
Pak Luyo tidak bisa berkata apa-apa melihat Idris ada disana.Ahmad pun tak jauh berbeda, ia menelan sakit dan cemburu dalam hatinya.
"Disini tidak ada kamar kosong lagi,saya sama Bapak tidur di surau depan rumah.Hanya ada dua kamar di rumah ini"tandas Ahmad,ia berharap Idris tidak ikut menginap di rumah ini.
"Emmm nggak apa-apa,saya bisa mencari hotel di sekitar sini.Bapak bisa istirahat di dalam kamar, kasihan Bapak sudah sepuh.Biar Soraya bersama saya menginap di hotel"Idris menjawab.
"Mana bisa begitu"Ahmad menimpali cepat "Kalian ngapain tidur di hotel bersama-sama"
Soraya dan Pak Luyo tak menanggapi apapun, mereka hanya menyimak dua pemuda itu berargumen.
Idris tersenyum menahan tawa.
"Kamu pikir kita akan tidur sekamar ??Ya nggak lah,aku akan menyewa dua kamar.Lagian besok pagi kita akan terbang ke Jakarta.Kalau perlu kita akan mencari hotel yang dekat dengan bandara.Bapak juga bisa ikut"
"Kalau tahu kami besok akan balik ,kenapa musti repot-repot kesini??"Ahmad mulai bernada sinis berbicara dengan Idris.
"Kenapa kamu yang nggak suka?? Aya'aja senang aku datang..sudah ah malas berdebat sama cunguk seperti kamu.Yuk sayang kita cari hotel saja,Bapak sekalian kita ajak..yah"Idris menghentikan perdebatan.
Soraya tak menjawab,ia beradu pandang dengan Pak Luyo .Pria yang sudah sepuh itu Mengangkat kedua pundaknya.Ia seperti enggan untuk berkomentar.
"Ayo sayang..."Idris mengajak dengan setengah memaksa.
"Ahmad,,, tolong persiapkan semua nya yah...kita malam ini tidur di hotel saja"Pinta Soraya lembut.Ahmad merasa kecewa dengan keputusan Soraya.Tapi ia tak bisa mengungkapkan perasaannya.
Wajahnya tertunduk masuk ke dalam kamar untuk mempersiapkan keberangkatan mereka.
*
Taxi pesanan sudah datang,tapi Ahmad tak kunjung keluar.Semua orang sudah standby menunggu di luar, orang tua Ahmad pun ada disana.
Karena belum juga nampak batang hidungnya,Soraya menyusul ke dalam.Terlihat pria itu duduk di bibir kasur dengan Tatapan kosong ke beberapa koper yang dipegangnya.
"Eh kok malah bengong disitu sih??Taxi udah nungguin dari tadi,kamu malah asyik melamun.Ayok berangkat"Soraya menahan kesal kepada perawat Bapaknya itu.Ia menarik satu koper miliknya.
"Non..."Suara Ahmad menahan langkah Soraya.
"Ada apa ?"Soraya bertanya dengan nada ketus.
"Kenapa Nona tiba-tiba ingin menginap di hotel ??apa karena pria itu??"
"Oh jadi dari tadi kamu melamun karena hal sepele? Ahmad... jujur ya aku sebenarnya kepikiran sama Bapak tidur di surau.Meskipun itu surau pribadi tapi aku nggak selesa.Kamu tahu kan Bapak udah sepuh,apa itu pantas?Dia majikan kamu loh Mad.Aku ngehargain kamu dengan tidak menginap di hotel,dan sekarang kamu malah tersinggung karena kita akan menginap di hotel?"
Ahmad tertunduk lesu.
"Maafkan saya Non.. karena rumah saya seperti ini, tidak pantas untuk Nona tinggali"
"Ini bukan masalah nggak pantas atau nggak ya Mad,tapi lebih kepada saling menghargai.Aku menghargai kamu,dan kamu menghargai keputusan aku.Lagian kan enak kalau kita bermalam di hotel yang dekat dengan Bandara.Jadi pagi-pagi kita tidak perlu terburu-buru.Mikirnya yang positif dong Maes,jangan katro gitu"
Soraya menarik kopernya keluar meninggalkan Ahmad,Pria itu hanya bisa memandangi punggung si gadis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setibanya di hotel, Idris menyewa dua kamar.Satu yang dobel kasur besar.Satu lagi untuk Soraya.
Usai makan malam, Idris mengajak Soraya mengobrol di Cafe yang disediakan hotel tersebut.Cafe itu berada di lantai tiga,bernuansa damai dan romantis.
Mereka duduk disebuah kursi yang menghadap ke pemandangan luas kota Surabaya.
"Kenapa kamu bisa yakin dan percaya jika aku tidak hamil ?"Soraya mengungkapkan rasa penasaran yang ia bendung.Idris tersenyum tipis.
"Maafkan aku sayang...ini karena terlalu minimnya pengalaman hidup . Aku curhat sama Mama ,terus dia bilang kalau hasil tes pack positif itu bukan berarti hamil. Karena dalam diri wanita itu selain dari hamil juga test pack bisa mendeteksi masa subur seorang perempuan. Dan Mama menyarankan agar membawa kamu ke dokter kandungan ,di sana bisa diperiksa lebih lanjut.Disitulah aku yakin kalau kamu nggak hamil,tapi kamu dalam masa subur"
"Jadi??kamu masih yakin kalau tes pack itu punya aku??"
"Kalau bukan punya kamu ??lalu punya siapa sayang?"
Soraya mengedikkan bahunya,
"Mungkin saja punya seorang siswi lain??Karena aku nggak merasa memakai benda seperti itu"
Idris mengangguk mengerti,
"Ya sudah tidak perlu dibahas lagi sayang.. pokoknya mulai sekarang, apapun itu bila ada sesuatu kesanksian .Kita harus mempercayai satu sama lain,jangan langsung menelan bulat-bulat yang belum tentu benar "
Soraya tersenyum mengejek.
"Itu kamu...bukan aku"
"Iya... terutama aku..."Idris meraih tangan Soraya,ia menggenggam nya erat di atas meja."Sayang...aku mencintaimu..."
"Jangan ngomong doang..."Tandas Soraya.
"Seandainya nih,dadaku adalah bom waktu.Mungkin sudah meledak, karena terlalu nya aku mencintai kamu"
Soraya mencebik menahan senyum.
"Serius sayang... sayang kita menikah yuk, meskipun secara diam-diam.Aku akan melamar kamu kepada orang tua mu"
Soraya refleks menarik tangan nya dari genggaman Idris.
"Aku nggak suka ah bahas begituan Mulu"
"Sayang aku serius...aku nggak mau kehilangan kamu "
"Tapi kita masih kecil...aku harus sekolah RIS"
"Aku juga sayang...kita nikah diam-diam,jadi kita mau ngapain aja udah nggak dosa"
"Emang kamu mau ngapain sih sampai ngebet kawin?? "
Idris tak bisa menjawab pertanyaan itu,ia berpikir apa perlu dia ngasih tahu kebenarannya sama Soraya.
Iya kalau Soraya mau ngerti??kalau malah merasa terkhianati??
"Nohhh diam kan???"Sambung SORAYA lagi.
"Keluarga besar ku di Brunei akan menikah kan aku dengan putri Halimah"Akhirnya Idris menguatkan mental untuk mengatakan sebagian kisahnya.
"Apa???"Soraya seperti tersengat aliran listrik.
"Karena itu,aku ingin memperjuangkan cinta ku padamu"Idris menggenggam tangan Soraya dengan sangat erat.
"Aku akan membunuhmu RIS,jika sampai kamu menikah dengan gadis lain"Dua bola mata Soraya menyilaukan cahaya, membuat Idris bergidik ngeri.Ia menelan saliva sebisanya.
"Aku...aku akan menemui orang tua mu,,,kita akan menikah ya sayang... Diam-diam...agar diantara kita ada ikatan yang kuat, yang tidak mudah dilerai dengan apapun "
Soraya tak bergeming, tatapannya menukik tajam ke anak mata lawan bicaranya.
"Mau kan sayang.."Pujuk Idris lagi.
"Jadi kau akan benar-benar dinikahkan dengan wanita lain?"
Idris membasahi kerongkongannya yang terasa mencekik.Lalu ia menggerakkan kepalanya sebagai jawaban.
Soraya menarik tangan dengan kuat,lalu beranjak pergi.