
Kujang menggosokkan badannya ke kaki Cahaya .Itu adalah cara binatang membujuk pemiliknya.
"Jangan sedih,,,aku tahu Lucy sangat menyayangi mu"
Cahaya tersenyum getir,ia memeluk Kujang dan menggosokkan bagian pipinya ke bulu-bulu halus di kepala Kujang.
"Aku bersyukur, disini aku bisa bertemu dengan mu.Aku sendirian Kujang,aku kesepian...hanya Sanca yang ikut dengan ku"
Soraya mendekati putrinya bersama dengan yang lain.
"Nak... maafkan Mama ya... kami disini juga sangat menyayangi mu sayang.Jadi jangan merasa sendiri lagi ya..."Soraya mengusap pundak Cahaya dengan lembut.
Cahaya Mengangkat wajahnya,ia tak berkomentar apapun.
"Iya Ca...aku saksi hidup bagaimana kau diculik saat baru saja dilahirkan oleh ibumu.Aku hampir mati demi melindungi mu, yang membuat aku heran.Kita sudah sering bertemu di hutan larangan,tapi kenapa aku tidak bisa mengendus kekuatan kecubung yang dikirim oleh kakek mu sebagai pelindung mu??"Kujang menjelaskan.
"Batu hitam kecil itu ?"tanya Cahaya"Hehehehe..."Ia terkekeh.
"Kok malah ketawa, emang ada yang lucu?"
"Iyalah,kata Ibu..baru saja batu itu datang menghampiri ku sudah ku telan bulat-bulat "
Semua terpelongo mendengar jawaban Cahaya.
"Jadi nggak mungkin kamu merasakan nya,karena ada disini"Cahaya menepuk perut nya.
Soraya tersenyum tipis melihat keakraban Cahaya dengan Kujang.Ia pun memberanikan diri untuk mengutarakan keinginannya.
"Nur... sayang... sepertinya kamu sangat akrab dengan Kujang.Bisakah kau tinggal bersama kami? Kujang juga akan tinggal di rumah kami"Bujuk Soraya.Cahaya tidak langsung menjawab,ia hanya saling pandang dengan si Kujang.
Disaat seperti inilah perasaan Maulana harap-harap cemas.Ia jadi tegang sendiri.
"Tidak...aku lebih nyaman disini,aku tidak mudah berbaur di tempat baru.Apalagi harus menghadapi orang-orang yang tidak suka padaku.Lebih baik aku disini..."Keputusan Cahaya spontan seperti menghantam dada Soraya.
"Mama merindukanmu Nak..."Rintih Soraya pilu.
"Ya'... tolong mengerti perasaan Cahaya ,biarkan dia membiasakan diri dengan kalian secara alami"Maulana cepat menimpali,Luna tersenyum tipis mendengar ucapan Kakaknya.Dia tahu kenapa Lana berkata demikian ?.
"Iya sayang...benar apa kata Lana"Idris membenarkan.
Soraya menatap putrinya dengan sendu,ia belai rambut Cahaya dengan perasaan sebak.Air matanya meluruh deras..Sudah tidak ada kata yang bisa diungkapkan.
Idris merangkul bahu istrinya dengan erat,ia bisa merasakan apa yang Soraya rasakan.Namun Idris hanya mampu berusaha menenangkan sang istri agar bisa lebih bersabar lagi.
"Aku akan sering membawa Cahaya datang ke rumah mu.. percaya lah"Maulana turut membujuk Soraya.
"Kau tidak akan membohongi ku kan?"Soraya ingin sebuah kepastian.
"Aku janji"Maulana menjawab dengan mantap.
"Kujang...apa kamu akan kembali ?"Ilyas buka suara.Kujang menatap Cahaya yang sedari tadi mengelus nya.
"Aku akan pulang sebentar lagi"Jawab Kujang.
Fajar yang mengintip ditemani sang nenek di balik dinding, tersenyum tipis.Ia tak dapat memungkiri bahwa ia senang jika Nur tidak tinggal bersama dalam satu rumah.
"Kelihatan nya kau senang sekali kakakmu tidak mau ikut pulang"tegur Nicta,Fajar tersentak kaget.Ia lupa jika ada neneknya di sisinya.
"Ah tidak Nek"Fajar mengelak.
"Jangan bohong,aku melihat kau tersenyum senang"cecar Nicta.Fajar langsung membuang muka, ia tidak ingin dicap sebagai orang tidak tahu diri jika kesenangannya ketahuan.
"Ohya..Fajar...kamu kenal Gibran ??"Maulana baru ingat jika sekolah yang didatangi oleh dirinya dan Cahaya tempo hari adalah sekolah Fajar.
Untung keluarga besar Ilyas belum pulang,jadi Maulana masih sempat untuk bertanya.
"Apa kamu tahu jika sekarang Gibran pindah ke luar negeri untuk berobat ??"Maulana bukannya menjawab,tapi memberikan pertanyaan lain kepada Fajar.
Anak itu menggeleng..
"Adam itu pacaran sama Nisya ya?"Cahaya juga bertanya,sekali lagi Fajar menggeleng.
"Setahuku Nisya pacaran sama Gibran.Kalau Adam sama sekali tidak punya pacar"jawab Fajar.
"Kau sangat yakin??"Cahaya ingin sekali lagi memastikan.
"Yakinlah,Adam temanku..."
Cahaya dan Maulana saling berpandangan satu sama lain.Mereka seakan mengatakan hal yang sama melalui mata masing-masing.Bahwa apa yang dikatakan Ibunya Adam itu benar.Jadi yang berbohong disini jelas adalah Nisya.
Cahaya mengulum senyum,ia menarik tangan Fajar menjauh dari yang lain.
"Ca..."Maulana ingin menyusul,tapi Cahaya menahannya.Semua jadi khawatir takut Cahaya akan berlaku kasar kepada Fajar.
"Kau mau apa sih??kok bawa aku kesini"Fajar sedikit takut.
"Kau adikku kan?"tanya Cahaya ,Fajar merasa aneh dengan pertanyaan itu.Tapi dengan terpaksa ia pun mengangguk.
"Kau bisa bantu aku?Aku butuh bantuan mu"
Fajar melirik dengan ekor matanya ke arah gerombolan keluarga nya yang tengah memperhatikan mereka berdua.
"Bantuan apa?"tanya Fajar kemudian.Cahaya menarik nafas lega,ia tersenyum tipis.
"Mencari keadilan untuk Adam,aku yakin Adam sengaja dibunuh dengan alibi salah sasaran.Dan aku tidak rela Gibran berleha-leha di luar negeri bebas dari hukuman"
Fajar terpana setelah tahu keinginan Cahaya .
"Ta-tapi aku takut...di sekolah tidak ada yang berani melawan Gibran dan teman-temannya "Jawab Fajar jujur.
"Aku tahu,tapi kamu punya kakak seperti aku.Jangankan 1 orang Gibran,100pun akan ku tebas jika dia berani mengganggu adikku "Cahaya melakukan gerakan seperti menyembelih lehernya.
"Apa dia mengancam Fajar??"pekik Luna,ia tak dapat menahan emosi.Luna menyingsingkan lengannya dan gegas melangkah untuk menghampiri dua Kakak beradik itu.
Namun Maulana cepat mencekal lengan Luna agar tidak ikut campur urusan mereka berdua.
"Lepasin Lan,dia akan membahayakan nyawa fajar"Luna menarik tangan nya dan berusaha melepaskan diri.
"Cahaya tidak akan melukai Fajar"Tandas Maulana.
"Kau lihat tadi dia hampir membunuh Fajar kan?"
"Hampir bukan berarti membunuh,sudah...kau diam saja disini.Kita lihat apa yang akan dilakukan mereka "
"Tenanglah Lun..."Ilyas turut menyuarakan pendapat.Akhirnya mau tidak mau,Luna pun diam.
"Kalau memang kau bisa melakukan nya,kenapa tidak kau lakukan? "sahut Fajar.
"Jika Gibran mati tanpa membuka kebenaran,maka keadilan untuk Adam tidak akan pernah terjadi.Semua orang akan menilai Gibran tidak bersalah "
Fajar mengerti apa yang dimaksud oleh Cahaya .
"Bagaimana ??Apa kamu Sudi membantu ??"Sambung Cahaya .Fajar mengangguk setuju, menciptakan senyuman lebar di wajah Cahaya .
"Terimakasih"Cahaya menepuk pundak adiknya dengan lembut.Fajar melihat dengan ekor matanya pundak yang di tepuk oleh Kakaknya.Sejenak ia merasakan bagaimana mempunyai seorang Kakak.
Cahaya tersenyum manis ketika ia bertentangan mata dengan adiknya.