kakak menangis karena bahagia dek... sekarang kita sudah bebas dari Tante Yati"
"Iya Kak ..kita tinggal disini saja ya, nanti kalau bapak datang kita nggak usah ikut.Disini enak ada kolam renangnya"Jawab Bayu berbinar-binar,GINA mengangguk setuju.Dua bocah kecil itu tersenyum bahagia.
Soraya datang membawa kue dan minuman.Ia meletakkan di atas meja tepi Kolam.
"Mama??mana Bibik??"tanya Fajar .
"Ada,dia banyak kerjaan"
"Ya tapi kan Mama bisa manggil Fajar"
"Nggak apa-apa...."Soraya memperhatikan dua anak kecil yang masih asyik mandi di kolam.
"Nur..."
Cahaya menoleh saat Soraya memanggil.
"Kalau kamu senang mereka tinggal disini?Mama ijinkan mereka tinggal "
Cahaya menggeleng perlahan.
"Mereka tidak boleh tinggal bersama ku"Jawab Cahaya .
"Kenapa Kak??"
"Aku tidak ingin banyak orang yang tahu tentang diriku "
Soraya mengerti maksud putrinya.
"Jadi...kita harus kemana kan mereka ??"lanjut Fajar bertanya lagi.
"Biarkan mereka tumbuh di tempat yang aman dan nyaman..."
"Terus...si Bajin9an itu gimana ??"
"Kita sambut dia besok"Cahaya tersenyum aneh,namun Fajar paham dengan maksud senyuman itu.
"Kalian ada projects rahasia ??"timpal Soraya.
"Ah Mama mau tahu aja"elak Fajar seraya menyeruput minuman nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mobil yang menjemput Pak Wahid sudah tiba di halaman rumah almarhum Maulana . Setelah Pak Wahid turun, sopir itu sudah diperintahkan untuk segera pergi.Dan tidak lupa mengunci pintu gerbang secara diam-diam.
Pak Wahid yang sudah bersemangat bertemu Cahaya sama sekali tidak menyadari tentang hal itu.Ia merisik masuk ke dalam rumah yang kebetulan pintu utama nya terbuka lebar.
"Assalamualaikum...Nyonya"seru Pak Wahid,ia sudah senyam-senyum sendiri membayangkan kecantikan Cahaya .
"Assalamualaikum...saya sudah datang Nyonya"
KRETEK BRAK
Pintu yang terbuka lebar, tertutup dengan sendirinya.Pak Wahid sedikit kaget, ia mengelus dada untuk meredam perasaannya.
Itulah yang ia pikirkan tentang pintu yang tertutup tanpa tersentuh.Pak Wahid masuk semakin ke dalam,karena ia sama sekali tidak menemukan tanda-tanda adanya orang di rumah itu.
SRET SRET
Gorden bergeser sendiri, menutup jendela.Pak Wahid kaget bukan main.Kalau ini iya yakin bukan disebabkan oleh angin.Tetiba bulu kuduknya meremang,darah berdesir panas.Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Assalamualaikum...apa ada orang disini ??"suara Pak Wahid bergetar, nyalinya yang berkobar ciut perlahan.
"Nyonya..."panggilan nya menggema seluruh ruangan.Pandangannya mengedar, sampai ia melihat sesuatu yang duduk bersujud di lantai.
"Nyonya ???"Pak Wahid memanggil ragu, ia ingin melihat siapa gerangan wanita yang berambut panjang itu.Langkahnya perlahan mendekat, tiba-tiba Kedua tangan wanita itu terangkat menopang di atas lantai.
"Astaghfirullah"Pak Wahid kaget,ia mengernyitkan keningnya mempertajam penglihatannya.
KRETEK
Bunyi tulang patah memecah keheningan,kepala wanita itu terangkat.Rambut lembab menjuntai menutupi sebagian wajahnya.
"Nyonya..."Pak Wahid masih mengira bahwa dia adalah Cahaya .Wajah pucat mendongak menatap nya.Kini pria itu baru menyadari siapa sosok itu,Pak Wahid terkesiap.Tubuhnya mematung tak bergerak.
Sosok itu menyeringai, menunjuk kan deretan gigi yang menghitam dan berbau anyir.
"Mu ..Munir???"
Dua bola mata tajam menatap nyalang, sepasang kaki yang bersimpuh tetiba terangkat.Mengubah posisi duduk menjadi merangkak.
Pak Wahid menelan saliva, ia bergidik ngeri melihat penampilan arwah istrinya yang sudah ia bu-nuh dengan keji.
"Ja-jangan mendekat!!Alam kita sudah berbeda Mun.. pergi kau dari sini!!"gertak Pak Wahid.Makhkuk itu menyeringai semakin lebar, sehingga sudut bibirnya menyentuh daun telinga.Ia bergerak maju selangkah, membuat Pak Wahid tersentak dan tergelincir ke lantai.Pria itu panik,ia menyeret tubuhnya mundur menjauh dari makhluk yang dihadapi nya sekarang.
"Hihihihihihi"Arwah Munir cekikikan menyaksikan ketakutan sang suami.Pak Wahid celingukan kesana-kemari,ia sama sekali tak menemukan siapapun disana.Tapi ia baru menyadari,jika yang ia hadapi hanyalah Qorin.Jadi ia berinisiatif untuk melawan.
Dengan sedikit tekad yang dibulatkan,Pak Wahid duduk bersila.
"Kau pikir aku takut padamu Munir.. sepertinya kau ingin ku bunuh untuk kedua kalinya"Dengan percaya diri,Pak Wahid merapal doa pengusir arwah.
"Hihihihihihi"Arwah Munir justru semakin tertawa nyaring.Ia merangkak menaiki tiang rumah,lalu merambat di plafon dengan posisi kepala menjuntai ke bawah.Tepat di atas Pak Wahid, Munir bergelantungan.
"Kau pikir,doa orang jahat seperti mu akan dikabulkan Tuhan ??Hihihihihihi"
Pak Wahid terbelalak melihat wajah seram istrinya tepat berada di depan matanya.
"Aku akan membunuhmu Wahid"
Bersamaan dengan tengkingan suara Munir, rambut yang menjuntai melilit ke leher sang suami.Pak Wahid gelagapan, ia berusaha melepaskan lilitan rambut istri nya .Namun semakin di lepaskan,lilitan itu semakin mencekik.
Pak Wahid tersengal-sengal,tangannya menggapai-gapai udara kosong.Udara di dalam paru-parunya semakin menipis,saat tiba-tiba sebuah tangan menepuk-nepuk pipinya dengan kuat.
"Pak...Pak .. anda kenapa ??"
Pak Wahid membuka matanya,ia terperanjat melihat Cahaya berada di hadapannya.Pria itu belingsatan,ia menatap ke sekeliling dengan rasa takut yang mencekam.
"Pak...anda Kenapa ??Kok tiduran di lantai"
Pak Wahid masih ngos-ngosan,degup jantungnya tidak karu-karuan.Ia terus memperhatikan keadaan dengan siaga.Takut-takut arwah sang istri datang menyergapnya.
"Pak..."sekali lagi Cahaya memanggil.
"Ah..iya ... ma-maaf..."Pak Wahid tidak tahu harus menjawab apa,ia bingung.Kejadian yang baru saja ia alami seperti sangat nyata.
"Mari bangun Pak"Cahaya mengulurkan tangannya,Pak Wahid masih ragu.Ia meraba leher nya ,bau anyir masih tercium.Tiba-tiba Pak Wahid seperti memegang sesuatu di ujung jarinya.Saat ditarik, rupanya seutas rambut hitam nan panjang.
Dua bola mata Pak Wahid membulat sempurna.Ia mengangkat wajahnya ragu,saat ia menyadari jika yang mengulurkan tangannya ternyata bukanlah Cahaya . Melainkan Kuntilanak yang menyeringai lebar kepadanya.
"Ayo Pak...ikut aku..."suara Munir serau menusuk telinga.Pak Wahid menggeleng pelan, tubuhnya tak bisa lagi digerakkan.
Tangan yang terulur berkuku tajam membelai lembut pipi nya.
"Aku . Tidak mau mati sendiri an...kau harus ikut Pak..."
Pak Wahid menggeleng, wajahnya sudah pucat pasi ketakutan.
"A-am-pun Mun...."
HIHIHIHIHIHIHIHIHI....
Kretek Kretek
Munir membenarkan posisi kepala nya yang miring.Seekor belatung keluar dari hidungnya,lalu di lahap oleh mulutnya.
"Aku tidak akan memaafkan mu... kecuali...kau .. membunuh adikku"