Blue Eyes

Blue Eyes
LUNA PUNYA RENCANA 51



"Sayang...Aku kok kurang suka sama cara memandang perawat itu sama kamu"Idris mengungkapkan perasaan saat Ia akan pulang dan di antar oleh Soraya ke teras depan.


Soraya hanya tersenyum menanggapi nya.


"Kok kamu malah senyam-senyum,Atau jangan-jangan kamu suka ya sama dia?"Idris mulai posesif.


"Apa-an sih?"Soraya mengelak tuduhan Idris.


"Setahu aku ya sayang, seorang gadis akan suka jika diajak nikah sama orang yang dicintainya.Tapi kamu malah menolak mentah-mentah,jujur aku kecewa sayang"


"Ohhh jadi ceritanya nih,kamu nuduh aku suka sama orang lain.Mangkanya aku nolak permintaan kamu untuk nikah?gitu"Soraya melipat tangannya di dada, dihatinya ada rasa Gedeg juga karena diduga macem-macem.


"Yaaaaa... nggak nuduh sih sayang,cuma kan giman gitu??"


"CK..udah sana pulang.. Lama-lama aku ilfil sama kamu"Soraya berbalik masuk ke dalam.


"Sayang... jangan..."


BRAK!!


Suara bantingan pintu menghentikan Idris melanjutkan kalimatnya.


"ISSSYYY"Idris menggaruk kepalanya yang tidak gatal"Cewek ya emang susah sekali ditebak "


Dengan dongkolnya,Idris masuk ke dalam mobil yang siap mengantarnya pulang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi harinya, seperti biasa Idris akan sarapan bersama sang Ibu sebelum berangkat ke sekolah.


Tapi saat ia tiba di meja makan, rupanya Papanya juga ada disana.


"Papa???kapan datang ??"sapa Idris seraya mendudukkan dirinya di kursi makan.Ilyas tersenyum tipis,ia melipat koran yang tengah disimaknya.


"Kau terlalu sibuk melamun di balkon sampai tidak menyadari jika Papa datang ke kamar mu"


"Ohya??? masak sih ??"Idris merasa kurang yakin.


"Tanya saja Mamamu"


Idris beralih menatap sang Ibu yang senyam-senyum sedari tadi.


"Apa yang kamu pikirkan Ris?? Sampai tidak sadar jika Papa dan Mama masuk ke kamar mu?"Nicta lebih dulu melemparkan pertanyaan.


Rasanya tidak ada alasan bagi Idris untuk berbohong.Sekalian dia ingin meminta arahan kepada kedua orangtuanya.


"Aya'..Ma...dia ... nggak mau diajak nikah"dengan ragu-ragu Idris meluahkan isi hatinya.


"Hah???Hahahahahahaha"Ilyas tertawa lepas mendengar penuturan anaknya.


"Kamu apa-apaan sih Ris??masih kecil udah mau nikah?"tegur Nicta.


"Kan Papa sama Mama juga gitu"bantah Idris.


"Iya beda zaman lah sayang...jangan gitu ah,nanti Soraya ilfil sama kamu terus ninggalin kamu gimana?"


Idris terdiam, wajahnya muram.


"Hahahahahaha"Ilyas justru semakin merasa digelitik saat melihat wajah anaknya merengut.


"Kamu memang anak Papa Ris..."


"Apa-an sih Mas???Ini udah bukan jamannya loh nikah muda"tegur Nicta.


"Ya nggak apa-apa, kalau anaknya udah pengen kawin.Halalin aja...siapa sih yang berani menolak lamaran seorang sultan?"


Nicta berdecih dengan penuturan suaminya.


"Kalau memang Aya' menolak,Papa akan mendatangi Ayahnya "


"Mas..."pekik Nicta.


"Serius Pa?"Idris justru bersemangat.Ilyas mengangguk yakin,kini wajah putranya berubah seri.Ia tersenyum senang mendengar usulan sang Ayah.


"RIS..tolong pikirkan baik-baik,Soraya bisa membenci mu jika kamu lakukan itu "Nicta memperingatkan putranya.


"Ma...RIS takut nanti malah jatuh dalam perzinahan "


"Betul!!"Tanggap Yas cepat.


"CK...Mas..kamu dengar sendiri tadi kan..Aya' nggak mau,kalau kalian memaksakan kehendak.Takut nanti Aya'nekat,dan kita tidak tahu apa yang akan dia lakukan saat dia nekat.Tolonglah...jangan mentang-mentang kita keluarga terpandang, sampai tidak perduli dengan perasaan orang lain "Nicta sangat menolak keras.


"Sayang....Bukankah Soraya mencintai anak kita??jadi ini bukan pemaksaan namanya "Ilyas tetap kekeuh dengan keinginannya.


"Aku tahu Mas,,,tapi menikah tidak cukup dengan cinta.Apalagi seorang gadis,dia butuh mental yang kuat... dengarkan baik-baik RIS, kalau kamu memang mencintai Aya'?jangan paksakan keinginan mu sendiri "Nicta mengecam anaknya,ia bangkit dan meninggalkan meja makan.


Idris menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.Ia kecewa karena sang Ibu tidak merestui keinginan nya.


"Yah...mau gimana lagi??Bu presiden tidak menyetujui"Ilyas bangkit,ia menepuk pundak anaknya lalu pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kamu masih ingat sama Ali?"Iko bertanya.


"Ali???Ali si bencong itu"Terka Monica.


"Iya... Kemarin aku ketemu dia, sumpah dia sama bule.Katanya lagi cek kandungan,gila nggak tuh"


"Serius ???"Luna merasa kurang percaya.


"Serius.."Wajah Iko sangat meyakinkan sekali.


"Kok bisa?? emang dia operasi kelamin ??"Luna jadi ingin tahu.


"Nggak sama sekali,dia tetap dengan bentukan dia kayak dulu.Dan yang paling aneh juga cukup menarik.Dia muntah-muntah boo'..kayak orang lagi hamil,terus pakek ngidam lagi.Katanya pengen inilah itulah,drama banget tahu nggak "


"Terus-terus??"Monica semakin tertarik dengan cerita Iko(,disini Iko adalah anak dari seorang Dokter kandungan ternama)


"Aku ikutin tuh,terus aku sapa saat dia sendiri an.Cowok bulenya lagi beliin dia sesuatu,eh dia masih ingat sama aku.Aku tanya kok bisa gitu kan??pasti kalian sepemikiran dengan aku kan?"


Luna dan Monica mengangguk hampir bersamaan.


"Dia bilang,dia pakek obat hormon kehamilan.Sehingga dia meskipun seorang cowok,dia bisa ngerasain gimana jadi perempuan hamil.Meskipun sebenarnya dia nggak hamil,dan cowoknya itu juga tahu kalau Ali nggak hamil.Mereka cuma pengen ngerasain momen itu aja"


"Hah???gila banget "Komentar Monica.


"Sama...aku juga bilang itu sama Ali,dia gila"


Luna terdiam, otaknya seperti memikirkan sesuatu.


"Emmm kamu tahu obat nya nggak ??"timpal Luna.


"Tahu,Mama aku juga punya kayaknya pil kayak gitu "


"Boleh bawakan buat aku ?"


Iko mengerutkan keningnya.


"Buat Apa?"


Luna membisikan sesuatu, membuat Monica jadi penasaran.


"Apa-an??"Tanyanya,Iko pun membisikan apa yang dikatakan oleh Luna kepadanya.


Monica tersenyum sumringah.


"Aku setuju"


Luna Mengangkat tangannya,dan kedua sahabatnya langsung menyambut dengan tos ciri khas mereka bertiga.


"Sekalian tes pack nya,biar semakin meyakinkan"tambah Monica.


"Bener banget"Luna langsung setuju.


"Ihhh jadi nggak sabar"Iko jadi gemes sendiri.


*


*


"Ayaaa'"


Soraya menoleh saat mendengar suara yang sangat dikenalnya.


Poppy berlari menuju ke arah nya,ia langsung memeluk Soraya dengan girangnya.


"Aku kangen kamu Ya'..."


Soraya terpegun,ia merasakan tubuh sahabat nya itu bergetar.


"Poppy ???"


Poppy merenggangkan pelukannya,ia mengusap kedua belah pipinya yang basah.


"Aku kangen kamu Ya'...aku...aku tidak bisa mengatakan apapun sekarang.Tapi yakinlah...ini aku"


Meskipun pipinya sudah dikesat kering,tapi tetap saja basah oleh cucuran air mata.


Soraya menatap diam wajah Poppy dengan begitu mendalam.Ia tak bisa membohongi hatinya, bahwa sosok yang ada didepannya adalah Poppy si gemuk sahabatnya.


"Idris mana?"Poppy celingukan,biasanya Soraya tidak bisa lepas dari pria itu.


"Entah...dia sepertinya absen hari ini"Soraya menjawab dengan nada seperti biasa saja, meskipun hatinya terasa ngilu sekali.


"Tumben ???"