
Soraya tahu jika ia butuh strategi agar bisa mengungkapkan kejahatan Pardi.Tapi ia tidak mungkin melakukannya sendiri.Karena itu ia berinisiatif untuk meminta bantuan Idris.Kebetulan Idris kan punya kelebihan juga.
Saat ia tiba di sekolah esok paginya,Soraya sengaja menunggu kedatangan pria itu di halaman sekolah.
Suara deru sepeda motornya yang khas terdengar dari kejauhan.Soraya melipat tangannya di dada sembari bersandar manja ke dinding.
Moge milik Idris memasuki halaman sekolah dan parkir di tempat biasa.Ia membuka helmnya,wajah yang tersenyum manis menjadi hal pertama yang ia lihat saat baru tiba di sekolah.
Ia turun, berjalan gagah mendekati sang bidadari.
"Nungguin aku ya?"Kedua alis tebal si anak sultan bergerak menggoda.Soraya mengangguk.
"Kenapa ??kangen??"
Soraya mencebik.
"Aku ada hal penting yang harus ku bicarakan dengan mu"Soraya menarik tangan Idris tanpa menunggu persetujuan pria itu.Idris pun tak menolak.Soraya membawa Idris ke belakang sekolah yang terbilang tempat yang cukup sepi.
"Mau apa nih kamu bawa aku kesini ??"Idris bertanya sembari tersenyum nakal.
"Menurut kamu??"Soraya sengaja menggoda.
"Aduh... kok jadi aku yang deg-degan ya"
Soraya mencubit dada Idris dengan gemas, membuat pria itu meringis.
"Sakit sayang..."
"Biar kamu sadar jangan berpikir yang aneh-aneh..."
"Ih..."Idris berdecih.
"Idris...aku butuh bantuan kamu "
"Bantuan apa-an?"
"Menyelesaikan kasus pocong "
"Kasus pocong ??"
Soraya mengangguk yakin.
"Kamu serius ??"
"Iyalah... nanti malam main ke rumah ku ya?"Soraya menunjukkan tampang serius tapi Idris justru tersenyum penuh misteri.
"Kok senyam-senyum... jangan berpikir yang aneh-aneh ya..."
"Apa-an sih??emang nggak boleh aku tersenyum "
"Boleh...tapi senyum kamu mengerikan.Udah ah..jadi takut aku deket-deket sama kamu"Soraya berbalik pergi.
"Eh tunggu aku sayang...ah"Idris mengejar lalu merangkul bahu Soraya.Tapi gadis itu menepisnya.
HUHUHUHUHUHU...
Langkah Keduanya terhenti karena mendengar suara Isak tangis.Mereka saling berpandangan dengan heran.
HUHUHUHUHUHU...
Suara tangisan itu memang nyata.Mereka mencari asal muasal suara.Dan ketemu!! seseorang sedang duduk di bawah pohon palm yang sedikit tertutup oleh pagar bonsai.Soraya dan Idris mendekati pria yang terlihat menangis dengan wajah menelungkup di atas lutut.
"Hey...kamu!!"Seru Idris memanggil,karena ia belum tahu siapa pria itu.Wajah sembab terangkat,Idris mengerutkan keningnya.Ia seperti tahu siapa dia?tapi lupa namanya.
"Idris ???Aya'???"Gumamnya,Idris mendekat diikuti oleh Soraya.
"Kamu kenapa menangis ??"tanya Idris.
"Aku...aku diputusin pacar ku"
"Kok bisa??"
Pria culun itu tak menjawab Lebih lanjut,ia justru menyodorkan ponselnya.Idris mengambil nya dan melihat nya.Soraya ikut-ikutan membaca pesan yang terlihat di layar ponsel.
"MAAF YA CI...AKU INGIN KITA PUTUS.KARENA AKU ILFIL SAMA KAMU.PAN-TAT KAMU HITAM DAN DEKIL"
Soraya membacanya dengan nada agak keras.
UPS!!
Ia menakup mulutnya yang hampir tertawa,Idris menyikut lengannya agar tidak tertawa.Meskipun Idris sendiri merasa perutnya digelitik.
Oci nama pria itu, mengambil kembali ponselnya.
"Idris...apa kamu punya saran merek apa skincare yang bisa memutihkan pan-tat??"Dengan polosnya Oci bertanya.Idris menutup mulutnya agar tidak tertawa,tapi Soraya sudah terlepas kontrol.Ia tertawa ngakak sambil memegang perut nya.
"Udah...udah..."Idris berusaha menghentikan tawa Soraya meskipun dirinya sendiri bersikeras untuk menahan tawanya.
"Kamu...kamu.. ada-ada deh..kok bisa sih cewek kamu tahu kalau...kalau...itu kamu hitam hahahahahaha???"tanya Soraya disela tawanya.Oci tersipu malu...
"Idih malu... jangan-jangan..."
Oci menutupi wajahnya,ia malu ditegur seperti itu oleh Soraya.
"Aduh...kalah saing kamu Idris"goda Soraya menepuk bahu Idris.
"Kalau kamu mau ayok"balas Idris tidak mau kalah.
"Kok aku??"
"Ya terus mau Ama siapa?"
"Ih..."Soraya berdecih seraya berbalik pergi.
"Ya udah ya Ci..aku pergi dulu..kamu nggak usah sedih.Wanita di dunia ini banyak, nggak cuma dia.Hilang satu tumbuh seribu...ok!!"
"Makasih ya Ris..."
Idris Mengangkat jarinya berbentuk bulat 👌👌
*
Soraya berlari cepat karena di belakangnya Idris mengejar.Ia masuk ke dalam kelas dengan nafas ngos-ngosan,tapi mendadak tubuhnya terpacak tak bergerak.Ia melihat Fitri duduk di kursi nya.
"Kena kau"Idris memeluknya dari belakang.
"Ciyeeeeeeee"Semua teman-teman sekelasnya bersorak menggoda.Idris hanya tersenyum,tapi Soraya diam tak bergeming.
"Kamu ngapain disini ??"
Fitri tersenyum simpul,ia duduk dengan pongah.Kakinya menyilang dan tangannya terlipat.
"Aku sekarang sekolah disini"jawab nya angkuh.
"Kok bisa??"
"Ya bisa dong...apa sih yang nggak bisa kita lakukan kalau kita punya uang"
"Siapa dia?"tanya Idris yang masih belum memahami apa yang dipikirkan oleh Soraya.Fitri bangkit,ia mendekati Idris.
"Saya Fitri...kita pernah ketemu saat acara ulang tahun mu.Saya adalah sepupu Soraya"Fitri memperkenalkan diri disertai senyuman menggoda.
"Ohya???aku lupa... maaf...karena malam itu aku hanya melihat Aya' seorang"
Soraya melirik disertai senyuman, wajahnya merona merah.
"Uhuy..."Poppy bersorak yang langsung disambut tepuk tangan oleh teman-temannya.Fitri tidak suka itu, wajahnya terlihat mengeras.
"Mulai sekarang,sultan harus terbiasa.Jika di kelas ini akan ada kecantikan yang akan menandingi sepupuku"
"Ohya ???siapakah itu"Poppy berseru lagi.
"Kayaknya aku harus pasang kaca pembesar deh"Sambung nya lagi.Semua teman-temannya tertawa lepas.
"Diam kau gajah duduk!!!"hardik Fitri lantang.
"Hey...jaga mulutmu Fitri...dia manusia,jangan sesekali kamu samakan dia dengan binatang"tandas Soraya tidak kalah tegas.
"Oh jadi kalian berkomplot mengintimidasi ku??"
"Sudah sudah sudah... sebentar lagi Bu guru datang,cepat duduk di bangku masing-masing "Idris menyela perang mulut itu.
Fitri mendengus,ia kembali duduk di bangku Soraya.
"Eh bangun...itu kursiku"hardik Soraya.
"Kalau aku mau duduk disini,kamu mau apa?"Fitri membantah tanpa takut.
"Nggak tahu malu banget nih orang "Poppy turut bersuara dengan sinis.
"Sudah sayang..kamu duduk disini aja"Idris menarik Soraya ke pangkuan nya.
"HUUUUUUUUU"Poppy seperti pemandu sorak yang memancing teman-temannya untuk turut bersorak ria.
Fitri mendengus marah,ia sangat tidak suka melihat kedekatan Idris dan Soraya.
Beruntung Bu guru datang,Soraya gegas bangun dari pangkuan Idris lalu duduk di kursi kosong tepat di belakang Poppy.
Fitri tersenyum sinis,ia merasa menang dengan kedatangan sang guru.
Disaat Bu guru sudah memulai pelajaran dengan menulis materi di papan tulis.Idris menarik kursi dan mejanya ke sisi samping Soraya hingga mereka duduk berdekatan.
Teman-temannya yang mengetahui itu diberi kode agar diam dan jangan berisik oleh Idris.Soraya hanya senyam-senyum sendiri dengan tingkah polah si Idris.