Blue Eyes

Blue Eyes
TENTANG ADAM 91



Pagi harinya,Cahaya baru saja membuka mata.Ia kaget dan bingung melihat nuansa kamar yang berbeda,namun pada akhirnya ia sadar jika ia sudah tidak tinggal di rumah Dominic .


Cahaya menghela nafas berat,dadanya kembali berdenyut sakit.


"Aku sudah tidak bersamanya,tapi kenapa dadaku masih sakit??"Gumam Cahaya .


Cahaya Mengangkat pandangan nya,ia melihat Sanca melingkar di atas lemari.Mungkin ular itu masih tidur.Cahaya memutuskan untuk keluar kamar.


Baru saja membuka pintu,aroma sedap menyerang hidung nya.Cahaya menghidu mencari asal muasal aroma tersebut.Sampai Cahaya tiba di sebuah pantry kecil yang menyatu dengan sebuah meja panjang dan kursi makan.


Disana terlihat Lana sedang menata meja dengan makanan.


"Hay... selamat pagi"sapa Lana.Cahaya tersenyum tipis.Ia duduk di salah satu kursi,namun perhatian nya teralih kan oleh sebuah tv yg menayangkan berita tentang seorang siswa yang dibacok hingga meninggal.Dan pelaku nya sudah ditangkap oleh polisi.


Menurut pengakuan pelaku,ia salah sasaran.Yang ia targetkan bukanlah korban, melainkan siswa lainnya.Tapi na'as korban yang bernama Adam itu kebetulan lewat di jalan yang mana pelaku bersama teman-temannya menunggu target.


"Dia berbohong..."gumam Cahaya .Lana turut menyimak berita di tv.


"Itu anak yang Ibunya menangis kemarin"Ujar Lana menambahkan.


"Tapi pelaku itu berbohong"


"Dari mana kau tahu.."


"Aku mendengar sendiri dari penuturan Adam,dia melewati ku dan mengatakan nya padaku"


Lana menatap ke arah tv lagi...


"Apa yang Adam katakan padamu?"tanya Lana.


"Pelaku memang ingin membunuhnya,dia menyebut nama seseorang.Nisya!!"


"Ok!! setelah sarapan kita cari gadis itu "Lana memberikan ide,Cahaya mengangguk setuju.


*


*


Dominic nampak frustasi, ditambah lagi dia harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari Raul tentang Cahaya .Semakin stres lah pikiran Dominic.


"Apa dia kembali ke hutan larangan ??"Dominic mencoba menerka,karena semua itu bisa saja.Ia tahu sendiri kehebatan Cahaya ,gadis itu bisa melesat cepat seperti Superman.


"Dom...ada Celine "Dante menghampiri Dominic ,ia membawa Celine ikut serta.Dominic mendengus kesal,ia membalikkan badannya dengan malas.


"Aku sudah melarang mu menginjakkan kaki di rumah ini"


"Sayang...maafin aku..."Celine mendekat dengan wajah memelas.


"Stop!!!jangan pernah menyentuh ku lagi Celine "bentakan Dominic menghentikan pergerakan Celine .Dante ikut kaget mendengar suara Dominic yang meninggi.


"Dom... bisa kah kalian bicarakan hal ini baik-baik "Dante berusaha menengahi.


"Dant..kamu nggak tahu apa-apa, please jangan ikut campur.Atau kau juga harus pergi dari rumah ini"


Dante tercekat, ia menyadari jika kemarahan Dominic bukan main-main.


Dante jadi ragu,apa benar yang dikatakan Celine jika Dominic marah karena Cahaya pergi dari rumah nya.Dan Celine tidak mencegah kepergian Cahaya ?? Apakah sesederhana itu ??


"Maafin aku ya nek.. nggak bisa bantu mendinginkan pikiran Dominic "Dante mengantar Celine ke mobilnya.


"Nggak apa-apa..."Celine menyeka air matanya dan berusaha untuk tersenyum.


"Mending kamu jujur sama aku, kenapa Dominic bisa semarah itu ?Nek aku ikut Dominic udah bertahun-tahun,jadi aku tahu sifat Dominic .Dia semarah itu sama kamu berarti ini bukan sekedar masalah cewek kampungan itu.Kamu selingkuh dari dia??"Dante langsung to the points aja.


"Dant ...aku mencintai Dominic, sungguh aku tidak selingkuh dari dia"


"Terus??apa masalah nya??"Dante tetap tidak percaya.


Celine tak menjawab,ia tidak mungkin membuka aib yang ia tutup bertahun-tahun.


"Ya sudah..aku pulang dulu, mungkin Dominic masih perlu waktu.Nanti aku akan temui dia lagi"


"Ok!"Dante setuju.


*


*


"Oh Nisya..Itu dia"


Kebetulan sekali saat itu Nisya baru saja melewati pintu gerbang.Ia mendengar seseorang menyebut namanya.Dan ketika melihat dua orang dewasa melihat ke arah nya,Nisya jadi ketakutan.Nisya berlari keluar dari area sekolah.


"Hey!! Nisya tunggu!!"Lana pun mengejar gadis itu.Cahaya juga turut mengejar.Adegan kejar-kejaran terjadi.


Namun itu tidak lama, karena Cahaya berhasil membuat Nisya tersandung kakinya sendiri dan jatuh.


"Hugfff kenapa kamu lari Nisya??"Lana menghela nafas kecapean,Nisya tak menjawab.Ia beringsut mundur.Cahaya tanpa ba-bi-bu langsung menarik tangan Nisya lalu dibawanya masuk ke jalan gank kecil.


"Tolong lepaskan, kalian mau apa??"


Cahaya sama sekali tidak perduli,ia menahan tubuh ke dinding.Lalu mencengkram dagu gadis tersebut.


"Ca..Ca...jangan kasar begitu dengan anak kecil "Lana sedikit khawatir melihat perlakuan Cahaya .


"Dia gadis licik"Cahaya menjawab dengan sorot mata tajam ke anak mata Nisya.


"Iya..aku tahu...tapi kamu perlu sekasar ini.Sini biar aku yang interogasi dia"Lana ingin mengambil alih,namun Cahaya mendorong nya.


"Jangan ikut campur!!"


Lana tercekat,tatapan Cahaya sungguh tidak ramah.Ia sendiri merinding dibuatnya.


"Kenapa Adam dibunuh ??"Cahaya kembali menyorot tajam ke wajah Nisya,gadis itu gemetar.


"JAWAB!!!"


Nisya tersentak kaget dibentak oleh Cahaya .Ia semakin ketakutan.


"Atau aku bawa kamu ke kantor polisi"


Nisya menggeleng, wajahnya memucat.


"Cerita kan padaku.. kenapa Adam dibunuh ??"


Nisya menundukkan wajahnya, ia menangis tanpa isakan.


"Adam...Adam adalah..pacarku"


Lana menautkan kedua alisnya, menunggu kalimat selanjutnya yang akan diucapkan oleh Nisya.


"Gibran... adalah mantan ku"


Lana mengangguk mengerti,jadi benar jika kasus pembacokan Adam ada unsur kesengajaan.


"Kau harus mengatakan hal ini kepada polisi "Sambung Lana,namun Nisya menolak.


"Aku takut Om.."


Lana terkejut ia dipanggil Om.Apalagi di depan Cahaya .


"Kau tidak perlu takut,aku akan melindungi mu"Cahaya menimpali.


"Melindungi dengan cara apa? Gibran anak pemilik sekolah.Kalau aku mengatakan yang sejujurnya,aku bisa dikeluarkan dari sekolah"


"Aku akan menjamin kau tidak akan dikeluarkan, justru kamu akan mendapatkan perlindungan khusus"Lana menyahut.


"Om... orang tua Gibran, sangat berpengaruh.Aku hanya dari keluarga biasa Om"


Cahaya dan Lana saling berpandangan.


"Apa ada bukti lain yang menunjukkan Gibran sebenarnya bersalah ?"Lanjut Lana.Nisya menggeleng lemah.


"Hanya aku yang tahu semua nya, karena tidak ada yang tahu Adam berpacaran dengan ku kecuali Gibran "


Lana mengernyitkan keningnya,ini sangat aneh.Biasanya jika anak seumuran Nisya ataupun Adam jika pacaran pasti teman-teman dekatnya tahu.


"Kau yakin tidak ada yang tahu?"Lana ingin memastikan.Nisya tetap menggeleng.


"Terus Gibran tahu dari siapa kamu pacaran sama Adam?"Sambung Lana.


"Aku yang bilang Om,karena Gibran maksa ingin balikan.Jadi aku bilang kalau aku sudah punya pacar yaitu Adam"