
Entah udah keberapa kalinya Idris menelfon,tapi tetap saja nomor yang dia deal tidak aktif.
Helaan nafas panjang berkali dihembuskan,Idris benar-benar sangat frustasi.
Dia berubah menjadi pendiam dan penyendiri.Poppy tahu jika hal ini bukanlah hal yang baik.Apalagi desas-desus kehamilan Soraya mulai tersebar.Parahnya, gosip tersebut dibumbui oleh hal-hal yang semakin memperburuk nama Soraya.
Tidak sampai disitu,Luna melaporkan hal ini kepada kepala sekolah.Ia mencadangkan agar Soraya di keluarkan dari sekolah.Karena hal ini akan berdampak buruk dengan nama baik sekolah.
Surat somasi pun dikeluarkan oleh pihak sekolah.Berhubung keluarga Soraya tidak ada di rumah.Jadi surat itu hanya tergeletak di atas meja tanpa ada seorang pun yang membacanya.
*
Yas terkejut saat ia menerima telfon dari Zubair bahwa ia baru saja tiba di Bandara Soekarno-Hatta.Dan akan segera On the way menuju kediaman Muhammad Ilyas.
"Kenapa tidak ada konfirmasi terlebih dahulu ?"Tegur Yas.
"Hahahahaha hanya pertemuan keluarga,bukanlah hal yang harus dibesar-besarkan "Sahut Zubair di ujung talian.
"Tapi bagaimana pun seharusnya ada yang menjemput.Apalagi kamu bersama anak istri mu,ini bukan lah hal yang biasa"Yas membantah.
"Tidak mengapa,kau sambut saja kami dengan pelukan di rumah mu,aku juga sangat merindukan Idris "
"Ohhh ya... sekarang dia jadi anak baik-baik di rumah.Sudah tidak pernah lagi menghilang"
"Baguslah...ya sudah, sampai jumpa sebentar lagi"
"Ok..saya tunggu di rumah, Assalamualaikum"
"Wa'alaikum salam"
Sambungan terputus.
Yas gegas pulang dari kantor guna menyambut kedatangan Zubair,tak lupa ia meminta salah satu Bodyguard nya untuk menjemput Idris di sekolah.Karena takutnya Idris akan pulang terlambat.Biasanya kalau hanya diberi tahu melalui telepon,Anak itu justru akan menghindari pertemuan kerajaan seperti ini.
*
"RIS..."Lana mengejar langkah keponakannya yang terlihat tak bersemangat.
"RIS..."Dengan nafas tersengal-sengal akhirnya Lana berhasil menyusul Idris.Wajah Idris kuyu seperti tak pernah cuci muka selama sebulan.
"Kau buruk sekali, apakah hal ini ada hubungannya dengan kehamilan Aya'??"Tanya Lana.
Mata sembab itu terangkat.
"Siapa bilang ??Aya' tidak hamil..itu hanya hasil tes kesuburan"Bantah Idris.
"Huuufff syukurlah kalau itu benar,terus kenapa kau jadi seperti ini ?Kau seperti orang yang tak terurus RIS"
Idris tak menghiraukan teguran Lana,ia melanjutkan langkahnya.
Lana mengikuti, karena ia khawatir dengan keadaan Idris yang seperti orang linglung.
Idris heran melihat dua orang Bodyguard Papanya tengah berdiri tegap disamping Mogenya.
"Ada apa kalian kemari?"
"Sultan memerintahkan kami untuk menjemput anda,karena akan ada pertemuan kerajaan di rumah"jawab salah satu Bodyguard.
"CK...aku akan pulang nanti, sekarang aku harus ikut Lana ke rumahnya"Idris menjadikan Lana sebagai tameng.
"Maaf Tuan Muda,kami sudah mendapatkan intruksi dari Sultan. Agar membawa anda dan tidak mengindahkan alasan anda menolak ikut "
HUFFFF
Idris benar-benar kesal,padahal dia berencana untuk menyendiri di tempat favoritnya.Namun hal itu seakan sudah terbaca oleh Ayahnya.
"Ok...aku akan mengikuti kalian "Jawab Idris pada akhirnya.
"Kami akan membawa motor Anda , silahkan anda masuk ke dalam mobil yang sudah disediakan "Sang Bodyguard menunjuk ke tempat mobil yang sudah terparkir menunggu Idris.
"Kali ini kamu tidak akan bisa lolos"Bisiknya.
Idris datar saja,ia melangkah masuk ke dalam mobil dengan kesal.
*
Dari teras rumah,Idris sudah mendengar gelak tawa yang berjamaah.Hatinya seketika itu jadi tidak bersemangat.
Apalagi ditambah dengan masalah hati,ia semakin merasa terpuruk.
"Assalamualaikum.."Suara Idris langsung menghentikan tawa mereka.
"Nah itu dia sudah datang,RIS...sini Nak.. berikan salammu kepada Paduka Sultan Zubair"Ilyas melambaikan tangannya,Idris pun mendekat.Ia mencium tangan Zubair dan Istrinya dengan penuh takzim.
Idris baru menyadari jika ada seorang gadis bercadar menakup kedua tangannya sebagai tanda salam kepada Idris.Ia pun membalas salam dengan gerakan yang sama.
"Dia putri pamanmu, namanya Halimah Tus Sa'diyah.. Panggil dia dengan putri Halimah"Ilyas memperkenalkan gadis bercadar.Idris mengangguk kecil.
"Duduklah RIS..."Nicta menepuk ruang kosong disebelahnya.
Idris patuh,ia duduk di sebelah Ibunya.Sepasang mata diam-diam menatapnya malu-malu.
*
*
"Yas... sebenarnya kedatangan ku kesini, karena aku butuh bantuan mu"Zubair mengutarakan niatnya saat mereka berbicara tanpa ada orang lain selain istri-istri mereka.
"Bantuan apa?"tanya Ilyas tanpa curiga.
Zubair saling beradu pandang dengan istrinya Putri Zulaikha.Wanita yang masih terlihat cantik diusianya yang sudah tak lagi muda mengangguk sebagai isyarat.
"Kau tahu kan?aku dan permaisuri tidak memiliki anak laki-laki..Jadi aku ingin menjodohkan Halimah putri bungsu ku dengan Idris"
"Apa??? Bukankah kamu memiliki satu orang anak laki-laki "Tandas Ilyas.
"Itulah masalahnya, Pangeran Abdul Jailani adalah anak dari salah satu selirku.Dan mereka berkomplot dengan England.Jika sampai tahta jatuh ke tangan kubu Pangeran Abdul Jailani ?Maka kesultanan Brunei akan dikuasai oleh England secara tidak langsung "
"Karena itu,hanya Idris yang berhak atas Tahta selain diri mu.Dan Kubu Pangeran Abdul Jailani tahu akan hal ini.Mereka berspekulasi fifty fifty tentang semua ini, karena mereka tahu kamu tidak tertarik dengan kesultanan"
"Aku mohon padamu Ilyas...Nasib tahta kesultanan Brunei sekarang ada ditangan mu.Apa kamu rela Brunei Darussalam dikuasai oleh negara asing "
Ilyas tak segera berkomentar,ia saling berpandangan dengan istrinya.NICTA!
Raut wajah Nicta muram,itu pertanda ia kurang setuju.Tapi Ilyas dilema,karena ini bukan hanya menyangkut tahta.Tapi juga nasib rakyat Brunei Darussalam.
Nicta bisa membaca apa yang ada dalam pikiran suaminya.
"Maaf sebelumnya saya memang bukan orang dari keluarga Kesultanan .Saya hanya istri dari suami saya, tapi saya berhak mengemukakan pendapat saya karena Idris adalah anak saya"
"Yah silahkan, tidak apa-apa Puan"Tanggap Zubair.Ilyas pun membiarkan istrinya mengutarakan keinginannya.
"Sekali lagi saya minta maaf ,Saya hanya seorang ibu yang menginginkan anaknya bahagia. Idris sangat dekat dengan saya daripada dengan ayahnya ,dia selalu mencurahkan segala problem yang ia hadapi kepada saya . Dan setahu saya Idris sudah memiliki tambatan hati,jadi rasanya kurang efisien jika kita menikahkan Idris dengan wanita lain"
Zubair menatap Ilyas seperti menanyakan kebenaran tentang itu.
"Iya...itu benar... dan kemarin dia sempat meminta restu untuk menikahi seorang perempuan hanya saja gadis itu menolak"Ilyas menambahkan.
Zubair manggut-manggut...
"Kita coba saja utarakan dulu kepada Idris.Mungkin saja dia berkenan.Karena ini menyangkut negara Brunei Darussalam "Zulaikha mencoba untuk memaksa.
"Yah kita coba dulu"Zubair pun menyetujui.
Ilyas dan Nicta hanya bisa beradu pandang.