
"Itu mereka sudah datang"Seru Soraya saat melihat kedatangan kedua putra putrinya.Idris tersenyum,tapi tidak dengan Luna.Ia tetap dengan Tatapan sinisnya kepada Cahaya .
"Nenek .."Fajar sedikit mempercepat langkahnya,ia mencium tangan dan kedua pipi Luna.Saat itulah Luna menyunggingkan senyumnya.
"Darimana ? duduk lah"Luna meminta Agar Fajar duduk di sampingnya.Fajar patuh!Cahaya hanya diam mematung,ia tidak bisa untuk mesrah seperti Fajar.Kepada kedua orang tuanya saja,Cahaya masih kaku.Dia hanya bisa melakukan hal itu kepada Lucy.
"Nenek tahu nggak ?? kalau sekarang aku sudah bisa melihat makhluk tak kasat mata seperti keluarga besar kita semua"Fajar sangat bersemangat menceritakan hal itu.
"Ohya??kok bisa??"
"Kakak yang melakukan nya"
Luna melirik gadis yang berdiri itu dengan ekor matanya.
"Fajar juga baru saja menyelesaikan kasus pertama Fajar"
"Kasus??"
Fajar mengangguk cepat.
"Nenek udah ketemu sama Bayu dan GINA belum ??Dia anaknya Kuntilanak yang meminta bantuan pada kami"
Luna menggeleng karena memang ia belum melihat dua anak yang dimaksud.
"Mereka sudah tidur"Idris menjawab.
"Ohh mereka sudah tidur rupanya, sayang sekali"Gumam Fajar"Ohya ...Nenek tumben datang kesini ?ada apa ??"
"Aku mau pamit sama kalian "
"Pamit ???"Fajar mengulang kalimat.
"Memang nya kamu mau kemana ?"Soraya bertanya.
"Aku diminta untuk ke Jepang,Paman Reyhan sudah meninggal.Jadi aku akan menemani Kujang disana"
"Kau serius ??"Idris seperti tak percaya.Luna mengiyakan dengan yakin.
"Apa keturunan Kakek yang ada disana tidak ada satupun yang bisa melanjutkan tugas itu?"Sambung Idris.
"Mungkin itu sebuah kutukan, Anak-anak Putri tidak ada satupun yang mewarisi bakat Paman.Kamu kan tahu sendiri kalau Bibi Uzma sikapnya agak lain sama Papa kamu dan Kamu"
Idris membenarkan.
"Jadi Nenek akan ninggalin aku?"Celutuk Fajar.
"Bukankah kamu sudah tidak seperti dulu lagi,kau sudah tidak pernah datang mengunjungi ku"
"Jangan bicara seperti itu dong Nek, fajar kan sibuk kuliah"Fajar merasa serba salah.Luna tersenyum tipis,ia membelai rambut cucu kesayangannya itu.
"Nenek kesepian,jadi biarlah Nenek menyibukkan diri dengan hal lain...dan Ini...Aku ingin menyerahkan ini kepada Kakak mu"Luna menyodorkan sesuatu yang ia ambil dari dalam tasnya.
"Apa ini?"Fajar membuka map bersampul biru.
"Seluruh aset kekayaan Maulana ,ia wariskan kepada Kakak mu"
Fajar terkejut bukan main,
"Aset kekayaan Kakek ??"
Idris mengambil alih map biru tersebut dan membacanya.
"Kau serius Lun??"Idris masih tidak percaya.
"Iya...dia mendatangi ku dan mengatakan hal itu.Dia belum sempat menulis surat wasiat, karena tidak menyangka jika umurnya tidak lah panjang"
"Dan semua aset milik ku, termasuk perusahaan aku pasrahkan kepada mu Idris.Aku tahu kamu bisa menjalankan perusahaan lebih baik dari aku, buktinya Brunei Airline semakin maju berada di bawah kepemimpinan mu"
"Tapi Lun..."
"Tolong lah"Luna memotong ucapan Idris sebelum pria itu mengemukakan penolakan.Idris diam, ia berpikir sejenak untuk menerima mandat dari adik Ayahnya itu.
Fajar menyerahkan map biru dari tangan sang Ayah kepada Cahaya .Gadis yang sejak tadi diam saja dan tidak mengerti apa maksud dari topik pembicaraan orang-orang disekitarnya.
"Apa ini?"Cahaya memegang tanpa ada minat untuk membuka.
"Untuk apa?"
"Untuk Kakak kelola"
Cahaya menggeleng pelan lalu menyerahkan kembali map tersebut ke tangan sang adik.
"Aku tidak mengerti,dan aku tidak perduli "
Jawaban Cahaya membuat semuanya saling beradu pandang.
"Kak...ini sebuah rejeki untuk Kakak, karena kekayaan Kakek sangat banyak "
"Sebanyak apa??"
Fajar tercekat dengan pertanyaan Kakaknya.
"Apa itu sebuah pertanyaan tentang kesombongan mu?"timpal Luna.
"Nek... jangan tersinggung dulu, seingat ku..Kakak nggak pernah megang uang dan rasanya nggak tahu tentang uang.Jadi..kalau kita ngasih warisan ini kepada Kakak,kita kayak ngasih monyet Burger.Sedangkan kita tahu monyet itu makanya pisang atau buah.Iya kan???"
Luna akhirnya mengerti.
"Ya udah kalau gitu biar kamu juga yang mengelolanya RIS"
"Tapi rumah sakit bukan bidangku"jawab Idris.
"Nggak apa-apa,disana ada Dokter Sarah yang bisa dipercaya.Kamu bisa mengandalkan dia"Jawab Luna.. Idris mengangguk mengerti.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Adzan Maghrib berkumandang,Cahaya menutup tirai jendela.Namun saat ia akan mendekati tempat tidur, sebuah kelibat hitam terlihat.Cahaya panik, ia langsung berlari ke luar kamar dan menuruni anak tangga dengan langkah cepat.
Cahaya mengikuti kelibat itu yang menuju ke pintu masuk ruang bawah tanah tempat Ilyas bersemedi.Bayangan itu menembus dinding.Cahaya terus mengejar mendekati pintu itu.
"Nur..."Sebuah panggilan lembut terdengar,Cahaya menoleh.Rupanya sang Ibu sudah berdiri di belakang nya.
"Kau mau kemana Nak??"
Cahaya tak menjawab, ia berpaling memperhatikan dinding batu di belakang punggung nya.
"Kau melihat bayangan itu ?"
Cahaya membenarkan tebakan Soraya.
"Bayangan itu hanya kita yang bisa melihat, karena bayangan itu bukan bayangan biasa.Itu adalah malaikat maut"ujar Soraya menjelaskan.
Cahaya mengernyitkan keningnya, ia masih belum mengetahui tentang perihal ini.
"Jadi... selama ini yang selalu aku lihat dengan energi negatif,itu adalah ????"
"Yah!!"Soraya paham apa yang dimaksud oleh putrinya.
"Kakek mu, sedang berhadapan dengan nya sekarang "sambung Soraya.
"Dia akan mati !"Gumam Cahaya .
"Semua orang akan mati jika sudah berhadapan dengan nya"
"Tapi kenapa ??saat Maulana akan mati,aku tidak melihatnya "
"Mungkin kau terlalu sibuk dengan satu urusan "
Cahaya menundukkan wajahnya, tragedi kematian Maulana kembali menari-nari di pelupuk matanya
Cahaya melangkahkan kakinya untuk pergi.
"Aku akan menunggu kabar selanjutnya dari kamar ku saja"ucapnya seraya berlalu.Soraya mengiyakan,dua matanya terpejam erat.Ia bisa merasakan tarikan nyawa yang dilakukan oleh Malaikat.Sakitnya berhasil menggoncang dada.
Soraya meremas dadanya,ia duduk berjongkok menahan sakit yang luar biasa.Mungkin karena yang akan meninggal adalah bagian dari keluarganya.Ia bisa turut merasakan sakitnya sekaratul maut.Soraya terus bertahan, sakit namun harus ditelannya baik-baik tanpa ada siapapun yang tahu.Ia terus diam, keringat dingin mengucur deras.Sehingga membuat pakaiannya basah oleh keringat.
Soraya menggenggam kuat dahan pohon kecil, anehnya tidak ada satu orang pun yang datang menolongnya.Ia berjuang sendiri dengan sakit yang luar biasa.