Blue Eyes

Blue Eyes
POCONG CANTIK 120



Fajar yang baru saja masuk ke area sekolah, sedikit kaget melihat teman-temannya yang sebelumnya ijin sakit, tetiba sudah berada di sekolah dengan keadaan segar bugar.


Mereka juga bermain dengan penuh semangat.


"Apa ini karena Kakak?"Gumamnya dalam hati"Waahh kalau itu benar, Kakakku sangat hebat"


Fajar jadi bangga dengan dirinya sendiri karena memiliki seorang Kakak yang sangat mumpuni.


*


*


Maulana dan Cahaya baru saja akan pulang.Mereka mendorong pintu dan Tiba-tiba sosok wanita meringkuk di depan mereka sambil sesenggukan.


Maulana dan Cahaya saling berpandangan satu sama lain.Mereka tidak mengerti kenapa wanita itu menangis?


"Permisi...maaf,anda siapa ya?"sapa Maulana.Sosok itu mendongak perlahan...Maulana tersentap kaget.


"Kenapa ??"tanya Cahaya curiga.


"Emmm"Maulana menelan saliva "Dia hantu atau bukan ?"Maulana berucap dengan penuh kehati-hatian.


Cahaya melirik sosok gadis yang jelas bukan lagi manusia.Namun ia terlalu cantik untuk disebut sebagai hantu.



Kulitnya putih,namun pucat.Apalagi di tambah senyuman manis,Cahaya saja mengakui jika pocong yang satu ini berbeda dengan yang lain.


Pocong cantik itu beringsut dengan susah payah untuk bangun.


"Bantuin dong"pintanya memohon,Maulana refleks hendak membantu.Tapi ia juga salah tingkah dengan Tatapan Cahaya yang mengerikan.Akhirnya Maulana lebih memilih diam.


Cahaya mengulurkan tangannya untuk membantu.


"Woy..kau lihat tanganku,mana bisa meraih tangan mu"seru pocong cantik.Tanpa banyak bicara,Cahaya langsung menarik buntalan kain di atas kepala si pocong hingga pocong itu bisa berdiri.


"Woy woy... tolong.. woy..anjirrr kasar banget sih Lo"


"Kau mau apa?"cetus Cahaya tanpa perduli runtukan si pocong.


"Aku butuh bantuan mu"


"Kenapa kau langsung datang kesini ? siapa yang memberi tahu mu?"


"Kau sangat terkenal dikalangan kami,Anak topeng legendaris yang sudah turun gunung.Saat aku baru saja mati,dan menangis meratapi nasib yang sangat tidak adil ini.Mbak kuntilanak sudah mencadangkan agar aku mencari mu di rumah sakit ini.Tolonglah aku,tegakkan keadilan untuk ku"Pinta si pocong cantik dengan wajah memelas.


"Emmm maaf...gimana kalau kita bicara di dalam saja?? Rasanya aneh bagi manusia yang tidak bisa melihat mu"Maulana menimpali yang langsung mendapatkan jelingan tajam dari Cahaya .


"Ah aku tidak bermaksud apa-apa, tapi ini benar-benar aneh.Banyak orang lalu lalang di depan kita"Maulana menjelaskan dengan sedikit gugup.


"Ya sudah, masuklah "Cahaya berputar haluan, kembali masuk ke dalam ruangan.


"Sekarang!, Cerita kanlah apa masalahmu ?"Cahaya berdiri menyender di dinding dengan tangan menyilang di dada.Maulana duduk di kursi kerjanya, sedangkan si pocong cantik berdiri di antara mereka.


"Namaku Anies,aku dari kampung merantau ke kota untuk mengejar mimpi ku ingin menjadi seorang aktris.Dan aku bertemu dengan seorang produser film bernama Irawan.Disana kami saling berkenalan,ia bersedia mengorbitkan aku.Karena selain aku pintar,wajahku juga sangat menjual.Dan akhirnya mimpi ku tercapai, Meskipun belum tenar.Tapi aku sudah memiliki job syuting"


"Suatu hari, Irawan mengutarakan keinginannya untuk berhubungan lebih serius dengan ku.Aku pun tak menolak, karena jujur aku tertarik sebab dia kaya raya.Aku begitu mencintai Irawan,dan sanggup melakukan apapun untuk nya.Sampai ku berikan kegadisan ku untuk nya"


Pocong cantik itu menundukkan wajahnya.


"Apa dia yang telah membunuh mu setelah tahu kau hamil??"Cahaya memotong kalimat si pocong,tapi si pocong menggeleng pelan.


"Sabar... dengarkan dulu ceritanya "timpal Maulana .


"Habis kelamaan..."tukas Cahaya .


"Ya sabar..."


"Kamu bilang sabar-sabar,ya kamu enak kan.Makin lama dia bercerita makin lama kamu ngeliatin dia"


"Loh kok gitu..."


Cahaya mendengus dingin.


"Ya sudah.. lanjutkan "Maulana mengalihkan pembicaraan.Si pocong mengiyakan.


"Saat pertama kali melihatnya,aku mengelak dengan mengatakan aku tidak mengenalnya.Aku lihat dia kaget , karena dia sangat antusias untuk bertemu setelah sekian lama berpisah"


"Dia di usir oleh bodyguard Mas Irawan dengan sangat kejam.Dan di depan matanya, Irawan mencium serta memelukku mesrah"


"Kau kejam sekali "gumam Cahaya .


"Iyah...aku tahu dan menyadari hal itu"jawab Si pocong.


"Lalu dari mana kau berpikir aku akan menolong mu??"ketus Cahaya .


"Aku mohon...Aku mohon.."Si pocong cantik menjatuhkan tubuhnya berlutut di depan Cahaya .


"Eh..."Maulana refleks berdiri,ia menghela nafas berat melihat si pocong sudah berlutut"Nanti ribet lagi pas mau bangun"


"Nggak ribet kok.. tinggal tarik aja "Cahaya serta merta mempraktekan ucapan nya dengan menarik buntalan kain di atas kepala si pocong.


"Eh eh eh...."Si pocong tak berdaya diperlakukan seperti itu oleh Cahaya .


"Ya jangan gitu dong sayang..."bujuk Maulana ,dan itu berhasil.Panggilan sayang yang dia ucapkan mampu meluluhkan hati Cahaya .


"Tolong lah...bujuk dia agar mau membantu ku"Eh si pocong justru melompat merapati tubuh Maulana .Pria itu auto salting.


"Eh jangan genit-genit kau"Cahaya mendorong di pocong hingga tersungkur ke lantai.Ia berdiri di depan Maulana agar si pocong tidak bisa menghampiri Maulana lagi.


Si pocong geser kanan geser kiri berusaha bangun.Tapi itulah kelemahannya,ia akan susah bangun karena tangan dan kakinya terikat.


"Tolong woy... aku nggak bisa bangun..."Rintih si pocong.


"Sayang... bantuin dia kasihan"


"Kau mau merayuku"Cahaya menjeling tajam.


"Sayang...jangan aneh-aneh deh,masak kamu cemburu sama pocong sih... nggak masuk akal banget.Aku masih waras sayang,,,"


Cahaya mulai terpengaruh...


"Lagian dia nggak bisa nyaingin kamu di hati aku sayang.Meskipun dia cantik,bukan berarti mampu membuat aku berpaling dari kamu.Kamu sudah cantik,nyata lagi"


Cahaya semakin luluh,ia pun mendekati si pocong lalu mengangkat batang lehernya agar si pocong bisa berdiri kembali.


"AAHHHH terimakasih"Si Pocong kegirangan