
"Papa ada Ma?"Tanya Idris.
"Ada,di ruang kerjanya"Nicta menoleh memperhatikan Halimah dengan simpati"Pergilah jika ingin bertemu dengan Papamu"Sambung Nicta.
"Baik Ma.."
Idris menuntun Soraya menuju ruang kerja Ilyas.Seperginya mereka,Nicta menghampiri Halimah.Ia tersenyum lembut seraya meraih kedua tangan menantunya itu.
"Tolong maafkan Idris"ucapnya.Halimah tersenyum lembut sekali.Seperti layaknya seorang putri yang ramah serta bijaksana.
"Ibunda tidak perlu khawatir, Halimah paham.Halimah boleh terima dipoligami.Abang Idris sudah bersedia menikah demi rakyat kami, Halimah sudah sangat bersyukur"
"Kau memang lembut dan baik hati,jangan putus asa.Aku yakin Idris pasti bisa menerima kehadiran mu dihati nya"
"Aamiin"
*
Idris mendorong daun pintu, setelah mendapatkan persetujuan Ayahnya untuk masuk.Ia dan Soraya masuk ke dalam.
Ilyas berdiri membelakangi pintu.Ia menatap keluar jendela.Setelah beberapa sekian menit Idris dan Soraya menunggu, akhirnya Ilyas membalikkan badannya.
Ia menarik nafas berat lalu menghembuskannya perlahan.
"Duduklah"Ilyas mendudukkan dirinya terlebih dahulu, Disusul oleh Soraya yang dibantu oleh suaminya menarik kursi.
"Kau hamil??"Ilyas langsung menerka keadaan Soraya,kedua pasangan itu saling beradu pandang dengan heran.
"Dari mana Papa Tahu??"Idris bertanya.
"Kujang datang memberi tahu ku,tapi..kau dalam bahaya "
"Itulah alasan Idris datang Kesini Pa..Idris ingin meminta Kecubung agar kembali kepada Idris"
Ilyas menggeleng pelan.
"Itu sudah tidak bisa, begitu lah tata susila dalam dunia gaib.Jika kau sudah melanggar peraturan,maka semua tidak akan kembali.Tapi....aku akan memberikan Kecubung kepada janin dalam rahimmu"Ilyas menatap Soraya dengan mendalam.Gadis itu sedari tadi hanya diam dan menyimak.
"Tapi itu masih janin Pa,,,"bantah Idris,ia takut nanti kekuatan kecubung akan mempengaruhi keadaan calon debay.
Ilyas tersenyum tipis.
"Cucuku bukan janin biasa"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pyta yang bersemayam di dalam tubuh saudarinya,datang kekediaman Ilyas.Ia tahu saat ini Ilyas sedang tidak ada di rumah.
Ia hendak menemui Halimah yang tengah termenung di balkon depan kamar nya.Karena memikirkan Idris yang lebih sering tidur di rumah madunya dengan alasan Soraya tengah hamil.
"Hey!!"Seru Pyta.Halimah tersentap kaget,ia menundukkan pandangannya melihat seorang gadis melambai ke arah nya.
"Siapa kau??"Tanya Halimah karena ia belum pernah melihat wajah gadis tersebut.
"Aku ..aku temanmu, yang diutus Tuhan untuk menemani mu"Pyta mengatas namakan Tuhan,karena melihat penampilan Halimah yang agamis.
"Ohya???"Halimah tidak bisa langsung percaya tentang hal itu.
"Percaya lah,ijinkan aku datang ke kamar mu"
Halimah menatap ke sekeliling.
"Tapi jangan beri tahu siapapun, seperti hati dan perasaan mu.Hanya kita yang tahu,aku akan membantumu menyingkirkan madumu"
"Benarkah ??"Wajah Halimah langsung berubah.Pyta mengangguk yakin.
Gegas Halimah masuk,ia mengijinkan Pyta datang dengan diam-diam.
"Waahhh kamar mu besar ya,dan mewah...tapi sangat dingin.Tidak ada cinta yang ada hanya kesepian"Gumam Pyta mengagumi kamar seorang putri Sultan.
Halimah menghela nafas berat,dadanya sesak bila mengingat Suaminya tidak pernah bermalam di kamarnya.Namun justru lebih sering Idris menginap di rumah Soraya.
"Ini sangat tidak adil bukan ??kau istri pertama, justru kau yang lebih berhak dari wanita sundel itu "Pyta semakin membakar api cemburu dihati Halimah.Keduanya duduk bersisian di bibir kasur.
"Mau gimana lagi?dia menikahi ku bukan karena cinta"
"Tapi kau berhak atas cinta dari Suami mu...begini saja.Bagaimana kalau kamu mengusulkan agar Soraya tinggal disini.Agar kamu bisa lebih mudah melenyapkan nya.Bukankah itu yang kamu inginkan ??"
Dua pupil mata Halimah berbinar.
"Yah kamu benar...bukankah musuh yang paling mudah membunuh kita adalah musuh dalam selimut "
"Tepat sekali...."
"Makasih ya..."Halimah membungkus kedua tangan Pyta dalam satu genggaman."Akhirnya aku punya teman yang bisa sependapat dengan hati ku"
"Aku kan sudah bilang,aku adalah teman yang dikirim Tuhan untuk membantu mu"
Halimah percaya dengan bodohnya.
*
*
"Ibunda...emmm boleh kah Halimah bertanya ?"Halimah membuka percakapan saat ia dan Nicta berada di meja makan.Hanya mereka berdua saja.Ilyas tengah pergi keluar negeri.
"Iya sayang.. boleh "
"Kapan Abang Idris pulang Ibunda ??Sudah beberapa hari ini dia tidak pulang "
Nicta terdiam,ia bisa merasakan bagaimana perasaan putri Halimah.Rasanya dadanya sakit sekali.
"Nanti Ibunda akan telfon dia"
Halimah tersenyum tipis.
"Terimakasih Ibunda"
Dengan hati-hati Nicta mencoba menghubungi Idris saat ia sudah selesai sarapan.Dua kali dia mencoba menghubungi anaknya itu,dua kali panggilan nya terabaikan.
Namun selang satu jam,Idris menghubungi kembali.
"Assalamualaikum Ma.."
"Kamu dimana Nak??kenapa tadi nggak angkat telpon ??"
"Di rumah sakit Ma,Soraya pingsan..."
"Apa??Mama sekarang kesana ya?"
"Nggak usah Ma, Sekarang kami sudah pulang"
"Ya udah Mama ke tempat mu sekarang "Nicta memaksa karena khawatir dengan Soraya.
"Baiklah Ma..."
Halimah meremas bajunya ,ia geram karena Nicta sangat perhatian dengan Soraya.
Saat Nicta membalikkan badannya,ia kaget melihat Halimah sudah berada di belakangnya.
Refleks raut wajah Halimah langsung berubah ramah.
"Mau kemana Bun???"
"Ohhh ini emmm Katanya Soraya pingsan,jadi Ibunda mau ke rumah Idris"Nicta merasa kurang enak hati.
"Boleh Halimah ikut Ibunda??"Tutur kata Halimah begitu lembut dan santun.Bagaikan menginjak semut tak mati.
"Hah???ma-mau ikut??emmm baiklah..ayo!!"Sebenarnya Nicta tak nyaman,tapi lebih tak nyaman lagi jika ia menolak.Apalagi, secara mata terlihat Halimah sangat tulus.
*
Halimah semakin sakit hati melihat bagaimana Idris begitu perhatian kepada Soraya.Ia sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya dan selalu duduk disisi pelakor itu.
"Emm Abang... kalau diijinkan,biarlah kita tinggal sebumbung.Agar Soraya ada yang jaga,ada saya,ada Ibunda"Ucap Halimah.Idris mengalihkan perhatiannya kepada Soraya,nampak Soraya menggeleng pelan.
"Terimakasih Halimah atas niat baikmu.Tapi rasanya,Soraya lebih nyaman di rumah nya sendiri"Idris menolak dengan lembut.
"Mama setuju dengan ide Halimah,karena Mama juga ingin merawat menantu Mama"Timpal Nicta.
Idris menatap lagi istrinya,Soraya tetap menolak.
"Abang... Halimah sudah tidak bisa hamil,apakah merasakan jadi seorang ibu pun Halimah tidak boleh"
Idris memohon dari hati ke hati melalui tatapan mata dengan Soraya.
Ditambah lagi Kartika meremas tangan Soraya sebagai kode.Akhirnya Soraya mengiyakan.
Halimah tersenyum mistis melihat gerakan kepala Soraya.
"Baiklah Halimah,kita akan tinggal disana.Tapi kalau Soraya tidak nyaman?maka jangan memohon lagi"Ucap Idris memberikan keputusan.
"Iya Abang.. terimakasih..."Jawab Halimah girang.. Akhirnya..ia memiliki kesempatan untuk dekat dengan Soraya dan Idris.