Blue Eyes

Blue Eyes
RUMAH NOMOR LIMA 130



AH


Pak Wahid terjaga dengan dua bola mata melotot lebar.Nafasnya memburu cepat seperti rongga dadanya menyempit.


Ia mengedarkan pandangannya,hanya sepi yang ia temukan.Pria itu tergopoh-gopoh menegakkan tubuhnya,pun ia segera mengambil langkah seribu keluar dari rumah tak berpenghuni itu.


Saat tiba di luar rumah, kondisi alam sudah gelap gulita.Pak Wahid semakin mempercepat langkahnya keluar melewati pintu gerbang.Sesekali ia menengok ke belakang, karena ia merasa seperti tengah diperhatikan oleh seseorang.


"Eh Bapak dari mana ?"tanya satpam penjaga komplek.


"Dari sana...dari rumah nomor Lima"Jawab Pak Wahid tersengal-sengal.


"Rumah nomor Lima ??itu kan rumah tak berpenghuni,kok Bapak bisa dari sana? ngapain ??"


"Tadi ada yang menjemput saya dan mengantar nya ke rumah itu.Saya guru, diminta mengajar agama dan di panggil datang ke rumah nomor Lima "


Satpam itu menatap tak percaya,ia mendeteksi penampilan Pak Wahid dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Sumpah Pak...saya nggak bo-ong "


"Ok... sekarang Bapak mau kemana ?"


"Mau pulang "


"Dimana rumah nya"


"Jati Sari "


"Jati Sari ??dimana itu??"Satpam merasa alamat yang disebutkan bukan kawasan yang dekat.


"Mungkin perjalanan tiga jam lah dari sini"


"Waduh jauh amat,,,"


"Lah itu dia...saya juga bingung "Pak Wahid menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


*


*


Fajar cekikikan sampai ngik ngik menyaksikan Pak Wahid ketakutan dikerjain oleh hantu istrinya.


Untung dia melihat semua adegan di rekaman CCTV yang disambung ke mobilnya.Jadi suara tawanya tidak bisa di dengar oleh mangsa.


"Kasian sekali dia"Fajar menanggapi saat ia menyudahi tontonan nya.


"Sekarang kita lihat,apa dia akan melakukan pembunuhan lagi??"ucap Cahaya ,Fajar membenarkan.


*


*


Pak Wahid terpaksa naik taksi online untuk bisa sampai ke rumah nya.Alhasil,ia dikenakan tarif hampir satu juta rupiah.Yang auto membuat Yati terbelalak mendengar nya.


"Uang dari mana sebanyak itu Mas"pekiknya.


"Sudah cepat ambil uang yang dikasih tamu kita kemarin, kasihan supirnya nungguin "Paksa Pak Wahid meminta uang kepada Yati.


"Huh ....uang yang sudah dikasih malah diminta lagi"gerutu Yati.


"Sedikit saja...toh pasti masih banyak sisanya "


"Iya...aku pengen beli perhiasan Mas"


"Masih cukup kok..sudah cepat bayar"


Yati mengomel sampai bibirnya meliuk-liuk ke kanan dan ke kiri.


"Kok bisa sih??"tanya Yati masih tak percaya dengan apa yang terjadi kepada suaminya.Ia duduk memeluk bantal setelah membayar ongkos taksi.


"Aku juga tidak mengerti,masak mereka menipu kita??"


"Kalau emang Mau nipu nggak mungkin dia ngasih uang segepok sama kita"tukas Yati.


"Itu dia... alamat yang dikasih bener,mobil yang aku tumpangi nyata.Tapi kok??"Pak Wahid bergidik ngeri mengingat wajah seram hantu Munir.Suaranya juga masih terngiang-ngiang,BUNUH ADIKKU!


"Mas..."


Pak Wahid tersentap kaget..


"Kamu kan sudah bayar sendiri ongkos nya sama supir taksinya "


''Ya sapa tahu Kalian sudah bekerja sama dengan baik"


"Kau ini!! lama-lama ku bun-uh kamu sama seperti Kakakmu"bentak Pak Wahid.Yati tersentap,dua bola matanya membeliak.


"Jadi kau mau membunuh aku??"


Pak Wahid hanya melirik sepintas,lalu berputar keluar kamar.


"Mas...."Yati merasa kurang puas dengan sikap sang suami.Ia mengejar Pak Wahid dan menghentikan langkahnya.


"Mau kemana kamu Mas?hah???Jadi kamu ingin membunuh aku sama seperti Mbak Munir??Tega kamu ya Mas,aku sudah menyerahkan semua milikku kepada mu.Tapi ini balasan nya"


"Emang apa yang kamu kasih sama aku??"


"Cinta!! kesucian ku"


"Cih...kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu sudah tidak perawan lagi ??"


"Ya tapi kan masih rapet,beda sama punya Mbak Munir yang sudah los dol karena melahirkan dua anak"


"Itu aja yg kamu banggakan,padahal rasanya sama saja.Malah masih mending punya Munir yang selalu wangi"


"Apa???"


PLAK!!


Yati melayang kan tamparan, amarah nya melunjak saat ia mendapatkan penghinaan dari suaminya.


"Kau menamparku ??"Pupil mata pria itu melebar,harga dirinya seperti telah dijatuhkan.


"Iya kenapa?Itu tidak sebanding dengan sakit hatiku karena kau telah membanding-bandingkan aku sama Mbak Munir "


"Kau memang perempuan si-al!!"Pak Wahid mencekik leher Yati,wanita yang masih muda itu tak menyangka akan mendapatkan serangan.


Ia berusaha melepaskan diri,namun apalah arti kekuatan nya.Yati memukul tangan Pak Wahid tanpa daya.Pukulannya begitu lemah dan semakin lemah.Hingga akhirnya ia kehabisan nafas dan meninggal.


Pak Wahid kaget melihat istrinya lemas ditangan nya.Ia sontak melepaskan cekikikannya.Tubuh Yati terhempas ke lantai.


"Angkat tangan!!!"


Pak Wahid terkesiap saat mendengar sebuah gertakan.Rupanya beberapa polisi sudah berhasil menyusup ke dalam rumah nya.Pak Wahid kalang kabut,ia hendak kabur melewati pintu belakang.Namun pergerakan nya cepat terbaca, seorang polisi dengan cepat meringkus nya.


"Ampun Pak ..kenapa saya ditangkap ??"


"Karena kamu sudah membunuh istri kamu"


"Tidak Pak ini hanya salah paham"Pak Wahid pasrah namun ia masih membela diri.


"Nanti kamu bicara di kantor saja"Polisi itu memborgol tangan Pak Wahid lalu digiringnya keluar.


Di luar rumah,Cahaya dan Fajar sudah menunggu.


"Kalian ??"Pak Wahid benar-benar terkejut melihat kehadiran mereka.


"Kenapa ??kaget??akan lebih kaget lagi jika kamu tahu bahwa kuburan Munir sudah di gali.Kami akan melakukan otopsi ulang atas jenazah Munir yang sudah kamu bunuh"Ucap Fajar penuh penekanan.


"Bajin9an!!kep4rat kalian..jadi kalian sengaja memancing ku hah??"Pak Wahid sangat murka,ia ingin menyerang Fajar namun di cekal oleh polisi.


"Kami hanya ingin menuntut keadilan atas kematian Munir yang kau palsukan.Ingat!!kau akan dihukum mati atas kejahatan mu"


"Bed3bah...awas kau ya!!"


Polisi menyeret Pak Wahid masuk ke mobil polisi, sedangkan Pak Wahid sendiri terus menyumpahi Fajar dan Cahaya .


"heh... akhirnya selesai juga kasus pertama ku"Fajar melipat tangan di dada dengan senyum bangga.Cahaya menepuk pundak adiknya dengan lembut.


"Terimakasih sayang..."


PLAK!!!


Kali ini Cahaya tidak membiarkan adiknya memanggil dia dengan sebutan sayang.


"Kak..sakit"pekik Fajar memegang pipinya.Cahaya tak perduli,ia meringsek masuk ke dalam mobil.