Blue Eyes

Blue Eyes
KEMARAHAN 101



Cahaya membuka matanya, kepalanya menoleh sangar ke arah datangnya kekuatan yang menarik sesuatu dalam dirinya.Cahaya menemukan dirinya sedang diperhatikan oleh orang-orang yang sama sekali tidak dikenali.Ia bangkit,kedua matanya bersinar nyalang.Cahaya marah,ia tidak suka dengan orang yang mengusik.


Sekali tangan nya mengibas, kekuatan itu berbalik menyerang Ilyas.Pria yang sudah sepuh itu terjungkal.


"Papa..."


"Kakek..."


"Mas.."


Seruan terdengar hampir bersamaan.Mereka gegas membantu Ilyas berdiri kembali semula.


"Siapa kalian ??"seru Cahaya.


"Nak...ini Ibumu"Soraya menepuk dadanya, Tatapannya penuh harap kepada anaknya.Cahaya mengernyitkan keningnya,ia menurunkan kedua kakinya menapak lantai.


Perhatian nya tertuju kepada wanita yang duduk di lantai dengan wajah kuyu.Namun mata wanita itu berbeda dengan yang lain.Biru dan indah... Serta sesuatu memancar dari dalam tubuh nya.


I"lbumu termasuk elemen hewan suci yang bernama Dewi Serigala suci.Dia manusia biasa yang dimasuki bola inti kehidupan.Jika kau bertemu dengan nya,kau akan bisa melihat bola tersebut"


Kata-kata Sanca terngiang-ngiang di telinga Cahaya . Tangannya terangkat perlahan,gerakan itu bersamaan dengan melayang nya tubuh Soraya.Semua yang berada di sana terperanjat.Apalagi tubuh Soraya seperti ditarik mendekat oleh Cahaya.


"Mama.."Fajar hendak menahan Ibunya,namun dicegah oleh Ilyas.


Setelah Soraya berada di hadapannya, Cahaya mengendus tubuh Soraya.Ia bisa menghidu elemen hewan suci yang bersemayam dalam tubuh Soraya.


Meskipun perilaku Cahaya terbilang aneh,namun Soraya membiarkan saja.


Setelah yakin, Cahaya mengembalikan Soraya ke sisi Idris.


"Jadi...kau adalah ibuku??"


Soraya tersenyum tipis...


"Mas ..dia Nur"Soraya Menunjuk dengan tangan gemetar.


"Iya sayang...dia putri kita"Idris mengangguk, hatinya bahagia sampai tidak bisa berkata-kata.


"Hey pak tua,tadi kau mau apakan diriku?hah?"Cahaya Mengangkat dagunya menatap Ilyas.


"Eh yang sopan dong sama orang tua,dia Kakekmu"Seru Fajar tak terima.


Cahaya memperhatikan Fajar , matanya menyipit.


"Kau siapa?"tanya Cahaya .


"Aku adikmu"Fajar menjawab dengan tegas.


"Oh..."hanya itu tanggapan Cahaya ,ia kembali menatap Ilyas"Kau dari tadi diam saja , padahal aku sedang bertanya padamu"


"Ca..yang sopan sama orang tua ya"Maulana mendekati Cahaya dengan suara lembut.


"Aku tidak bisa sopan dengan orang yang lancang padaku.Dia mengusikku saat aku dalam keadaan dibawah alam sadar "bantah Cahaya .


"Maafkan aku Nak,aku hanya ingin memastikan apakah kamu itu cucuku atau bukan"Ilyas menyahut.


"Apakah untuk memastikan itu kau harus bersikap lancang kepada gadis yang tengah pingsan ??"Cahaya berucap sengit.


"Sekali lagi aku minta maaf Nak...aku ingin menarik batu hitam kemerahan yang ku namai kecubung "


Cahaya menautkan kedua alisnya,agak lama ia terdiam.Seolah memikirkan sesuatu.Tiba-tiba dari genggaman tangannya keluar sinar hitam kemerahan.Saat Cahaya membuka kepalan tangannya, jimat kecubung ada disana.


"Ini kah yang kau cari ?"


Bibir Ilyas melengkung lebar,kini ia yakin.Dialah cucunya yang hilang.


"Ambillah..."Cahaya mengulurkan tangannya.


"Tidak Nak...itu milikmu"


Maulana tidak tahu sekarang harus bagaimana, ternyata gadis yang beberapa hari ini menemani hari-harinya adalah cucunya.


"Lana...Luna .. terimakasih"Soraya mengucapkan terima kasih dengan segala rasa yang tidak dapat diartikan.


Namun Lana tak merespon, tatapannya pilu terhadap Cahaya .


*


*


"Selama ini,kau tinggal dimana Nak?"Soraya bertanya setelah semua keluarga pindah berkumpul di ruang tamu.


"Hutan larangan"Cahaya menjawab singkat, spontan semua kaget.


"Hutan larangan ??Jadi kau dibawa oleh Iblis itu ke hutan larangan ??"


"Apakah kalian menyebut Ibuku sebagai Iblis ??"timpal Cahaya .


Soraya tercekat,jadi selama ini mengira Ibunya adalah Iblis itu.


"Ca..."Maulana menggenggam tangan Cahaya agar gadis itu tidak marah"Saat kamu dilahirkan,kamu diculik oleh Iblis "


"Tapi bukan Ibuku yang menculik ku,dia menolong ku dan merawat ku dengan baik"


Semua merasa semakin tidak mengerti.


"Seperti apa Ibu yang merawat mu?"Fajar memberanikan diri untuk bertanya.


"Seperti diriku, seorang manusia "jawab Cahaya tegas.


"Mungkin saja dia Iblis yang berubah menjadi manusia "Celutuk Fajar yang serta merta membuat raut wajah Cahaya berubah nyalang.


Ia tidak terima, Lucy disebut Iblis.Tangan Cahaya terangkat dengan sebuah cengkraman kuat.Fajar tiba-tiba melayang ke udara dalam keadaan seperti orang yang tengah dicekik.


"Fajar..."Luna menjerit,ia berusaha meraih anak itu.Namun tubuh Fajar tidak bisa dijangkau.


Ilyas turun tangan, dengan kekuatannya ia berusaha menolong Fajar.Akan tetapi sekali kebasan tangan Cahaya , Kekuatan Ilyas berbalik menghantam dirinya.


"Mas.."Nicta memekik panik melihat Ilyas memegang dadanya.Mulut Suaminya itu menyemburkan darah segar.


Fajar semakin lemah, kakinya meronta-ronta, paru-parunya kehabisan udara.


"Nur... tolong lepaskan adikmu..."Soraya memohon dengan wajah memelas.


"Apakah seperti ini bahasa kalian ?? menyebut seorang wanita yang berhati malaikat sebagai Iblis"


"Maafkan adikmu ..dia tidak tahu apa-apa Nak"Pinta Soraya.


Cahaya melepaskan Fajar dengan membanting tubuhnya ke atas sofa.


UHUK UHUK UHUK


Fajar terbatuk-batuk,ia menarik nafas sebanyak yang ia bisa.Luna sigap menghampiri,ia memeluk Fajar dengan penuh kasih.


"Kau tidak apa-apa ??"tanya Luna, Fajar menggeleng lemah.


"Sebaiknya kita semua harus membicarakan hal ini lain kali saja,kita tidak mau bukan sampai terjadi perang antara keluarga"Maulana menengahi.


Semua bertukar pandangan,mereka seolah-olah menyetujui apa yang dikatakan oleh Lana.


"Aku keluar dari hutan larangan,atas perintah Ibuku.Dia menyuruh ku untuk menemui Ibu yang melahirkan ku.Dia mengatakan,jika Ibu kandung ku sangat merindukanku"akhirnya Cahaya membuka kisahnya.


"Tapi kenapa baru sekarang ?? kenapa dia tidak mengembalikan kamu kepada ku sejak awal"ucap Soraya.


"Karena Ibuku menjagaku dari sikap kurang ajar serta kejam.Setelah aku keluar dari hutan larangan,aku menemukan banyak manusia yang tak berperasaan.Seperti dia!!"Cahaya menunjuk Fajar"Mulutnya sangat tajam dan tidak beretika "


"Adikmu masih kecil nak,dia belum mengerti apa-apa "Soraya membela Fajar.Yang secara langsung membuat Cahaya menarik sebelah bibirnya.


"Seperti inikah orang tua yang harus ku temui ??sikap kurang ajar mereka bela"Cahaya berucap ketus.


Soraya seperti ditampar oleh kata-kata Cahaya .Ia dibungkam sehingga tak bisa menyanggah.


"Ca...Ayo kita masuk ke dalam"Maulana cepat mengajak Cahaya untuk masuk.Ia ingin menghindari Cahaya bertindak lebih anarkis.Untung gadis itu patuh, ia mengikuti langkah Maulana.


Idris merangkul bahu istrinya,ia tahu Soraya pasti sakit hati dengan ucapan Nur.Tapi harus bagaimana lagi, Ucapan Fajar memang sedikit keterlaluan.