Blue Eyes

Blue Eyes
TERKENA SIHIR 105



Kedatangan peti jenazah yang membawa jasad GIBRAN sudah tiba di Bandara Soekarno Hatta.Banyak wartawan yang meliput rekontruksi penyerahan peti jenazah kepada keluarga korban.


Disana, Kusuma Akbar Galih beserta istrinya Begitu mendalami peran.Mereka menangis sampai kedua matanya bengkak.Namun hal itu tidak berpengaruh apapun terhadap Cahaya dan Maulana yang turut hadir di airport.Mereka menyaksikan acara tersebut secara langsung.


Rasa marah, jengkel seperti akan meledak di dalam dada.Cahaya tak tahan lagi,ia berjalan ditengah keramaian menghampiri Kusuma.Meskipun Maulana sudah berusaha untuk mencegah,namun sama sekali tak digubris.


"Selamat...atas akting yang memukau"


Kusuma terkesiap kaget,dua bola matanya membulat.Ia seperti terhipnotis saat seorang gadis menghampiri dan menyalami nya.


"Pa..."Sang istri tercinta heran melihat ekspresi wajah Kusuma.Ayah dari GIBRAN Galih serta merta menoleh.


"Papa kenapa ??"


"Hah??"Kusuma bingung seperti orang linglung,ia memperhatikan orang-orang yang mengerumuni.Gadis yang baru saja bersalaman dengan nya sudah menjauh,ia tersenyum simpul dan tubuhnya menghilang dalam himpitan para wartawan.


Saat itu juga Kusuma teringat kata-kata Hellen, ternyata wanita penyihir tidak berbohong.


SIAPA GADIS ITU ???


Untuk kedua kalinya, tiba-tiba Hellen sudah berada di kamar Kusuma.Kali ini Kusuma sudah tidak takut lagi.Ia mendekati Hellen, wanita itu duduk di tempat yang sama ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya.


"Kau sendiri ??mana istri mu??"


"Mereka menemui para pelayat"jawab Kusuma "Benar katamu,gadis tadi datang menemui ku"


Hellen menarik dua sisi bibirnya,


"Tidak ada yang melihatnya bukan??hanya kamu.."


Kusuma mengiyakan.


"Siapa dia??dan dia tinggal dimana?"


"Kau tidak boleh menampakkan diri padanya"


"Kenapa ??"


"Dia bukan gadis biasa,kita harus melawannya melalui orang terdekat "


"Sehebat apa dia sampai kita tidak boleh face to face dengan nya?"Kusuma jadi penasaran.


"Sekali dia mengangkat samurai nya,dia bisa memotong tubuh mu menjadi dua bagian dan dia tidak akan pernah gagal membunuh orang"


Kusuma merasa bulu tengkuknya meremang.Ia mengusap bagian belakang lehernya.


"Aku sudah mencari tahu tentang gadis itu,dia punya adik laki-laki yang satu sekolah dengan Gibran.Namanya Fajar, campurkan cairan itu kedalam minuman nya.Kita akan pastikan cairan itu juga diminum oleh gadis itu "


Kusuma mengernyitkan keningnya.


"Kalau diminum sama Fajar gimana?"


"Itu tidak akan berpengaruh apapun"


Kusuma mengangguk mengerti.


"Lakukanlah sesuai petunjuk dari ku"


"Baiklah...."Kusuma menyanggupi,Hellen tersenyum tipis.Ia bangkit lalu menghilang seperti sebelumnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kusuma Akbar Galih datang berkunjung ke sekolah GIBRAN.Kedatangannya sudah menjadi rutinitas biasa.Setelah berbasa-basi dengan para guru, Kusuma memanggil Yanto teman sekaligus orang kepercayaan Gibran.


Ia memerintahkan Yanto untuk menjalankan tugas yang diberikan oleh Hellen.Hal itu bukan lah hal yang sulit,Yanto pun menyanggupinya.Ia juga mendapatkan imbalan dari Ayah GIBRAN.


Saat jam istirahat,Yanto diam-diam mengambil botol minuman milik Fajar.Ia menuangkan semua cairan yang diberikan oleh Kusuma.Lalu mengocok isinya.


*


*


Pulang sekolah, seperti biasa Fajar mengendarai motor nya.Tiba-tiba ia merasa pandangannya buram,dan tanpa sengaja Fajar menabrak pohon di bahu jalan.


Akhirnya Fajar di larikan ke rumah sakit.Saat Itu Cahaya memang berada di rumah sakit bekerja untuk Maulana.


Ketika Fajar dilakukan pertolongan pertama, Cahaya sama sekali tidak tahu jika Fajar mengalami kecelakaan.


Namun seorang suster melapor kepada Maulana, bahwa ada seorang siswa yang sedang kritis di UGD membutuhkan penanganan Dokter tambahan.


Maulana pun gegas pergi,Cahaya juga ikut serta.Dan betapa terkejutnya mereka setelah tahu bahwa itu adalah Fajar.


"Fajar..."Cahaya menyentuh tubuh Fajar,ia melihat ada sesuatu yang aneh.Tubuh Fajar mengeluarkan asap kehitaman.


"Ca.. tenang lah...aku akan berusaha menolong Fajar..."Maulana menenangkan Cahaya,agar ia tidak menggangu kinerja Dokter yang lain.


Cahaya menyingkir,ia mencari barang milik Fajar.Saat bertanya pada suster, Cahaya langsung mendapatkan barang milik Fajar berupa tas sekolahnya.


Cahaya membawa barang tersebut ke ruang kerja Maulana.Ia menuangkan semua isi tas Fajar,dan menemukan botol air milik Fajar mengeluarkan asap yang sama seperti tubuh Fajar.


Cahaya membukanya,dan mengendus isinya.Tak ada yang aneh,Cahaya tidak mencium sesuatu yang lain.


Untuk memastikan hal itu, Cahaya berinisiatif untuk meminum air tersebut.Agar ia bisa tahu apa isi dalam kandungannya.


Alhasil,ramuan sihir itu langsung bekerja pada tubuh Cahaya.Cahaya merasa pusing sekali, hingga ia membaringkan tubuhnya di lantai.


HAHAHAHAHAHAHAHAHAH


Suara tawa membahana,asap hitam masuk dari celah jendela.Asap tersebut membentuk tubuh manusia,dan menjelma menjadi sosok wanita.Dialah Hellen....


"Akhirnya...aku bisa melumpuhkan mu"


Cahaya membuka sedikit matanya, meskipun ia merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya.Tapi ia masih mampu untuk bertahan.


Jari jemari Cahaya bergerak, berusaha menggapai ujung jubah hitam yang dikenakan Hellen.


Namun ia tidak berdaya, tubuhnya melemah.


"Sekarang waktunya aku menyihir mu..."Jari jemari Hellen menari-nari di atas tubuh Cahaya.Mulutnya komat-kamit merapal mantra.Asap hitam menggulung tubuh Cahaya sampai tak terlihat.Dan....


CLING!!


Cahaya berubah menjadi seekor kucing.Hellen merasa gembira,ia tertawa lepas sambil berputar-putar.


"Hah???kenapa aku jadi kucing ??"Cahaya sangat shock sekali melihat dirinya sendiri.Namun suaranya sama sekali tak terdengar oleh siapapun.Hanya bunyi meong-meong yang bisa ditangkap oleh pendengaran manusia.


"Hahahahaha lucu sekali kamu"Hellen mengusap tubuh Cahaya yang sudah berbulu lembut.Namun Cahaya menghindar..


"Aku tidak bisa bermain lama-lama dengan mu, nikmati saja hidup mu sebagai seekor kucing.Sekarang aku harus segera pergi mengambil topeng legendaris.Dan kamu tidak akan bisa mencegah ku Hahahahahahaha"


Hellen melenyapkan diri menjadi asap hitam yang hilang dibawa angin.


"Kurang ajar, ternyata dia akan mengambil benda pusaka itu dari ku.Kau pikir aku akan membiarkannya begitu saja ??hemmm tidak!!"


Cahaya yang sudah berubah menjadi kucing itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tubuh nya.Batu jimat kecubung!!


"Sekarang kau lakukan tugas mu, pergilah!! lindungi Topengku!!"


Cahaya meniup batu kecubung,batu itupun melesat cepat.Dua mata hazel yang sama sekali tidak berubah itu menatap jauh kepergian batu kecubung.Cahaya berharap hal itu bisa berhasil untuk melindungi topeng legendaris.


"Fajar..."Cahaya baru teringat akan adiknya,ia segera keluar untuk menemui Fajar.Semoga Fajar bisa diselamatkan.Itulah harapan seekor kucing kecil yang begitu lucu serta menggemaskan.