
Dominic melajukan taxi milik si Kanibal secara perlahan.Dikarenakan akses jalan yang sempit.
"Rupanya mereka tinggal di tepian hutan yang jauh dari pemukiman penduduk.Pantas saja tindakan mereka tidak ada yang tahu"Dominic bergumam sendiri, ia mengalihkan pandangannya kepada Cahaya yang sejak keluar dari hutan larangan menjadi lebih banyak diam.
"Kau masih sedih dengan anjing itu ??"sambung nya.Cahaya menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"Kenapa Ibu menyuruh ku pergi ??aku lebih suka di hutan daripada berbaur dengan manusia-manusia yang tidak berperikemanusiaan.Mereka sangat kejam!"
Dominic terdiam,ia tidak bisa mengatakan apapun.
"Apa aku harus kembali ??"Cahaya mengharapkan Dominic bisa membantu nya untuk menjawab.
"Emmm semua terserah padamu,cuma...apa ibumu mengatakan sesuatu sebagai alasan kenapa kamu harus pergi?"
"Katanya,Ibuku sudah lama menunggu ku...jadi Ibu yang selama ini tinggal bersama ku di hutan itu bukan ibuku "
"Oh jadi maksud nya kamu diculik ??"
"Diculik ??"Cahaya merasa kata itu asing baginya.
"Iya...kamu diambil sama Ibu kamu yang di hutan dari Ibu kamu yang di kota"Dominic menjelaskan.
Cahaya terdiam, ia berusaha menelaah penjelasan Dominic .
"Aku rasa ada sesuatu yang lain yang tidak aku ketahui"
*
Saat Soraya tengah memangkas bonsai di balkon rumahnya, tiba-tiba terdengar bisikan yang menghentikan pergerakan tangannya.
Gunting yang digenggam jatuh tanpa disadari.
"Anakmu sudah kembali "
Tarikan nafas Soraya melaju cepat.Ia mematung tak dapat bergerak.
"Sayang..."Idris heran melihat istrinya yang diam bagai patung.Karena tak ada tanggapan,Idris jadi cemas.Ia gegas mendekati sang istri.
"Sayang...kamu kenapa ??"
Bola mata Soraya berputar,di pelupuk sudah bertakung genangan air.Idris menarik istrinya ke dalam pelukannya.
"Tenang sayang tenang ya...tenangkan dirimu,tarik nafas pelan-pelan lalu hembuskan perlahan "
Soraya mengikuti instruksi dari suaminya,air matanya mengalir pelan, tubuhnya bergetar.Tangisannya sudah tak dapat tertahankan.
Ia meraung-raung dalam pelukan suaminya.Nicta yang sudah berubah menjadi wanita paruh baya mendekati mereka.Melihat situasi nya,ia garcep mengambil kan air putih yang tersedia di atas meja.
"Minumlah dulu"Ujarnya lembut.Idris merenggangkan pelukannya, ia mengambil alih gelas yang disodorkan sang ibu.Soraya menenggak air itu beberapa tegukan.Perlahan perasaannya pun mulai tenang.
Soraya menggeleng menolak ajakan suaminya.Ia mencengkram kuat tangan Idris.
"Anak kita Mas..anak kita.."
"Fajar???"Yang Idris ingat hanya putra mereka, Fajar.
"Bukan"Soraya menggeleng cepat,barulah Idris menyadari siapa yang dimaksud istri nya.
"Sayang...Anak kita Nur Awalliya memang masih hidup,kamu berdoa saja yah.Agar kita bisa bertemu dengan nya suatu hari nanti"
Sekali lagi Soraya menggelengkan kepalanya.
"Dia...Dia sudah datang sayang"Bergetar suara Soraya mengatakan hal tersebut."Dia sudah datang,dia akan segera kembali sayang.."
Idris terpegun, jantungnya terasa berdegup kencang.Putri yang selama ini telah hilang akan kembali ?? Bagaimana caranya ??siapa yang akan mengantarkan anak itu,ah tidak..ini sudah tujuh belas tahun.Pasti dia sudah menjadi seorang gadis belia.
"Idris..."suara Nicta menyadarkan lamunan putranya.
"I-i-iya Ma.."
"Cepat tanya Papa mu,pasti dia juga akan mendapatkan wangsit yang sama jika benar Nur akan datang.
"I-iya Ma.."Idris gugup sekali, membayangkan saja sudah membuat perasaan nya campur aduk.
Fajar yang baru saja pulang sekolah dan hendak menyapa Ibunya, terhenti saat mendengar percakapan kedua orang tuanya.Hati Fajar sakit,karena sejak ia tahu mengenai Kakaknya yang selalu mengundang kesedihan di hati Ayah dan Ibunya.Membuat Fajar benci terhadap sosok yang belum pernah ia temui.Apalagi di tambah dari kisah yang Luna ceritakan.Bertambah bencilah si Fajar.
Diam-diam dia selalu berdoa agar Kakaknya itu tidak pernah muncul di hadapannya lagi.Tapi hari ini,ia sangat kesal.Fajar berlari keluar, menaiki motornya menuju ke rumah Nenek Luna.
*
Luna yang memilih untuk tidak menikah diusia nya yang sudah berkepala tiga itu,tengah sibuk dengan pekerjaannya.
Sejak kedua orang tuanya wafat,Luna yang mengurus perusahaan dan Lana yang mengurus Rumah sakit.
Kedua kakak beradik itu sama-sama belum menikah,bedanya Lana sudah memiliki kekasih.Tapi Luna??cintanya kekal untuk Idris seorang.
Entah kenapa hatinya masih mengharapkan keponakannya itu?
Saat melihat Fajar datang,ia seperti melihat sosok Idris di dalam diri anak itu.Fajar berlari dan memeluk Luna sambil menangis.
"Eh kenapa datang-datang langsung menangis ??hemm??"Luna bersikap lembut terhadap Fajar.
"Nenek..hiks hiks ..Kakak...Kakak mau datang"
"Kakak??Kakak siapa yang mau datang ?"
"Kakak Fajar,Nur..."