
"Musthafa!!!"
Suara Cahaya menghentikan langkah laki-laki itu yang akan masuk ke dalam kamar Pak Adit.
"Aku boleh bertanya sesuatu padamu ??"
Musthafa mengangguk..
"Apa maksud ucapan Irwan tadi??Aku harap kamu tidak menyembunyikan sesuatu dari ku"
Musthofa menundukkan wajahnya begitu mendalam.Jari jemarinya tidak diam menandakan pria tersebut tengah tegang.
"Aku tidak akan berkomentar apapun, karena itu urusan mu dengan Aurel.Tapi aku berhak tahu, untuk menyempurnakan penyamaran ku"bujuk Cahaya .
"Iya Non... sejak Non Aurel memergoki Den Irwan selingkuh dengan Intan.Dia sering curhat dengan saya..Non Aurel berusaha agar Tuan besar tidak tahu,dia ingin menyelesaikan masalah rumah tangganya sendiri.Hal itu terjadi sebelum Non Aurel tahu jika pasangan itu berkomplot untuk merebut harta warisan keluarga ini"
"Saya mencintai non Aurel sejak pertama kali saya melihatnya .Tapi saat itu ,dia sudah bertunangan dengan Den Irwan . Jadi saya hanya bisa mencintainya dalam diam"Musthafa bercerita dengan penuh perasaan.Cahaya manggut-manggut...
"Jadi benar kalian berselingkuh ??"ucap Cahaya . Musthafa mengangguk pelan.
"Tapi kami hanya sebatas berciuman,Itupun dalam keadaan seperti terjebak.Nona Aurel adalah wanita yang punya pendirian teguh.Meskipun dia mengatakan bisa saja dia jatuh cinta pada ku,tapi selama dia tetap menjadi istri Den Irwan.Non Aurel tidak ingin menodai pernikahan mereka"
"Yah aku mengerti,,, hari sudah larut malam.Beristirahatlah!!besok...banyak hal yang harus kita lakukan"ucap Cahaya .
"Baik Non"Musthafa mengangguk sopan.Cahaya berlalu masuk ke dalam kamar nya yang kebetulan bersebelahan dengan kamar sang Ayah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi sekali,Maulana sudah meluncur ke kediaman Aurel.Saat ia baru saja tiba,Cahaya yang berada dalam tubuh Aurel tengah membantu Pak Adit melakukan senam sambil berjemur.
Musthafa senyam-senyum melihat bagaimana tingkah konyol Cahaya yang menggerakkan kedua tangannya seperti seekor burung terbang.
Maulana yang memperhatikan semua itu timbul rasa cemburu.Ia bergegas keluar dari dalam mobil dan menghampiri mereka.
Cahaya baru saja menyadari kedatangan Maulana , refleks ia langsung berlari kepelukan pria itu.
Maulana terpegun, ia tidak mengira respon Cahaya ketika melihat kedatangan nya akan sehangat itu.
"Ca..."panggilan Maulana terdengar lirih.
"Hem??"Cahaya terbenam dalam dada bidang pria itu.
"Kamu ok???"
Cahaya menggerakkan kepalanya dengan posisi masih tenggelam memeluk Maulana .
Pria itu tersenyum tipis, apalagi saat itu Musthofa tengah memperhatikannya.Maulana dengan sengaja membelai lembut rambut Cahaya .
"Non...saya akan bawa Tuan masuk"Musthafa berpamitan,barulah Cahaya melepaskan pelukannya.Ia mengiyakan saja apa yang dikatakan oleh supirnya itu.
Dengan hati kecewa, Musthafa mendorong kursi roda dan membawa Pak Adit masuk ke dalam rumah.
"Kau sudah sarapan ??"tanya Cahaya seraya menggandeng tangan Maulana untuk duduk di tepi taman kecil di rumah itu.
"Sudah...tadi aku makan roti sambil mengemudi"
"Semalam Tante Wewe mu datang mencari mu"
"Mau apa dia??"Cahaya heran mendengar hal itu.
"Mau minta bantuan mu,katanya kekuatannya untuk memperkaya para pengabdi nya dikunci oleh Ibumu.Sepertinya Ibumu murka karena Kutukan yang menimpa dirimu kemarin "
"Hahahahahaha rasakan itu,pasti Kusuma jatuh miskin sekarang "
Maulana membenarkan...
"Dan satu hal lagi,dia juga bilang waktu mu hanya tujuh hari.Jika kamu tidak kembali ke tubuh aslimu,kau akan mati"
Cahaya tersenyum tipis.
"Iya aku tahu...tapi aku juga tidak bisa kembali jika semua belum selesai "
Maulana terhenyak tak percaya.
"Apa maksud mu?? bukankah kamu bisa kembali ke dalam tubuh mu sesuka hati mu"
Cahaya tetap stay tersenyum,ia menggeleng perlahan.
"Ketika ku lepas jiwaku, disana sudah terikat sebuah janji yang ku pinta sendiri.Jika aku tidak mampu menyelesaikan tugas ku,maka aku harus bersiap untuk mati "
Maulana tidak bisa menerima jika itu adalah benar.
"Tidak...itu tidak mungkin.Kenapa kamu bohong padaku hah???"
"Aku tidak bohong... hanya saja aku tidak mengatakan nya padamu "
"Itu sama saja... apa karena itu ??kamu memeluk ku dengan erat ??"
Cahaya tersenyum simpul, pandangannya lurus ke ujung kakinya.
"Kenapa ?? kenapa kamu lakukan itu ??"
"Aku tidak menyesal jika memang aku harus mati ,karena apa yang aku lakukan ini adalah benar"
"Tapi kamu akan meninggalkan aku..tega kamu Ca"Maulana bangkit dari duduknya lalu pergi begitu saja.Cahaya terpana, ia tegak berdiri menatap punggung Maulana yang semakin menjauh.
Namun tiba-tiba langkah kaki Maulana terhenti,ia memutar tubuhnya dan menemukan Cahaya tengah menatapnya.Maulana tergugah ,ia berlari kembali dan mendekap tubuh Cahaya dengan erat .Kedua nya saling tenggelam dalam pikiran masing-masing saat dua tubuh itu menyatu dalam satu pelukan.
"Kau tidak boleh pergi dengan cara seperti ini Ca,kau harus kembali... kalau kamu pergi..akan ku pastikan pintu alam barzah terkunci untuk mu"
Cahaya tersenyum tipis, entah kenapa ia bahagia mendengarnya?
"Emang nya bisa??"
"Bisalah.."jawab Maulana pendek.
"Kau punya kenalan orang dalam ?"Seloroh Cahaya .
"Apa kau baru tau itu?"balas Maulana , keduanya tertawa sambil terus berpelukan erat.