Blue Eyes

Blue Eyes
SORAYA PERGI 84



Luna tengah memberikan makan kucing-kucing peliharaan nya saat Soraya datang.Ia tersenyum melihat wanita yang telah merebut cinta pertamanya itu menghampiri.


"Kau datang sendiri ?"Luna tidak melihat ada Idris di belakang wanita itu.


"Iya...aku datang sendiri"jawab Soraya.


"Ok! duduk lah disana,aku akan cuci tangan dulu"Luna menyudahi kegiatannya,ia keluar dari kandang kucing yang mirip dengan kamar hello Kitty.Lalu keluar menuju taman.


"Ada apa ??"Luna menghempaskan tubuhnya di atas kursi yang bersisian dengan Soraya.Hanya tersekat sebuah meja kecil diantara mereka.


"Apakah Fajar sering datang kesini ??"


"Yah..dia selalu menemani ku"


Soraya menatap tajam


"Apa tujuan mu??"ucapnya.


"Hah???"Luna membalas tatapan itu, ia tersenyum dan kemudian senyuman itu berubah menjadi tawa.


"Kau lucu...Fajar dekat dengan ku??dan kau bertanya apa tujuan ku??salah aku menyayangi Fajar??"


"Tidak usah munafik Lun,aku tahu kau tetap tidak berubah "


Senyuman Luna hilang, wajahnya berubah datar dan jauh lebih serius.


"Aku memang tidak berubah,cintaku kekal untuk Idris.Dan kau...bagiku hanya batu kerikil yang perlu ku singkirkan.Dari Idris dan Fajar...aku ingin kau merasakan kehilangan orang yang kamu sayang "


"Apakah hilang nya Nur ada campur tangan mu??"


Luna menarik sebelah bibirnya, ia membuang pandangannya ke sekitar.


"Tidak"jawab nya singkat.


Soraya menghela nafas berat.Ia pun menatap ke sekitar.Taman buatan itu begitu indah dan asri.


"Hey.. Aya'..."


Dua wanita itu langsung menoleh ke arah suara.


"Lana...kau tidak ke rumah sakit ??"balas Soraya.


"Sekarang hari Minggu,jadi waktunya untuk santai"jawab Lana ramah.


"Ohh ...mau kemana ??kau terlihat ganteng sekali "


"UPS!!hahahahaha sejak kita kenal,baru sekarang kau bilang aku ganteng..Baru nyadar ??"Celutuk Lana.Soraya tersenyum tipis.


"Aku mau ke Bandara,cewekku baru pulang dari Bali"


"Ella???"Timpal Luna,Lana membenarkan.


"Kenapa masih pacaran sih??umur udah kepala tiga ,apa nggak mau nikah??"tegur Soraya.


"Nikah???aku lagi nyari cewek kayak kamu tapi nggak ada "Celutuk Lana yang berhasil membuat Soraya mengulas senyum.


"Kalau mau menikah dengan Ella aku kurang setuju "Tandas Luna.


"Kenapa?"Soraya bertanya.


"Dia cewek nggak bener,model...dan terlalu bebas"


"Dari pada nggak ada pasangan,kayak kamu"Tukas Lana.


"Ihh apa-an sih"Luna memukul Kakaknya, Lana tertawa lepas yang ia bawa pergi.Soraya tersenyum simpul melihat keharmonisan dua Kakak beradik itu.


"Lun.."


Luna mengalihkan pandangannya menatap lawan bicaranya.


"Bisakah kita menjadi sebuah keluarga ??"Tanya Soraya.


Luna tersenyum sinis.


"Keluarga ??Kamu berharap kita bisa berhubungan baik??"


"Tidak bisakah kau menerima takdir yang telah ditulis oleh langit??"


Luna mendengus, hatinya tetap terasa sakit.Tidak mudah baginya menerima kenyataan tentang cinta nya kepada Idris.


"Jika Idris menikah dengan wanita lain, mungkin aku tidak akan sesakit ini"gumam Luna.


"Kau bisa menerima Fajar,tapi kenapa kamu tidak bisa menerima aku??"


"Karena kau terlalu tamak,Lana suka sama kamu, Idris pun sama.Dua orang yang aku sayangi semua jatuh hati padamu.Andai saja kau bersama Lana,aku bisa bersama Idris.Itu sangat adil menurutku.Tapi kau memilih Idris,sedangkan Lana.Tetap mencintaimu sampai detik ini "


"Aku mencintai Idris Lun,dan perasaan ini tidak bisa ku ubah kepada siapapun.Tolonglah...tolonglah buang sikap egois mu.Aku ingin kita benar-benar menjadi satu keluarga besar yang utuh "Pinta Soraya dengan penuh harap.


Soraya terdiam,ia kecewa dengan sikap Luna yang keras kepala.


Karena Soraya tak bergeming,Luna memilih bangkit dan masuk.Ia meninggalkan Soraya begitu saja.


Anak mata Soraya mengikuti langkah kaki sang tuan rumah.Ia tidak punya pilihan lain kecuali pulang.


Luna memperhatikan Soraya yang masuk ke dalam mobil dari balik jendela.Sebenarnya..jauh di lubuk hati nya Luna merasa capek.Ia tidak tenang dengan perasaan benci nya itu.


*


*


Nicta bingung,ini adalah hari Minggu.Kenapa tak ada yang datang ke ruang makan untuk sarapan?Tak berapa lama Idris muncul,wajah Nicta yang masam berubah ceria.


"Ma..Mama lihat Aya'??"


"Aya'??tidak Mama tidak lihat..Apa di kamarnya tidak ada?"Nicta jadi bingung sendiri.


"Nggak ada Ma.."


"Udah coba kamu telfon ??"


"Hpnya nggak dibawa "


"Loh..kok gitu"


"Entahlah..."Idris takut Soraya tersinggung dengan ucapan Fajar hingga ia memutuskan untuk pergi.


"Fajar kemana?"


Idris menjawab dengan gelengan kepala.


"Idris cari Aya'dulu Ma.."Idris pamit, setelah Ibunya mengiyakan.Idris pun pergi..


"Apa karena masalah semalam?Soraya pergi tanpa pamit??"Nicta bermonolog sendiri,ia mendengar ribut-ribut antara mereka.Tapi ia tidak berani menegur.Biarlah menjadi urusan diantara mereka saja.


Tapi kalau sudah membuat Soraya pergi,Nicta merasa harus turun tangan.Ia pun beranjak pergi ke kamar cucunya.


Setelah mengetuk pintu beberapa kali,Fajar baru membuka pintu kamar nya.


"Nenek..."


"Boleh Nenek masuk??"


Fajar mengangguk,ia melebarkan daun pintu.


"Kenapa kamu tidak turun untuk makan?"Tanya Nicta saat ia dan Fajar duduk bersisian dibibir tilam.


"Fajar belum lapar Nek??"


"Kau tahu Ibumu pergi"


"Pergi??"Dua bola mata Fajar melebar.Nicta mengiyakan"Pergi kemana Nek?"


"Nenek tidak tahu,Papamu masih mencari nya"


Fajar mulai rungsing,ia takut Ibunya pergi karena ucapan kasar nya semalam.


"Fajar..Nenek tahu,Ibumu salah karena terlalu tenggelam ke dalam kesedihan.Tapi coba Fajar pikir,Ibu mana yang sanggup melihat anaknya dibawa pergi di depan matanya.Jika itupun Fajar yang diculik,Ibumu pasti juga akan merasakan yang sama.Kamu dan Nur adalah buah hatinya"


Fajar tertunduk..


"Sekarang,sudah ada tanda-tanda Kakakmu kembali.. berarti Ibumu tidak akan sedih lagi.Dan kamu akan melihat sebuah kebahagiaan yang tidak pernah kau lihat dari mata Ibumu.Dia pasti akan berubah..."


"Lalu..Apa Fajar akan diabaikan Nek?"Fajar Mengangkat wajahnya, pipinya sudah basah oleh air mata.


Dengan lembut Nicta mengusap pipi Fajar.Ia juga memangku wajah cucunya dengan kedua tangannya.


"Nenek yakin dia akan lebih memarahi mu"


Fajar tersenyum getir..Nicta mendekap kepala Fajar,ia mengusap punggung Fajar lembut.


"Orang tua akan menegur anaknya jika anaknya melakukan kesalahan.Itu adalah wujud kasih sayang mereka, kepedulian mereka.Tapi jika orang tua sudah tidak mau tahu tentang anaknya,itu barulah orang tua yang tidak perduli.Suatu hari nanti jika para orang tua sudah tiada, Yang akan paling dirindukan oleh anak-anak adalah bagaimana orang tua itu memarahi kita.Karena Disanalah sebuah perhatian tercipta "


Fajar mengangguk dalam pelukan Nicta.


"Nanti minta maaf lah pada Ibumu.. katakan padanya bahwa kau mencintai nya"


"Apakah Ibu benar-benar pergi Nek??"Punggung Fajar terguncang.


"Kita tunggu kabar dari Ayahmu..Ok??"


Fajar mengangguk disela tangisannya.